 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Rahasia Ketiga - Fatima
Berikut ini adalah salinan teks dari Sekretariat
Negara, Kardinal Angelo Sodano, yang dipresentasikan pada saat beatifikasi
Jacinta dan Francisco pada hari ini.
VATICAN INFORMATION SERVICE - Edisi khusus kunjungan
Sri Paus ke Fatima
KARDINAL SODANO MEMBACAKAN NASKAH "RAHASIA KETIGA" FATIMA, KOTA
VATIKAN, 13 MEI 2000
Pagi hari ini pada akhir Misa di tempat ziarah Fatima,
Portugal, dimana Sri Paus membeatifikasi anak-anak gembala, Jacinta dan
Francisco, Sekretariat Negara Kardinal Angelo Sodano membacakan, dalam
bahasa Portugis, sebuah teks menyangkut rahasia ketiga Fatima. Bunyi selengkapnya
naskah tersebut:
"Pada penutupan dari perayaan yang khidmat
ini, saya terdorong untuk mempersembahkan kepada Bapa Suci kita Yohanes
Paulus II yang kita kasihi, mewakili semua hadirin, ucapan selamat dengan
sepenuh hati bagi ulang tahunnya yang ke-80 yang akan datang dan untuk
berterima kasih kepadanya atas pelayanan pastoralnya yang luar biasa bagi
kebaikan segenap Gereja Allah yang Kudus. Pada kesempatan kunjungannya
ke Fatima, Yang Mulia Sri Paus telah mengarahkan saya untuk membuat suatu
pengumuman kepada kalian. Seperti kalian ketahui, tujuan dari kunjungannya
ke Fatima adalah untuk membeatifikasi dua 'anak-anak gembala'. Meskipun
begitu, dia juga berkeinginan agar peziarahannya ini juga sebagai tanda
pembaruan rasa terima kasih kepada Bunda Maria atas perlindunganNya selama
tahun-tahun jabatannya sebagai Sri Paus. Perlindungan ini agaknya juga
berhubungan dengan apa yang disebut sebagai 'bagian ketiga' dari rahasia
Fatima.
Bagian teks tersebut mengandung nubuat penglihatan
yang serupa seperti yang ditemukan dalam Kitab Suci, yang mana isinya
tidak menceritakan dengan jelas detail-detail kejadian di masa depan,
melainkan lebih merupakan sintesis dan rangkuman dari suatu kesatuan rangkaian
kejadian di latar-belakang dalam suatu kurun waktu dalam suatu urut-urutan
dan durasi yang tidak ditentukan. Oleh sebab itu, teks tersebut harus
diinterpretasikan dalam suatu kunci simbolis. Penglihatan Fatima diatas
segalanya terutama menyangkut perang yang dilancarkan oleh system ateisme
terhadap Gereja dan umat Kristen, dan menjelaskan mengenai kesengsaraan
yang sangat dahsyat yang dialami oleh para saksi-saksi iman pada abad
terakhir dari milenium kedua. Itulah Jalan Salib yang tidak berkesudahan
dibawah pimpinan para Paus di abad ke-20.
Menurut interpretasi para 'anak-anak gembala', yang
mana baru-baru ini juga dikuatkan oleh Suster Lucia, yang dimaksud dengan
'uskup berpakaian putih' adalah Sri Paus. Sebagaimana dia membuka jalan
dengan usaha yang keras menuju Salib di tengah-tengah mayat-mayat mereka
yang menjadi martir (para uskup, para imam, dan kaum biarawan/biarawati
dan juga banyak kaum awam), diapun juga jatuh ke bumi, agaknya meninggal,
dibawah rentetan tembakan senjata api.
Setelah usaha pembunuhan pada tanggal 13 Mei 1981,
tampak nyata bagi Yang Mulia Sri Paus bahwa 'satu tangan bunda yang membelokan
jalur peluru', hingga memungkinkan 'sang Paus yang menjelang ajal' untuk
berhenti 'pada garis kematian'. Pada kesempatan suatu kunjungan ke Roma
oleh pejabat uskup Leiria-Fatima pada waktu itu, Sri Paus memutuskan untuk
memberikan kepadanya peluru yang tertinggal di mobil jeep setelah usaha
pembunuhan, supaya peluru itu bisa disimpan di tempat ziarah Fatima. Atas
permintaan sang uskup, peluru itu lantas ditaruh pada mahkota patung Santa
Maria de Fatima. Serangkaian peristiwa di tahun 1989 membawa, baik di
Uni Sovyet dan di beberapa negara-negara Eropa Timur, kepada jatuhnya
rejim-rejim Komunis yang mempropagandakan ateisme. Untuk ini juga Yang
Mulia Sri Paus mempersembahkan rasa terima kasih kepada Santa Perawan
Murni.
Akan tetapi, di bagian-bagian dunia lainnya, penindasan
terhadap Gereja dan terhadap umat Kristen, bersama dengan derita sengsara
yang mereka alami, secara tragis masih terus berlangsung. Bahkan meskipun
peristiwa-peristiwa yang dimaksud oleh bagian ketiga dari Rahasia Fatima
sekarang seperti bagian masa lalu, panggilan Bunda Maria untuk pertobatan
dan penitensi, yang diwartakan pada awal abad ke-20, masih tetap sesuai
dan penting sekarang ini. Bunda yang memberi pesan agaknya membaca tanda-tanda
jaman, yaitu tanda-tanda jaman kita dengan pemahaman yang spesial. Undangan
yang bertubi-tubi untuk penitensi oleh Maria yang Kudus tidak lain adalah
manifestasi dari perhatian keibuanNya atas nasib keluarga umat manusia,
yang sangat membutuhkan pertobatan dan pengampunan.
Agar supaya umat bisa menerima pesan Santa Maria
de Fatima dengan lebih baik, Sri Paus telah memerintahkan kepada Kongregasi
bagi Doktrin Iman untuk mempublikasikan bagian ketiga dari rahasia, setelah
dipersiapkan dengan sebuah komentar yang sesuai. Marilah kita berterima
kasih kepada Santa Maria de Fatima atas perlindungannya. Kepada perantaraan
keibuannya, marilah kita mempercayakan Gereja di Milenium Ketiga. 'Sub
tuum praesidium confugimus, Sancta Dei Genetrix!. Intercede pro Ecclesia
Dei! Intercede pro Sancto Patre Iohanne Paolo = II! Amen'"
|