|
Kisah tentang Kardinal Kung adalah kisah tentang
seorang gembala iman yang setia dan seorang pahlawan. Kardinal Kung
menolak untuk menyangkal Tuhan dan menyangkal Gereja Katolik meskipun
sebagai konsekuensinya ia dihukum penjara seumur hidup oleh pemerintahan
komunis Cina.
Berbulan-bulan sebelum penangkapannya pada
tahun 1955, Uskup Kung bersikeras untuk tetap berada bersama-sama
para imam dan ditengah-tengah umatnya meskipun berulang-kali beliau
ditawarkan untuk keluar dari daratan Cina secara diam-diam. Dia
adalah seorang pemimpin yang membawa inspirasi bagi berjuta-juta
penduduk Cina untuk mengikuti teladan kesetiaannya terhadap iman
dan Gereja Katolik.
Dia adalah orang yang memelihara eksistensi
Gereja Katolik di negara komunis selama 50 tahun. Dia adalah orang
yang menjadi simbol bagi para pemimpin rakyat di seluruh dunia yang
berjuang bagi kebebasan beragama. Tiada kisah penindasan agama atau
pelanggaran hak-hak azasi di Cina yang tidak menyinggung sedikitnya
beberapa kata yang menyangkut Kardinal Kung.
Uskup Kung telah menjabat sebagai Uskup Shanghai
dan Administrator Apostolik bagi dua keuskupan lainnya hanya selama
lima tahun saja sebelum dia ditangkap oleh pemerintah Cina. Dalam
waktu lima tahun saja Uskup Kung telah menjadi musuh yang paling
ditakuti oleh komunis Cina. Dialah yang menjadi pusat perhatian
dan devosi dari segenap umat Katolik di daratan Cina yang pada waktu
itu jumlahnya sekitar 3 juta jiwa. Dia sangat dihormati oleh rekan-rekan
sesama Uskup di Cina, dan dia telah memberi inspirasi bagi ribuan
umat untuk memberikan nyawanya kepada Tuhan. Dalam menentang Asosiasi
Katolik Patriotik Cina, sempalan gereja Katolik yang didirikan oleh
pemerintahan komunis, Uskup Kung secara pribadi membimbing Legio
Maria, suatu kerasulan awam Katolik yang didedikasikan bagi Santa
Perawan Maria. Sebagai hasilnya, banyak anggota-anggota Legio Maria
yang berani terancam resiko ditangkap demi nama Tuhan, demi Gereja
Katolik dan demi Uskup Kung. Ratusan anggota-anggota Legio Maria,
termasuk banyak mahasiswa-mahasiswi, yang ditangkap dan dihukum
kerja paksa selama 10, 15, dan 20 tahun.
Ditengah-tengah penindasan tersebut, Uskup
Kung mendeklarasikan tahun 1952 sebagai Tahun Maria di Shanghai.
Selama tahun itu, diadakan pengucapan doa Rosario selama 24-jam
secara terus-menerus di hadapan sebuah patung Santa Maria dari Fatima,
yang mana patung tersebut dibawa berkeliling dari satu paroki ke
paroki lainnya di Shanghai. Patung Maria yang kudus tersebut akhirnya
tiba di Gereja Katolik Kristus Raja dimana penangkapan besar-besaran
terhadap para imam baru saja terjadi sebulan yang lalu. Uskup Kung
mengunjungi gereja tersebut dan memimpin doa Rosario secara pribadi
sementara ratusan polisi bersenjata lengkap berdiri menyaksikan.
Pada akhir doa Rosario, sambil memimpin umat, Uskup Kung berdoa:
"Santa Maria, kami tidak meminta suatu mukjijat kepadamu. Kami
tidak meminta engkau supaya menghentikan penindasan. Tetapi kami
memohon engkau untuk mendukung kami yang sangat lemah ini."
Menyadari bahwa dia dan para imamnya akan segera
ditangkap, Uskup Kung membina ratusan katekis (guru agama) untuk
meneruskan iman Katolik di keuskupan bagi generasi di masa depan.
Usaha-usaha yang gagah berani dari para katekis
ini, kemartiran mereka dan juga para umat dan kaum religius Katolik
membawa andil yang besar bagi pertumbuhan yang kuat dari Gereja
Katolik bawah tanah di Cina sekarang ini. Uskup Kung yang menempati
tempat khusus dalam hati para umatnya, disarikan dengan tepat dalam
ucapan yang dikeluarkan oleh sejumlah mudika di Shanghai pada tahun
1953 pada saat jambore mudika tahunan: "Uskup Kung, dalam kegelapan,
engkau telah menerangi jalan kami. Engkau membimbing kami dalam
perjalanan kami yang penuh marabahaya. Engkau menopang iman kami
dan tradisi-tradisi Gereja. Engkau adalah pondasi batu karang atas
Gereja di Shanghai."
