 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Pasal 8: Rahmat
Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan
kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang
mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya
memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu,
tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba
lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu:
Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan
ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah
ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak
mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus
usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya
dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya
ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota
mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan
kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak
layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan
jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan
kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan
semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan
orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu
dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu
itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata
kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak
mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata
raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah
orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan
terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi
sedikit yang dipilih. (Matius 22:1-14)
Mengapa Allah menciptakan kamu?
Allah menciptakan kamu untuk menunjukkan
kepadamu kebaikan-Nya, untuk membimbing kamu supaya kamu mengenal,
mengasihi dan melayani Dia di dunia ini dan untuk membolehkanmu
mengambil bagian dalam kebahagian-Nya di surga.
Apakah seorang manusia biasa bisa mengambil
bagian dalam kebahagiaan Allah?
Tidak, sebab Allah memiliki kehidupan
yang sama sekali berbeda; tidak hanya sekedar cara hidup yang berbeda,
tetapi hidup yang berbeda.
Bagaimana hidup Allah itu lebih tinggi
daripada hidup manusia?
Hidup Allah itu tidak terbatas,
tidak diciptakan, dan independen, sementara hidup manusia sangat
terbatas, diciptakan oleh Allah dan tergantung seluruhnya kepada-Nya.
Lantas, apa yang dibutuhkan untuk turut
menikmati kebahagiaan Allah?
Suatu hidup yang baru yang kita
sebut rahmat.
Apakah rahmat itu?
Yaitu mengambil bagian dalam hidup
Allah, yang mengangkat kamu ke tingkat Allah dan memberi kamu kuasa
untuk mengambil bagian dalam kebahagiaan-Nya.
"Dengan jalan itu Ia
telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan
yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam
kodrat ilahi," (2 Petrus 1:4)
Apakah rahmat membuat kita sama seperti
Allah?
Tidak, tetapi rahmat membuat kita
menjadi mahluk yang baru, bagi Allah, sebagai anak-anak angkat-Nya,
yang hidup pada tingkat diatas hidup manusia biasa dan dipersiapkan
untuk hidup bersama Allah di surga. Rahmat tidak membuat kita menjadi
Allah, karena rahmat hanya suatu bagian yang diciptakan dalam kodrat
dan hidup Allah.
Bisakah kamu masuk ke Surga tanpa rahmat?
Tidak, sama sekali tidak mungkin
untuk hidup di surga tanpa rahmat. Pakaian pesta dalam perumpamaan
diatas adalah rahmat. Ruang perjamuan adalah surga, dan sang raja
adalah Allah. Para hamba-hamba adalah para malaikat dan kegelapan
diluar adalah neraka.
Apakah ada rahmat pada dirimu ketika
engkau dilahirkan?
Tidak. Seorang manusia mengawali
hidup mereka tanpa karunia rahmat.
"Karena semua orang
telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh
kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan
dalam Kristus Yesus." (Roma 3:23-24)
Lantas, bagaimana kamu bisa mendapat
karunia rahmat?
Pembaptisan memberi rahmat kepada
jiwamu untuk pertama kalinya.
Jawab Yesus: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan
Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Yohanes
3:5)
Bisakah kita bertumbuh dalam hidup rahmat?
Ya, terutama dengan menerima Komuni
Suci dan Sakramen-sakramen lainnya, dan dengan doa dan perbuatan-perbuatan
baik.
"Tetapi bertumbuhlah
dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat
kita, Yesus Kristus." (2 Petrus 3:18)
Bisakah kamu kehilangan rahmat?
Ya, dengan memalingkan diri kita
dari kasih Allah melalui dosa yang serius.
"dan apabila dosa itu
sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:5)
Bisakah kamu merasakan rahmat dalam jiwamu?
Tidak, karena kita tidak dapat
merasakan atau mengalami melalui lima panca-indra kita sesuatu hal
seperti rahmat yang bersifat spiritual.
Apakah suatu perasaan religius bisa menunjukkan
adanya rahmat dalam jiwa?
Tidak. Demikian juga tidak adanya
perasaan serupa bisa menjadi petunjuk hilangnya rahmat. Seseorang
yang sedang dibaptis dengan iman dan penyesalan yang tulus akan
dosa dapat memastikan dari janji-janji Yesus bahwa Pembaptisan membawa
karunia rahmat, meskipun dia tidak mengalami perasaan religius tertentu
selama ritual upacara berlangsung.
Bahan Renungan
Sejak dosa asal datang ke dunia, hanya satu
orang, karena hak istimewa, telah memulai hidup, sejak saat konsepsi
dalam kandungan, telah diberkati dengan karunia rahmat. Dia adalah
Santa Perawan Maria, bunda Yesus. Karunia ini disebut Yang Dikandung
Tanpa Noda.
Dosa yang serius menyebabkan kematian atas
hidup yang rahmati seseorang manusia. Akan tetapi, tidak sesuatupun
dapat membunuh jiwa manusia yang alami karena jiwa itu sifatnya
kekal.
Meskipun tidak tepat untuk dikatakan bahwa
ramat membuat kita sama seperti Allah, Santo Agustinus yang hebat
tidak ragu-ragu untuk mengatakan sewaktu berbicara tentang Yesus
dan karunia rahmat yang kita miliki: "Allah menjadi manusia
supaya manusia bisa menjadi allah."
Ada perkataan bahwa antara dua orang, yang
satu memiliki rahmat sedangkan yang satunya lagi tidak, ada perbedaan
yang lebih besar atas nilai dan harkat, dibanding perbedaan antara
sebuah batu dan seorang malaikat. Bagian terkecil dari rahmat memiliki
nilai yang lebih besar dibanding segala benda-benda yang diciptakan.
Umat Kristen, kenalilah harkatmu!
|