 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Para Bapa Apostolik
Bapa Apostolik adalah para penulis Kristen yang hidup
pada generasi para Rasul. Mereka umumnya adalah pejabat Uskup dan umumnya
memiliki hubungan pribadi dengan para Rasul. Sebagai contohnya, Santo
Clement merupakan murid Santo Petrus dan Santo Paulus dan disebutkan bahwa
ia ditahbiskan sebagai Uskup oleh Santo Petrus sendiri. Santo Polycarpus
adalah murid dari Santo Yohanes Penginjil. Menurut salah satu legenda,
Santo Ignatius dari Antiokia adalah anak kecil yang disebutkan di dalam
Injil Markus 14:51-52 sebagai anak muda di Bukit Zaitun yang lari dengan
telanjang.
Melalui tulisan-tulisan mereka kita melihat perhatian
mereka akan identitas Kristen: Apa maknanya untuk menjadi seorang pengikut
Kristus? Ini adalah suatu pertanyaan yang penting tidak hanya bagi komunitas
Gereja yang diguncang dari dalam oleh berbagai heresi (penyelewengan ajaran),
perpecahan dan perselisihan. Pertanyaan ini juga muncul dari luar Gereja
seperti misalnya dari otoritas penguasa, karena klaim-klaim yang dibuat
oleh umat Kristiani tampaknya membawa dampak serius terhadap tata-sosial.
Umat Kristiani menolak untuk menghormati dewa-dewi seperti yang ditentukan
oleh penguasa. Mereka juga menolak untuk menyembah kaisar. Oleh karenanya,
penguasa sipil di kekaisaran melihat kelompok religius yang muncul dari
tanah Palestina ini sebagai ancaman dan dimulailah penindasan. Semua Bapa
Apostolik yang tertulis kisahnya dibawah ini, mati sebagai martir iman.
Paus Santo Clement I dari Roma
Nyaris segala yang kita ketahui tentang Santo Clement
adalah penghormatan yang diterimanya dari komunitas-komunitas Gereja di
segala penjuru dunia. Menurut Santo Irenaeus, Santo Clement adalah Paus
ke empat, seorang Rowawi yang merupakan murid Santo Petrus dan Santo Paulus
selama hari-hari mereka di Ibukota kekaisaran, Roma. Tertulianus menulis
bahwa Santo Petrus sendiri yang mentahbiskan Clement sebagai seorang Uskup.
Clement menjabat sebagai Paus diperkirakan antara tahun 88-97 Masehi.
Beberapa penulis Gereja mengidentifikasi
Paus Clement sebagai Titus Flavius Clemens, seorang sepupu kaisar Domitian
yang memegang jabatan di istana kekaisaran. Kita mengetahui dari sejarawan
non-Kristen bahwa Clemens dihukum mati pada akhir abad pertama karena
"sikap tidak hormat" terhadap dewa-dewi Romawi dan karena tuduhan
"ateisme", suatu tuduhan yang sering dikenakan terhadap umat
Kristiani pada waktu itu. Bukti-bukti yang menyangkut identifikasi ini
agaknya kurang kuat.
Satu-satunya tulisan karya Clement yang masih ada,
yaitu Surat Kepada Umat di Korintus, meliputi suatu doa
bagi para penguasa sipil dan menunjukkan bahwa sang pengarang tahu seluk-beluk
kehidupan militer Romawi. Dari tulisan tersebut juga dengan jelas tampak
bahwa sang pengarang adalah seorang terpelajar yang brilian, yang sangat
mengenal seluruh Kitab Perjanjian Lama, termasuk bahkan filosofi dan cerita-cerita
rakyat Mesir.
Yang sangat menonjol dari Surat Kepada Umat
di Korintus adalah primasi yang diberikan kepada Gereja di Roma
oleh umat Kristiani di akhir abad pertama. Dalam paragraf pembukaan, Santo
Clement mengindikasikan bahwa umat di Korintus telah memohon kepadanya
untuk menyelesaikan perselisihan di dalam tubuh Gereja disana. Gaya bahasanya
menunjukkan bahwa dia sangat percaya diri dalam otoritas kebapaannya terhadap
komunitas Gerejawi yang nun jauh lokasinya. Dia menyatakan bahwa suratnya
mengandung kata-kata "yang ditulis oleh kami melalui Roh Kudus",
dan dia dengan tegas mengharapkan agar keputusannya dipatuhi. Santo Clement
tampaknya melengkapi misi perdamaian yang dimulai oleh Santo Paulus lebih
dari satu generasi sebelumnya seperti tertera dalam dua Surat Paulus kepada
Umat di Korintus. Surat penting oleh Uskup Roma adalah untuk menyembuhkan
skisma Gereja di Korintus dan membawa kembali persatuan dan keharmonisan
di dalam Gereja.
