Beata Faustina
Kowalska
Santa Terbaru di Millenium ini?
Sebuah interview dengan Father Seraphim Michalenko,
MIC
Kanonisasi Suster Faustina Kowalska
telah menjadi pemikian utama seorang imam selama 20 tahun terakhir.
Sebagai vice-postulator bagi proses kanonisasi Beata Faustina, Father
Seraphim Michalenko, MIC, dengan gembira menunggu tibanya hari dimana
nama murid yang hebat dari Kerahiman Allah ini akan dituliskan dalam
daftar para orang kudus.
Setelah Paus Yohanes Paulus II baru-baru
ini menyetujui peristiwa mukjijat yang diperlukan bagi kanonisasi Beata
Faustina, Father Seraphim menjawab beberapa pertanyaan menyangkut kehidupan
suster dari Polandia tersebut, dan pekerjaannya sendiri dalam rangka
memproses kanonisasi Beata Faustina, dan mukjijat-mukjijat yang dinyatakan
sebagai hasil perantaraannya.
Nah sekarang ketika kita sedang menanti-nanti
peristiwa kanonisasi Suster Faustina pada hari Minggu Kerahiman, bagaimana
menurut anda pandangan di masa depan terhadapnya?
Maria Faustina pastinya akan dianggap
sebagai salah satu dari orang kudus yang terbesar dari jaman modern.
Pesan-pesan dan devosi Kerahiman Allah, yang diperkenalkan lewat tulisan-tulisannya,
telah menyebar-luas secara fenomenal. Hari Minggu Kerahiman - yang diminta
dari Gereja oleh Tuhan Yesus melalui Faustina - sifatnya unik dimana
tidak ada hari raya lain dalam kalender Gereja yang telah dirayakan
oleh sejumlah besar umat di seluruh dunia bahkan sebelum hari raya itu
secara resmi ditetapkan oleh Gereja.
Kita telah melihat penyebar-luasan
yang sangat cepat dari pesan-pesan dan devosi Kerahiman Allah - termasuk
hari rayanya - hanya dalam waktu 60 tahun sejak kematian Suster Faustina.
Ditambah lagi, pesan dan devosi itu menghadapi larangan selama 20 tahun
oleh Tahta Suci. Jadi, penyebaran yang cepat tersebut hanya bisa disebabkan
oleh gerakan umat besar-besaran yang universal yang diinspirasikan oleh
Suster Faustina.
Mengapa tulisan-tulisannya dan penyebaran
devosi Kerahiman Allah dilarang oleh Tahta Suci?
Setelah kematiannya, para suster dari
komunitas religius Suster Faustina mulai menuliskan dan menyebarkan
ringkasan-ringkasan dari buku-harian spiritual Suster Faustina. Sayangnya,
mereka membuat banyak kesalahan dengan menambahkan, mengurangi, ataupun
"membetulkan" apa yang Faustina tulis. Terjemahan dari tulisan-tulisan
ini ke dalam berbagai bahasa juga menghasilkan beberapa kesalahan yang
menyebabkan otoritas Gereja memutuskan untuk melarang penyebar-luasannya.
Pemerintahan Komunis di Polandia juga membuat keadaan menjadi tidak
memungkinkan untuk memverifikasi bagian-bagian yang dipertanyakan dengan
manuskrip yang otentik, yang tidak dapat dipublikasikan pada waktu itu.
Sebelum ia menjadi Paus, Yohanes Paulus
II memegang peranan penting dalam menghapuskan larangan tersebut. Bagaimana
hal ini terjadi?
Sebenarnya para umat di keuskupan
agung Krakow yang mendorong Kardinal Karol Wojtyla (nantinya menjadi
Paus Yohanes Paulus II) untuk memulai proses pemeriksaan kebajikan spiritual
Suster Faustina pada tahun 1965. Sebagian dari proses tersebut adalah
memeriksa tulisan-tulisannya dan mewawancara orang-orang yang mengenalnya
sebelum ia meninggal di tahun 1938.