Pada tanggal 8 September 1955, media berita
di seluruh dunia melaporkan berita yang mengejutkan tentang penangkapan
Uskup Kung bersama lebih dari 200 imam dan para pemimpin Gereja
lainnya di Shanghai. Berbulan-bulan setelah penangkapannya, dia
dibawa ke hadapan orang banyak dalam acara pertemuan yang disponsori
oleh pemerintah yang diadakan di dalam stadium pacuan anjing di
Shanghai. Beribu-ribu orang diperintahkan untuk menghadiri dan mendengar
pengakuan Uskup Kung atas "kejahatan-kejahatannya". Dengan
kedua tangannya terikat di belakang dan mengenakan piyama khas Cina,
bapa Uskup yang tingginya hanya 150cm didorong kedepan ke hadapan
corong mikrofon untuk mengaku "dosa-dosanya." Para polisi
khusus yang menjaganya tercengang-cengang ketika mereka mendengar
sang Uskup berteriak dengan keras: "Terpujilah Kristus Raja,
Terpujilah Sri Paus". Untuk itu para hadirinpun segera membalas
berteriak: "Terpujilah Kristus Raja, Terpujilah Uskup Kung."
Uskup Kung segera diseret masuk ke sebuah mobil polisi dan menghilang
dari pandangan dunia sampai ia diadili pada tahun 1960. Uskup Kung
dihukum penjara seumur hidup.
Pada malam sebelum dia dibawa menghadap ke
pengadilan, Jaksa Penuntut kembali membujuk agar Uskup Kung bersedia
menerima tawaran pemerintah untuk memimpin gereja yang independen
dan untuk mendirikan Asosiasi Patriotik Cina. Dia menjawab: "Saya
adalah seorang Uskup Katolik Roma. Jika saya menyangkal Sri Paus,
bukan hanya saya bukan lagi seorang Uskup, saya bahkan bukan lagi
seorang Katolik. Kalian bisa memotong kepala saya, tetapi kalian
tidak bisa memisahkan saya dari tugas kewajiban saya."
Uskup Kung menghilang di balik penjara selama
tiga puluh tahun. Selama tiga puluh tahun tersebut dia menghabiskan
banyak waktu-waktu panjang dalam sel isolasi. Permintaan yang bertubi-tubi
dari kelompok hak azasi dan religius internasional dan pemimpin-pemimpin
negara untuk mengunjungi Uskup Kung selalu ditolak oleh pemerintah
komunis. Dia tidak pernah diperbolehkan untuk menerima pengunjung,
bahkan termasuk para anggota keluarganya, surat-surat, maupun uang
untuk membeli barang-barang kebutuhan mendasar, yang diperbolehkan
bagi para tahanan lainnya.
Usaha-usaha bagi pelepasan dirinya oleh keluarganya
yang dipimpin oleh keponakannya, Joseph Kung, juga oleh organisasi-organisasi
pembela hak azasi seperti Amnesti Internasional, Palang Merah, dan
Pemerintah Amerika Serikat, tidak pernah berhenti. Pada tahun 1985,
dia dibebaskan dari penjara untuk menjalani 10 tahun tahanan rumah
dibawah pengawasan uskup-uskup dari Asosiasi Patriotik yang menghianati
dia, menghianati Sri Paus dan yang mengambil alih keuskupan yang
dulu dipimpinnya. Dalam suatu artikel yang muncul segera setelah
dia dilepaskan dari penjara, koran New York Times melaporkan
bahwa pernyataan yang tidak jelas dari kantor berita Cina menyiratkan
bahwa kalangan penguasa, dan bukannya sang Uskup, yang telah melunakkan
posisinya. Setelah dua setengah tahun menjalani tahanan rumah, akhir
dia secara resmi dibebaskan. Akan tetapi, tuduhan yang dijatuhkan
kepadanya sebagai kontra-revolusioner, tidak pernah dihapuskan.
Pada tahun 1988, keponakannya, Joseph Kung, berangkat ke Cina dua
kali dan mendapatkan ijin untuk mengawal Uskup Kung ke Amerika untuk
menjalani perawatan medis.
Menjelang pembebasannya dari penjara, Uskup
Kung diperbolehkan untuk mengikuti jamuan makan yang diadakan oleh
pemerintah Shanghai untuk menyambut Kardinal Jaime Sin, Uskup Agung
Manila, Filipina, yang sedang mengadakan kunjungan persahabatan.
Ini adalah untuk pertama kalinya Uskup Kung bertemu dengan seorang
Uskup dari Gereja Katolik yang universal, sejak ia ditahan di penjara.