Surat Clement kepada umat di Korintus mendapat penghormatan
yang selayaknya di Korintus, dimana pada tahun 170 Masehi, surat tersebut
masih dibacakan selama liturgi bersama satu surat lainnya yang ditulis
oleh Paus pada waktu itu, yaitu Paus Soter. Eusebius, sejarawan Gereja,
menulis bahwa komunitas-komunitas Gereja di wilayah lain juga menghormati
surat Santo Clement tersebut, dan beberapa diantara mereka bahkan memasukkannya
dalam daftar Kitab-kitab Perjanjian Baru. Santo Polycarpus mengutip dari
surat ini ketika ia menulis Surat Kepada Umat di Filipi.
Santo Clement dari Alexandria adalah salah satu Bapa Gereja yang mendukung
dimasukkannya surat Santo Clement dari Roma dalam kanonisasi Kitab Suci.
Salah satu pasal-pasal yang paling menyolok
dalam surat tersebut adalah puji-pujian terhadap keseimbangan alam di
bumi. Santo Clement, sebagai seorang Paus, seorang mistis, dan sekaligus
seorang seniman dalam hatinya, menyaksikan dunia yang dipenuhi oleh kemuliaan
Tuhan: hasil ciptaan yang mencerminkan persatuan dan keharmonisan Trinitas
Maha Kudus, dan menunjukkan suatu model bagi persatuan dan harmoni dalam
Gereja.
Santo Ignatius dari Antiokia
Santo Ignatius adalah Uskup Antiokia pada akhir abad
pertama. Dia memakai nama keluarga Theophorus yang berarti "pembawa
Allah". Dia hidup sesuai dengan namanya tersebut.
Menurut catatan biografinya, Santo Ignatius menjadi
Kristen, dan adalah murid Santo Yohanes Penginjil. Cerita sejarah dari
abad ke-empat menyatakan bahwa Santo Ignatius menjawab sebagai Uskup Antiokia
selama empat puluh tahun, setelah diserahi jabatan oleh Rasul Petrus dan
Paulus. Antiokia, salah satu komunitas Kristen pertama yang penting, mengaku
bahwa Santo Petrus sebagai Uskup mereka yang pertama.
Sayangnya hanya sedikit yang kita ketahui tentang
sepak-terjang Santo Ignatius semasa ia menjabat sebagai Uskup Antiokia.
Karya-karya besarnya dilakukannya selama perjalanan panjangnya untuk menjalani
hukuman mati di Roma, sebagaimana ia mewartakan firman Allah kepada umat
dan gereja-gereja di Asia Kecil.
Santo Ignatius dihukum mati selama penindasan oleh
kaisar Trajan (98-117) terhadap umat Kristen. Kaisar Trajan tidak dikenal
sejarah sebagai penindas Kristen yang ambisius maupun habis-habisan, sehingga
ahli sejarah menduga bahwa Santo Ignatius melakukan sesuatu hal yang memprovokasi
otoritas penguasa, atau bahwa ia telah dikhianati oleh kaum penyeleweng
ajaran Gereja. Akan tetapi kedudukannya saja sudah cukup untuk menjadikannya
sebagai target penindasan. Antiokia adalah kota Romawi yang utama, dan
pada waktu itu merupakan kota kedua setelah Roma. Gereja Antiokia dengan
akar Apostoliknya, dihormati oleh umat Kristiani dimana saja. Sebagai
Uskup Antiokia selama empat puluh tahun pada saat-saat penting pertumbuhan
Gereja, Santo Ignatius jelas merupakan figur yang sangat menonjol.