Kardinal Wojtyla meminta salah satu
teolognya yang paling handal untuk membuat studi yang mendalam atas
buku-harian Suster Faustina dan surat-suratnya. Faustina hanya mendapat
pendidikan formal selama dua kali musim dingin, jadi ejaan tulisannya
sungguh-sungguh amat buruk. Ada banyak kata-kata yang dieja secara fonetik
(berdasarkan bunyi ucapannya), beberapa kata-kata ditulis secara terpisah
menjadi dua kata, sementara pada hal lainnya Faustina menggabungkan
dua kata menjadi satu kata. Jadi bisa disimpulkan betapa sulitnya tugas
meneliti tulisan tersebut bagi sang teolog.
Laporan tentang tulisan-tulisan Faustina
menyatakan bahwa barangsiapa hidup sesuai dengan tulisan-tulisan Suster
Faustina akan mencapai derajat kesucian yang tinggi. Lebih jauh lagi,
teolog ini menyatakan bahwa, menurut pendapatnya, wahyu-wahyu yang dinyatakan
tidak mungkin berasal dari Yang Jahat, tetapi datang dari sumber Surgawi.
Dia menilai Buku-harian Faustina sebagai karya mistis yang agung.
Laporan tersebut meyakinkan Tahta
Suci untuk menghapuskan larangan tersebut, yaitu pada tanggal 18 April
1978. Enam bulan setelahnya sejak hari itu, Kardinal Wojtyla diangkat
menjadi Paus Yohanes Paulus II.
Anda telah dihubungkan secara erat
dengan dua penyembuhan mukjijat yang telah digunakan untuk proses kanonisasi
Suster Faustina.
Ya, memang benar. Bahkan, saya hadir
selama mukjijat yang pertama. Semuanya dimulai pada tahun 1980 ketika
Bob Digan, yang pada waktu itu tinggal dekat kota Boston, menelpon saya.
Dia mengetahui bahwa saya adalah vice-postulator bagi proses kanonisasi
Faustina dan dia percaya bahwa istrinya, Maureen, akan disembuhkan dari
sebuah penyakit yang mestinya tidak tersembuhkan, melalui pengantaraan
Faustina.
Dia meminta saya untuk pergi ke Polandia
bersama mereka berdua dan puteranya, Bobby, untuk menjadi saksi dari
"mukjijat" tersebut. Saya mendapat ijin dari atasan saya dan
pergi bersama mereka. Itu terjadi pada tahun 1981 ketika Polandia masih
berada dibawah pemerintahan komunis.
Dan pada hari terakhir dari novena
sembilan hari yang kami lakukan, ketika kami mengakhiri doa-doa kami
di makam Faustina, penyakit yang diderita Maureen secara ajaib telah
lenyap.
Itu adalah kasus yang membawa pada
beatifikasi Faustina di tahun 1993. Bagaimana anda terlibat dalam penyembuhan
yang baru saja disetujui sebagai mukjijat bagi kanonisasi dirinya?
Setelah penyembuhan yang dialaminya
di tahun 1995, Father Ron Pytel dari Baltimore, Maryland, menulis kepada
saya tentang kasusnya. Saya tidak mengenalnya, tetapi dia mengetahui
bahwa saya adalah vice-postulator.
Sesungguhnya, salah satu dari sesama
anggota komunitas imam Maria, Father Kaz Chwalek, MIC, hadir pada Misa
Kudus yang dipersembahkan bagi Father Pytel pada hari dimana dia mengalami
penyembuhan.
Segera setelahnya saya mendapat surat
tersebut, saya menghubungi Keuskupan-agung Baltimore untuk memulai proses
pengumpulan informasi medis dan kesaksian-kesaksian para saksi mata
sehubungan dengan penyembuhan yang dialami oleh Father Pytel.
Bagaimana kehidupan Suster Faustina
mengilhami umat sekarang ini?
Dia sungguh-sungguh menjadi hidup
yang sederhana dengan cara yang luar biasa. Keinginannya yang terbesar
adalah untuk menjadi seorang kudus. Dia menggabungkan segala pekerjaannya
yang terkecil sekalipun dengan karya penyelamatan Tuhan Yesus. Ini sangat
mirip dengan "Cara-cara yangkecil" oleh Santa Therese dari
Lisieux.
