 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Mukjijat Pentakosta di Medjugorje
Father Andrew Cogan adalah seorang romo
yang saleh dari Keuskupan Metuchen, New Jersey, sampai ia meninggal pada
tanggal 20 February 1991. Dia tidak meninggalkan dunia ini, sebelum Santa
Perawan Maria, kepada siapa ia secara tersembunyi berdevosi, menyentuh
dirinya dengan cara yang sangat spesial. Suatu ketika di pertengah tahun
1980-an ketika fenomena Medjugorje secara relatif masih baru, Father Cogan,
yang pada waktu itu melayani sebagai pastor di gereja Katolik St. Ann
di Hampton, New Jersey, melakukan perziarahan ke dusun yang terpencil
tersebut.
Pada suatu ketika, dia dan beberapa
orang lain bersamanya, sedang ditengah perjalanan untuk menuju ke tempat
penampakan malam hari dan sekaligus menghadiri Misa Kudus. Di tengah perjalanan,
terjadi kecelakaan dimana salah satu jarinya luka berat terpotong oleh
pinggiran pagar yang tajam. Dia segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan
medis di rumah sakit setempat. Setelah memeriksa lukanya, dokter menyatakan
bahwa lukanya cukup serius dan perlu dilakukan operasi untuk menyembuhkan
jari tersebut seperti sedia kala.
Pada hari berikutnya, sebelum dia mendapat
kesempatan untuk kembali menemui dokter tersebut, dia menghadiri penampakan
di malam hari dan Misa Kudus. Suatu ketika setelah Misa, dia menyadari
bahwa jarinya telah sembuh toltal. Dia tidak lagi merasakan sakit sama
sekali dan jari tersebut tampak sehat seperti sedia kala. Akan tetapi,
peristiwa ini hanyalah awal dari suatu pengalaman yang lebih luar biasa.
Bagi mereka yang mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi di Medjugorje
mungkin telah mengetahui bahwa salah satu inti pesan Bunda Maria di Medjugorje
adalah supaya umat Katolik sering-sering menerimakan sakramen pengakuan
dosa (sakramen tobat). Sebagai akibatnya, ada antrian yang panjang oleh
orang-orang yang menunggu giliran mendapat sakramen tobat. Hal ini saja
sudah merupakan suatu keajaiban pada masa kini!
Beberapa waktu sesudahnya, setelah jarinya
disembuhkan secara mukjijat, Father Cogan merasa terdorong untuk turut
menerimakan sakramen tobat, untuk membantu mengurangi antrian panjang
yang sedang ditangani oleh romo-romo lainnya. Tentunya di suatu tempat
perziarahan modern di tengah-tengah benua Eropa, bisa dipastikan ada banyak
peziarah yang tidak berbahasa Inggris. Begitu juga hari itu tidak ada
pengecualian. Secara tidak disengaja, Father Cogan lupa untuk memasang
tanda bahasa-bahasa yang dikuasainya. Segera setelah dia membuka pelayanan
penerimaan sakramen tobat, para peziarah dari berbagai bahasa yang berbeda-beda
datang untuk mengantri. Meskipun Father Coban pernah menjadi misionaris
di negara asing, dia menyadari bahwa dia hanya mampu bercakap-cakap dalam
dua bahasa, Inggris dan Spanyol. Ketika orang-orang yang mengantri mulai
mengakukan dosa-dosa mereka masing-masing kepadanya, mereka mengaku dosa
dalam berbagai bahasa antara lain: Jerman, Belanda, Yunani, Polandia,
Italia, Kroasia, Slavik, dan sejumlah bahasa lainnya. Father Cogan terheran-heran
bahwa dia dapat mengerti kata-kata mereka yang diucapkan dalam bahasa
mereka masing-masing! Meskipun Father Cogan berbicara kepada mereka dalam
bahasa Inggris, dia dengan heran menyadari bahwa sang peniten (yang menerima
sakramen tobat) ternyata dapat mengerti kata-katanya, bahkan meskipun
mereka nyata-nyata tidak bisa berbahasa Inggris. Father Cogan amat sangat
tersentuh oleh kejadian ini dan menyadari bahwa ia sedang mengalami suatu
mukjijat yang luar biasa. Father Coban mengalami mukjijat yang hanya diketahui
oleh dirinya, yang diberikan kepadanya sebagai suatu tanda kasih Bunda
Maria kepada para imam puteraNya.
Father Cogan dikaruniai dengan pengalaman
mukjijat Pantekosta, dimana apa yang terjadi adalah kebalikan dari peristiwa
menara Babel. Dalam kisah menara Babel, manusia membangun suatu menara
untuk mencapai langit sebagai tanda bahwa dengan kemampuan teknologi mereka,
mereka bisa sama berkuasanya seperti Tuhan dan tidak lagi membutuhkan
diri-Nya. Mereka memiliki intelejensi dan kepandaian sebagai suatu berhala
bagi mereka. Apa lagi yang mereka butuhkan?
Pada saat Pantekosta, para Rasul yang
dipimpin oleh Bunda Maria, menunggu dengan penuh kasih, kerendahan hati,
dan kesabarani bagi kedatangan Roh Kudus. Dengan menunggu, menunjukkan
tanda kerendahan hati dan pengerti Gereja bahwa tidak hanya kita membutuhkan
Tuhan, tetapi kita menginginkan-Nya. Sebagai balasannya, Kristus mengirimkan
Roh Kudus seperti yang telah dijanjikan. Kisah Para Rasul menceritakan
kepada kita bahwa para Rasul mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa
asing, dan bersaksi atas dorongan Roh Kudus. Mereka yang menjadi saksi
peristiwa tersebut sangat keheranan, karena mereka masing-masing mendengar
orang-orang ini berbicara dalam bahasanya sendiri, dan mereka dapat mengerti
apa-apa yang dikatakan.
Tuhan menjadikan manusia tidak bisa
mengerti satu sama lain, sebagai hukuman karena ingin menggantikan Tuhan,
dengan hasil karya usaha sendiri. Pada saat Pantekosta, Tuhan mengirim
Roh KudusNya untuk mempersatukan manusia dalam kasih dan saling pengertian,
ketika melihat Putera-Nya yang setia. Bahkan ketika Bunda Maria berdoa
bersama-sama dengan para Rasul pada saat Pantekosta bagi datangnya Roh
Kudus, demikian juga Dia bersama Father Cogan, berdoa bagi karunia Roh
Kudus untuk melakukan karya yang luar biasa untuk menguatkan iman Gereja-Nya
dengan cara seperti ini. Datanglah Roh Kudus! Dalam bertekun terhadap
permintaan-permintaan Santa Perawan dari Medjugorje untuk berdoa bagi
datangnya Roh Kudus pada Pantekosta Kedua, kita berdoa doa yang Dia ajarkan
kepada Father Steffano Gobbi (pencetus Gerakan Imam Maria): "Datanglah
Ya Roh Kudus, datanglah melalui pengantaraan yang penuh kuasa oleh Hati
Maria Immakulata, mempelaiMu yang terkasih." +++
|