Otoritas Romawi cenderung untuk mengarahkan penindasan
mereka terutama kepada para Uskup-uskup Gereja. Otoritas Romawi berpikir
bahwa jika mereka menangkapi, menyiksa dan menghukum mati para pemimpin-pemimpin
Gereja, hal ini akan membuat umat Kristen takut dan mencerai-beraikan
mereka. Keluwesan berbicara maupun kepandaian yang brilian dari Santo
Clement, seperti terlihat dalam surat-surat yang ditulisnya, mungkin telah
membawanya ke tingkat popularitas yang menjangkau jauh melebihi wilayah
keuskupannya. Dalam dirinya, penguasa Romawi menemukan korban yang ideal
bagi maksud mereka.
Sang uskup sendiri adalah korban yang sukarela. Keinginannya
untuk mati demi Kristus adalah topik yang muncul berulang-ulang dalam
surat-suratnya. Sebagai contohnya, dia meminta umat Kristen di Roma untuk
tidak memohon kepada kaisar bagi keselamatan dirinya: "Aku memohon
kepada kalian untuk tidak menunjukkan maksud baik yang tidak tepat terhadapku.
Biarkanlah aku menjadi makanan binatang-binatang buas, melaluinya aku
akan bertemu dengan Tuhan".
Santo Ignatius ditangkap dan diinterogasi di Antiokia.
Menurut legenda, interogasi dilakukan oleh kaisar Trajan sendiri. Setelah
dijatuhi hukuman mati, Santo Ignatius, seperti juga Santo Paulus, dipindahkan
dibawah pengawalan militer menuju tempat eksekusi di Roma.
Sepanjang perhentian di perjalanannya, dia menerima
kunjungan dari berbagai umat dari gereja-gereja setempat. Kemartiran yang
sudah di depan mata malahan membawa ketenaran yang lebih besar lagi dan
penghormatan kepada sang uskup dari Antiokia. Iring-iringan karavan yang
membawanya, menjadi sasaran peziarahan umat Kristen. Berbagai uskup pergi
untuk menemuinya dan menghormatinya.
Hukuman mati telah mengangkat otoritas Santo Ignatius
di dalam Gereja Universal. Selama dua kali perhentiannya, yaitu di Smyrna
dan Troas (dua-duanya berada di wilayah Turki sekarang ini), dia menulis
enam surat kepada gereja-gereja di Asia Kecil dan Eropa, yaitu: Efesus,
Magnesia, Troas, Roma, Filadelfia, dan Smyrna. Surat yang ketujuh ditujukan
secara pribadi kepada Santo Polycarpus, Uskup Smyrna. Surat-suratnya ditulis
secara pastoral, berisi tentang doktrin-doktrin, dan memberi semangat.
Santo Ignatius bersaksi kepada ajaran Kristiani yang perdana menyangkut
perkawinan, Trinitas, Inkarnasi, Kehadiran Sejati Yesus dalam Ekaristi,
Primasi Gereja Roma dan otoritas imam dan para uskup. Dia sangat memperhatikan
menyangkut berkembangnya heresi (penyelewengan ajaran Gereja) terutama
paham docetisme, dan dengan berkurangnya secara berangsur-angsur umat
Kristen yang memelihara kebiasaan Yahudi.
Sebagai seorang pengajar yang efektif, Santo Ignatius
bisa merangkumkan kebenaran yang mendalam dengan imaginasi-imaginasi yang
kuat. Dia juga adalah seorang master seni merangkum syahadat iman atau
kredo.
Menurut legenda, Santo Ignatius tiba di Roma, pada
hari terakhir pertunjukkan, mungkin di tahun 107. Dia diseret ke amphitheater,
dimana tubuhnya dicabik-cabik oleh singa. Segera setelah kematiannya,
surat-suratnya dihormati dimana-mana, dan bahkan dianggap sebagai bagian
dari kanon Alkitab oleh beberapa komunitas gereja. Santo Polycarpus bersaksi
dalam surat yang ditulisnya kepada umat di Filipi, bahwa surat-surat Santo
Ignatius sangat dicari-cari di seluruh Gereja bahkan sebelum meninggalnya
Santo Ignatius sebagai martir.
Surat Santo Ignatius kepada umat di Smyrna adalah
catatan penting Gereja perdana menyangkut doktrin-doktrin seperti Ekaristi,
jabatan imam, hirarki Gereja. Surat tersebut juga mengandung penggunaan
terminologi Gereja Katolik untuk menggambarkan kesatuan tubuh umat
Kristen.
Santo Polycarpus dari Smyrna
Santo Polycarpus (69 - 155 Masehi) bisa dianggap
sebagai orang yang paling banyak koneksinya dalam Gereja perdana. Pada
masa mudanya, ia adalah murid Santo Yohanes Penginjil. Menjelang setengah
umur, dia adalah sahabat sesama-uskup dengan Santo Ignatius dari Antiokia.
