Buka lebar pintu-pintu bagi Kristus
 
1. Agama
2. Tradisi dan Kitab Suci
3. Allah & Tritunggal MahaKudus
4. Doa
5. Ibadah kepada Allah
6. Malaikat dan Iblis
7. Umat Manusia dan Tujuan Hidup
8. Rahmat Karunia
9. Surga
10. Dosa Ringan dan Dosa Maut
11. Neraka
12. Api Penyucian
13. Dosa Asal
14. Yesus Kristus, Penyelamat Kita
15. Yesus Kristus, Allah Sejati Manusia Sejati
16. Gereja
17. Kunci persatuan Gereja
18. Tujuh Sakramen
19. Sakramen Pembaptisan
20. Sakramen Penguatan
21. Sakramen Ekaristi Kudus
22. Kurban Misa
23. Sakramen Tobat
24. Indulgensi
25. Cara Mengaku Dosa
26. Sakramen Pengurapan
27. Sakramen Imamat
28. Sifat Perkawinan
29. Dosa Pernikahan
30. Sakramen Pernikahan
31. Pernikahan yang Bahagia
32. Kewajiban Orangtua Terhadap Anak
33. Perintah Pertama
34. Perintah Kedua
35. Perintah Ketiga
36. Perintah Keempat
37. Perintah Kelima
38. Perintah Keenam dan Kesembilan
39. Perintah Ketujuh dan Kesepuluh
40. Perintah Kedelapan
41. Iman, Pengharapan dan Kasih
42. Pantang dan Puasa
Rubrik Konsultasi Rohani
Pesan dan kesan anda setelah mengunjungi situs ini
Undang teman anda untuk mengunjungi website ini!
Jika anda ingin menerima berita terbaru dari situs ini, masukan email anda disini:

Daftar Keluar milis
Jadwal Misa Kudus di Indonesia
Link Situs-situs Katolik
Hai!! Jangan lupa kami menerima hasil karya tulisan anda untuk meramaikan situs ini. Kirim email ke: webmaster.
Anda bisa jadi evangelis?
Poin penting sejarah Gereja
Katekismus: Persatuan Gereja
Santa Maria dari Kazan
Basilika St.Maria Mayora
St.Yohanes Krisostomus
Dari Yahudi jadi Katolik

Pasal 8: Rahmat

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. (Matius 22:1-14)

Mengapa Allah menciptakan kamu?
Allah menciptakan kamu untuk menunjukkan kepadamu kebaikan-Nya, untuk membimbing kamu supaya kamu mengenal, mengasihi dan melayani Dia di dunia ini dan untuk membolehkanmu mengambil bagian dalam kebahagian-Nya di surga.

Apakah seorang manusia biasa bisa mengambil bagian dalam kebahagiaan Allah?
Tidak, sebab Allah memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda; tidak hanya sekedar cara hidup yang berbeda, tetapi hidup yang berbeda.

Bagaimana hidup Allah itu lebih tinggi daripada hidup manusia?
Hidup Allah itu tidak terbatas, tidak diciptakan, dan independen, sementara hidup manusia sangat terbatas, diciptakan oleh Allah dan tergantung seluruhnya kepada-Nya.

Lantas, apa yang dibutuhkan untuk turut menikmati kebahagiaan Allah?
Suatu hidup yang baru yang kita sebut rahmat.

Apakah rahmat itu?
Yaitu mengambil bagian dalam hidup Allah, yang mengangkat kamu ke tingkat Allah dan memberi kamu kuasa untuk mengambil bagian dalam kebahagiaan-Nya.
"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi," (2 Petrus 1:4)

Apakah rahmat membuat kita sama seperti Allah?
Tidak, tetapi rahmat membuat kita menjadi mahluk yang baru, bagi Allah, sebagai anak-anak angkat-Nya, yang hidup pada tingkat diatas hidup manusia biasa dan dipersiapkan untuk hidup bersama Allah di surga. Rahmat tidak membuat kita menjadi Allah, karena rahmat hanya suatu bagian yang diciptakan dalam kodrat dan hidup Allah.

Bisakah kamu masuk ke Surga tanpa rahmat?
Tidak, sama sekali tidak mungkin untuk hidup di surga tanpa rahmat. Pakaian pesta dalam perumpamaan diatas adalah rahmat. Ruang perjamuan adalah surga, dan sang raja adalah Allah. Para hamba-hamba adalah para malaikat dan kegelapan diluar adalah neraka.

Apakah ada rahmat pada dirimu ketika engkau dilahirkan?
Tidak. Seorang manusia mengawali hidup mereka tanpa karunia rahmat.
"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:23-24)

Lantas, bagaimana kamu bisa mendapat karunia rahmat?
Pembaptisan memberi rahmat kepada jiwamu untuk pertama kalinya.
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Yohanes 3:5)

Bisakah kita bertumbuh dalam hidup rahmat?
Ya, terutama dengan menerima Komuni Suci dan Sakramen-sakramen lainnya, dan dengan doa dan perbuatan-perbuatan baik.
"Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." (2 Petrus 3:18)

Bisakah kamu kehilangan rahmat?
Ya, dengan memalingkan diri kita dari kasih Allah melalui dosa yang serius.
"dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:5)

Bisakah kamu merasakan rahmat dalam jiwamu?
Tidak, karena kita tidak dapat merasakan atau mengalami melalui lima panca-indra kita sesuatu hal seperti rahmat yang bersifat spiritual.

Apakah suatu perasaan religius bisa menunjukkan adanya rahmat dalam jiwa?
Tidak. Demikian juga tidak adanya perasaan serupa bisa menjadi petunjuk hilangnya rahmat. Seseorang yang sedang dibaptis dengan iman dan penyesalan yang tulus akan dosa dapat memastikan dari janji-janji Yesus bahwa Pembaptisan membawa karunia rahmat, meskipun dia tidak mengalami perasaan religius tertentu selama ritual upacara berlangsung.

Bahan Renungan

Sejak dosa asal datang ke dunia, hanya satu orang, karena hak istimewa, telah memulai hidup, sejak saat konsepsi dalam kandungan, telah diberkati dengan karunia rahmat. Dia adalah Santa Perawan Maria, bunda Yesus. Karunia ini disebut Yang Dikandung Tanpa Noda.

Dosa yang serius menyebabkan kematian atas hidup yang rahmati seseorang manusia. Akan tetapi, tidak sesuatupun dapat membunuh jiwa manusia yang alami karena jiwa itu sifatnya kekal.

Meskipun tidak tepat untuk dikatakan bahwa ramat membuat kita sama seperti Allah, Santo Agustinus yang hebat tidak ragu-ragu untuk mengatakan sewaktu berbicara tentang Yesus dan karunia rahmat yang kita miliki: "Allah menjadi manusia supaya manusia bisa menjadi allah."

Ada perkataan bahwa antara dua orang, yang satu memiliki rahmat sedangkan yang satunya lagi tidak, ada perbedaan yang lebih besar atas nilai dan harkat, dibanding perbedaan antara sebuah batu dan seorang malaikat. Bagian terkecil dari rahmat memiliki nilai yang lebih besar dibanding segala benda-benda yang diciptakan. Umat Kristen, kenalilah harkatmu!