Tuhan Yesus seringkali menampakkan
diri kepada Faustina sebagai seorang anak kecil. Dia bertanya kepadaNya
mengapa Ia menampakkan diri-Nya sendiri dengan cara ini. Yesus mengatakan
kepadanya bahwa Dia ingin Faustina belajar pelajaran spiritual kanak-kanak:
untuk belajar mendekati Tuhan dengan kerendahan hati dan penuh percaya
seperti layaknya seorang anak kecil.
Bahkan sebagai seorang anak, Faustina
punya keinginan kuat untuk menjadi suci. Apa yang mendorong keinginan
tersebut?
Saya rasa akar dari segalanya adalah
dari ketika ayahnya membacakan kepadanya kisah-kisah tentang para biarawan
dan rubiah dan apa yang mereka lakukan untuk menjadi satu dengan Allah.
Dia seringkali menceritakan kisah-kisah ini kepada anak-anak lain yang
bermain dengannya. Dia mengatakan betapa indahnya untuk hidup di hutan
dan makan akar-akaran dan buah-buahan, hidup bagi Tuhan dengan cara
seperti itu. Dan anak-anak lainnya ingin mengikutinya dan melakukan
hal demikian.
Bahkan, banyak suster-suster lain
yang mengetahui keinginan hati Suster Faustina untuk menjadi suci. Inilah
sebabnya mengapa mereka mempercayainya dan datang kepadanya untuk meminta
nasehat. Sekarang setelah dia akan dideklarasikan sebagai seorang Santa,
kita semua tentunya bisa melakukan hal yang sama
Kronologi Peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan dan Proses Kanonisasi
bagi Suster Maria Faustina Kowalska
Lahir 25 Agustus 1905
Helen Kowalska dilahirkan di desa Glogowiec, Lodz Province, Polandia
Menerima Panggilan 1912
Pada usia tujuh tahun, Helen mendengar suatu suara dari dalam hatinya
untuk pertama kalinya, memangginya kepada jalan hidup yang lebih sempurna
(Buku Harian 7)
Hidup sebagai seorang Biarawati, 30
April 1926
Helen Kowalska menerima pakaian biarawati dan nama barunya: Suster Maria
Faustina dari Sakramen Yang Maha Kudus.
Penglihatan Tuhan Yesus, 22 Februari
1931
Melalui suatu penglihatan, Tuhan Yesus mengutus Suster Faustina untuk
melukis sebuah gambar foto sesuai dengan pola-pola yang dipegangnya.
(Buku Harian 47)
Wajah Tuhan Yesus, Juni 1934
Lukisan gambar Kerahiman Allah, yang dilakukan oleh seniman E. Kazimirowski
dibawah pengarahan Suster Faustina, telah selesai. Suster Faustina menangis
karena gambar Tuhan Yesus tidak seindah seperti yang dilihatnya dalam
penglihatan. (Buku Harian 313)
Meningggal, 5 Oktober 1938
Pada jam 10:45 malam hari, Suster Maria Faustina Kowalska, setelah lama
menderita sengsara yang ditanggung dengan penuh kesabaran, berpulang
kepada Tuhan sebagai hadiahnya.
Pesan dibawa ke Amerika Serikat, Mei
1941
Father Joseph Jarzebowski, MIC, meninggalkan Polandia yang dilanda peperangan
dan tiba di Rumah Belajar yang dimiliki oleh kongregasi tarekat religiusnya
di Washington DC, setelah melalui suatu perjalanan yang "mukjijat"
melalui Lithuania, Russia, Siberia, dan Jepang. Dia membawa bersamanya
material tulisan-tulisan menyangkut pesan Kerahiman Allah, devosi, dan
pesta hari raya. Semua ini telah dipercayakan kepadanya oleh Father
Michael Sopocko, pembimbing spiritual utama Suster Faustina.
Penyebaran Pesan-pesan, Oktober 1943
Tiga sejawat Father Jarzebowski dari imam-imam Maria memutuskan untuk
mengambil alih penyebaran pesan-pesan Kerahiman Allah dan devosinya.
Larangan terhadap Pesan Kerahiman
Allah, 7 Maret 1959
Seperti yang telah dinubuatkan oleh Suster Faustina (lihat Buku Harian
378), pesan dan devosi mengalami masa sulit menghadapi otoritas Gereja,
dan promosi pesan-pesan itu dilarang.