Kardinal Sin dan Uskup Kung diberi tempat duduk yang jauh berseberangan
dan dipisahkan oleh lebih dari 20 anggota partai komunis. Tidak
ada kesempatan bagi sang Uskup untuk berbicara secara pribadi dengan
Kardinal Sin. Selama makan malam, Kardinal Sin mengajak setiap orang
untuk menyanyikan sebuah lagu untuk memeriahkan acara. Ketika tiba
giliran Uskup Kung untuk bernyanyi di hadapan para pejabat pemerintah
Cina dan para uskup Asosiasi Patriotik, dia menatap ke arah Kardinal
Sin dan menyanyikan: "Tu es Petrus et super hanc petram
aedificabo Ecclesiam" (Engkau adalah Petrus dan di atas
batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku), suatu nyanyian iman
yang memproklamasikan otoritas tertinggi Sri Paus. Uskup Kung menyampaikan
kepada Kardinal Sin bahwa selama sepanjang masa penahanannya, dia
tetap setia kepada Tuhan, kepada Gereja-Nya, dan kepada Sri Paus.
Setelah jamuan makan malam, Aloysius Jin, Uskup
Shanghai dari Asosiasi Patriotik Katolik Cina, menegus Kardinal
Kung, "Apa yang engkau lakukan? Menunjukkan posisimu?"
Kardinal Kung dengan tenang menjawab, "Tidak perlu untuk menunjukkan
posisiku. Posisiku tidak pernah berubah."
Kardinal Sin dengan segera membawa pesan Kardinal
Kung kepada Bapa Suci Sri Paus dan mengumumkan kepada dunia bahwa
kecintaan Uskup Kung bagi Gereja dan bagi umat tidak pernah berkurang
meskipun mengalami penderitaan, kesengsaraan dan isolasi yang tidak
terperikan.
Mendiang Uskup Walter Curtis, Uskup dari Bridgeport,
negara bagian Connecticut pada waktu itu, mengundang Uskup Kung
untuk tinggal bersama dengan imam-imam yang sudah pensiun dari keuskupan
Bridgeport setibanya di Amerika Serikat. Uskup Kung tetap menjadi
tamu di keuskupan tersebut - yang nantinya dipimpin oleh Uskup Edward
Egan - selama sembilan tahun sampai bulan Desember 1997.
Ketika Sri Paus Yohanes Paulus II mempersembahkan
topi merah tanda jabatan Kardinal bagi Kardinal Kung di konsistori
pada tanggal 29 Juni 1991 di Vatikan, Uskup Kung yang berusia 90
tahun pada waktu itu, berdiri dari kursi rodanya, meletakkan tongkatnya
ke samping, dan berjalan menaiki anak tangga untuk berlutut di depan
kaki Sri Paus. Sri Paus yang jelas tersentuh oleh peristiwa ini,
mengangkat Uskup Kung untuk bangkit berdiri, memberikan topi Kardinal
kepada Uskup Kung, dan berdiri dengan sabar menanti sampai Kardinal
Kung kembali ke kursi rodanya, di tengah-tengah gemuruh suara 9000
undangan yang berdiri dan bertepuk tangan selama tujuh menit di
dalam Balai Audiensi di Vatikan.
Selama dua belas tahun terakhir, Kardinal Kung
merayakan Misa Kudus kepada umum di banyak paroki, dalam konferensi-konferensi
Katolik dan di televisi. Dia memberikan wawancara dan homili di
seluruh penjuru Amerika Serikat untuk menarik perhatian dunia yang
bebas terhadap penindasan yang masih berlangsung terus terhadap
Gereja Katolik di Cina. Dia tetap merupakan sumber inspirasi bagi
9-10 juta umat Katolik bawah tanah di Cina dan musuh yang ditakuti
oleh pemerintah komunis Cina. Dalam suatu wawancara dengan Chinese
Press di New York pada tanggal 12 Februari 1998, Mr. Ye Xiaowen,
Direktur Biro Agama dari Cina, menyatakan: "Kung Pin Mei telah
melakukan tindakan kejahatan yang serius dengan memecah belah negara
dan membawa bahaya bagi warga negara." Sebulan sesudahnya pada
bulan Maret 1998, pemerintah komunis menyita paspor sang Kardinal
yang pada waktu itu sudah berumur 97 tahun, dan secara resmi mengucilkannya.
Kardinal Kung tidak pernah berhenti untuk mendoakan
mereka yang telah memisahkan diri dan bergabung dengan Asosiasi
Patriotik yang didirikan oleh pemerintah Cina. Sebelum melakukan
perjalanan ke Roma untuk menghadiri Konsistori pada tahun 1991,
Uskup Kung menyiarkan ucapannya melalui media radio Voice of
America, mengundang para uskup Asosiasi Patriotik Cina untuk
kembali ke Kota Abadi bersamanya.
Dalam majalah Mission pada tahun 1957,
mendiang Uskup Fulton Sheen - seorang Uskup yang terkenal di Amerika
Serikat - menulis demikian, "Di Barat ada Mindszenty, tetapi
Timur punya Uskup Kung. Tuhan dimuliakan lewat para kudus-Nya."
Yang Mulia, Ignatius Kardinal Kung Pin Mei
wafat pada jam 3.05 dini hari pada tanggal 12 Maret 2000 di Stamford,
Connecticut, Amerika Serikat. Beliau berumur 98 tahun.
|