Sebagai seorang tua, dia adalah guru dari seorang anak laki-laki yang
nantinya akan dikenal sebagai Santo Irenaeus dari Lyons. Lewat umurnya
yang panjang, Santo Polycarpus bisa mengajar banyak orang bagaimana menjalani
hidup ini, sama seperti para Rasul telah mengajarkan kepadanya sebelumnya.
Lewat kematiannya sebagai martir, pada usia delapan puluh enam tahun,
dia mengajarkan kepada generasi demi generasi Kristen yang tertindas bagaimana
untuk mati demi Kristus.
Dari satu suratnya yang tersisa kita dapat melihat
bahwa Santo Polycarpus, seperti juga gurunya Santo Yohanes Penginjil,
sangat khawatir akan penindasan dan heresi (penyelewengan ajaran Gereja)
dalam tubuh Gereja di Smyrna. Surat Santo Polycarpus secara spesifik menanggapi
ajaran-ajaran docetisme dan kesulitan yang timbul akibat kemurtadan seorang
imam yang bernama Valens. Dia juga menyinggung heresi-heresi yang lain
tetapi tidak menyebutkan nama-namanya.
Lewat Santo Irenaeus kita tahu bahwa Santo Polycarpus
menaruh perhatian besar dalam hal membasmi penyelewengan-penyelewengan
ajaran iman oleh Marcion dan Valentinus. Santo Irenaeus menyebutkan tentang
pertemuan Santo Polycarpus dengan Marcion. Bangga akan dirinya yang menjadi
terkenal, Marcion bertanya jika sang uskup mengenali dirinya. Santo Polycarpus
menjawab: "Tentu, aku mengenali anak keturunan Setan."
Santo Polycarpus mendesak umat di Filipi untuk setia
kepada kebajikan. Dia juga menyinggung tentang nasihat-nasihat tertentu
dan dorongan bagi pasangan-pasangan yang sudah menikah, pengantin baru,
kaum biarawati, duda dan janda, imam-imam dan para deakon. "Bimbinglah
istrimu untuk memelihara iman yang telah diberikan kepada mereka, dan
dalam kasih dan kemurnian, dengan lembut mengasihi suami-suami mereka
dalam segala kebenaran, dan mengasihi yang lain-lainnya dan untuk membesarkan
anak-anak mereka untuk mengenal dan takut akan Allah. Bimbinglah para
duda/janda untuk bersikap hati-hati dan menghormati iman kepada Tuhan
kita, terus menerus memanjatkan doa, menjauhi segala hal-hal buruk, omongan
jahat, saksi dusta, serakah uang, dan segala macam kejahatan; dan menyadari
bahwa mereka adalah bait Allah. Semoga kaum muda tidak bercela dalam segala
hal, terutama dalam hal menjaga kemurnian, dan menjaga diri mereka, seolah
dengan sebuah tali kendali, dari segala macam kejahatan. Oleh karena baik
jika mereka menjauh dari hawa nafsu yang ada di dunia ini."
Karena hubungan dekatnya dengan para Rasul, sang
uskup agung dari Smyrna sangat disegani oleh umat Kristen dimana saja.
Ketika isa berumur delapan puluh tahun, dia dipanggil untuk datang ke
Roma oleh Paus Anicetus untuk membantu menyelesaikan perselisihan menyangkut
tanggal perayaan Paskah umat Kristen. Santo Polycarpus mengaku dirinya
mengikuti para Rasul yang merayakan Paskah pada tanggal yang tetap setiap
tahunnya. Sri Paus Anicetus lebih menyukai tanggal perayaan yang dinamis
yang selalu jatuh pada hari Minggu. Mereka berdua bertemu sebagai saudara
dalam Kristus, tetapi gagal untuk membuat keputusan yang menentukan. Mereka
setuju untuk berbeda pendapat, dan berpisah dengan penuh rasa persaudaraan.
Sekembalinya Santo Polycarpus ke Smyrna, penindasan
kaisar Markus Aurelius terhadap umat Kristen baru saja dimulai. Karena
menolak untuk menyembah kaisar, sang uskup dihukum mati dan dieksekusi
pada sekitar tahun 155 Masehi.
|