Diperiksa kehidupannya, 21 Oktober
1965
Tekanan dari kaum awam mendorong Keuskupan-agung Krakow untuk memulai
acara khidmat bagi Proses Informasi sehubungan dengan hidup dan kebajikan
Suster Faustina. Pada saat itulah, 27 tahun setelah wafatnya, dan sejak
saat itu, dia diberi gelar Pelayan Tuhan. Proses itu dilakukan dibawah
bimbingan kepemimpinan Uskup Agung Karol Wojtyla dari Krakow.
Proses Beatifikasi, 31 Januari 1968
Melalui Dekrit Kongregasi Suci bagi Penentuan Orang Kudus, Proses Beatifikasi
terhadap Pelayan Tuhan, Suster M. Faustina Kowalska secara formal dimulai.
Larangan diangkat, 15 April 1978
Setelah 20 tahun, Vatikan mengangkat larangan terhadap pesan dan devosi.
Seorang teolog handal yang ditunjuk oleh Kardinal Karol Wojtyla baru
saja menyelesaikan studi selama 10 tahun meneliti secara mendetil Buku
Harian Suster Faustina. Dalam laporan terakhirnya, dia menyatakan bahwa
tidak ditemukan sesuatupun yang bertentangan dengan iman Katolik. Enam
bulan setelah larangan diangkat, Karol Wojtyla diangkat menjadi Paus,
mengambil nama Yohanes Paulus II.
Penyembuhan di makam, 28 Maret 1981
Maureen Digan, yang menderita penyakit Lymphedema yang tidak tersembuhkan,
secara mukjijat disembuhkan selama perjalanan ziarah ke makam Suster
Faustina.
Dinyatakan sebagai yang Terhormat,
7 Maret 1992
Dengan menerbitkan "Dekrit Kebajikan Spiritual Maria Faustina Kowalska,
Pelayan Tuhan" Gereja mengakui bahwa Suster Faustina menjalani
hidup sesuai dengan segala kebaikan Kristiani secara menonjol. Dengan
demikian dia digelari sebagai "Pelayan Tuhan yang Terhormat".
Mukjijat diterima, 22 Desember 1992
Penyembuhan Maureen Digan diterima sebagai suatu mukjijat, melancarkan
jalan bagi beatifikasi Faustina.
Beatifikasi, 18 April 1993
Pada hari Minggu setelah Paskah, yaitu hari yang diusulkan sebagai Hari
Raya Kerahiman Allah, Suster Faustina dibeatifikasi oleh Paus Yohanes
Paulus II.
Penyembuhan melalui perantaraannya,
5 Oktober 1995
Father Ron Pytel berkumpul bersama umat paroki dan kawan-kawan pada
hari raya Beata Faustina untuk berdoa bagi penyembuhannya dari kondisi
jantung yang serius. Sewaktu menghormati relikwi Beata Faustina, dia
jatuh semaput dan merasa lumpuh total. Kunjungan berikutnya ke dokter
ahli jantung menunjukkan bahwa jantungnya telah sembuh!
Penyembuhan diteliti, Januari 1997
Peristiwa penyembuhan father Pytel diajukan kepada Kongregasi bagi Penentuan
Orang Kudus untuk dipertimbangkan sebagai syarat mukjijat yang dibutuhkan
bagi kanonisasi Beata Faustina.
Penyelidikan berakhir, 19 November
dan 9 Desember 1999
Baik para dokter maupun teolog di Vatikan mengambil kesimpulan dari
suatu penyelidikan yang sangat teliti terdapat peristiwa penyembuhan
tersebut.
Dipublikasikan sebagai suatu mukjijat,
20 Desember 1999
Paus Yohanes Paulus II memerintahkan publikasi atas fakta penyembuhan
tersebut sebagai suatu mukjijat
Santa Pertama di Tahun Yubileum? 30
April 2000
Paus Yohanes Paulus II diharapkan untuk menuliskan nama Faustina Kowalska
pada Gulungan para Kudus pada hari Minggu Kerahiman - hari Minggu masa
Paskah yang sama dimana dia dibeatifikasi beberapa tahun sebelumnya.