 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Menghirup Udara
Katolik
oleh David Palm
Saya dan istri dibesarkan sebagai Protestan
Evangelikal, dan jika anda memberitahu kami setahun yang lalu bahwa
kami akan menjadi Katolik sekarang, kami pasti akan tertawa. Menjadi
Katolik bukan merupakan prospek yang kami sukai. Ketika kami pertama
kali mulai dipengaruhi secara positif menyangkut hal-hal Katolik,
perasaan kami bisa digambarkan sebagai berikut: "Kami telah
bertemu sang musuh, dan ialah diri kami sendiri."
Saya menyesal harus menggambarkan hubungan
antara kelompok Protestan Evangelikal tertentu dan Gereja Katolik
dalam bahasa yang bermusuhan, tetapi demikianlah adanya ketika kami
dibesarkan. Kami diajarkan bahwa Gereja Katolik telah merampas kedudukan
Alkitab dengan menambahkan lapisan demi lapisan "tradisi manusia"
terhadapnya dan bahwa Gereja Katolik menipu berjuta-juta orang dengan
mengajarkan mereka bahwa mereka diselamatkan oleh perbuatan baik.
Kami adalah Protestan yang setia. Tetapi sekarang, oleh rahmat Tuhan,
kami telah melihat bahwa hanya dalam Gereja Katolik ada keutuhan
iman Kristiani.
Perjalanan spiritual saya menuju iman Katolik
dimulai ketika selesai dari akademi, saya masuk sebuah seminari
Protestan Evangelikal yang ternama: Trinity Evangelical Divinity
School. Seminari ini sangat terkenal di kalangan Evangelikal karena
komitmennya kepada Alkitab sebagai satu-satunya otoritas bagi iman
dan praktek Kristiani. Baik pengajar maupun mahasiswa/i-nya dengan
keras dan tegas membela otoritas, inspirasi, dan kebenaran Alkitab.
Hal ini tidak dilakukan secara tidak intelektual seperti gaya kaum
"Fundamentalis". Kami mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani,
metode eksegesis dan prinsip-prinsip hermenetik (metode penafsiran
Alkitab), sejarah dan teologi. Kami membaca karya-karya para teologis
liberal dan belajar untuk berdebat dengan mereka dengan memakai
argumentasi-argumentasi mereka. Pendeknya, kami menganggap urusan
Alkitab suatu urusan yang sangat serius. Sungguh suatu lingkungan
yang memberi dorongan bagi kami untuk menggunakan daya pikir kami
sendiri dan memformulasikan posisi-posisi teologis yang punya dasar
kuat dengan bukti-bukti objektif yang tersedia dalam Alkitab.
Yang menarik adalah bahwa kami tidak pernah
membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja Perdana, dan juga termasuk
teolog Katolik manapun kecuali Santo Agustinus (karena dia dianggap
sebagai semacam pendahulu Calvinisme) dan Santo Thomas Aquinas (karena
dampak tulisannya terhadap pemikiran Kristen sangat menonjol sehingga
sulit untuk diabaikan). Pada umumnya kami melompat dari jaman para
Rasul langsung ke jaman reformasi Protestan, sehingga pengalaman
saya terhadap ide-ide Katolik sungguh nyaris tidak ada sama sekali.
Akan tetapi ada dua hal yang sangat mempengaruhi pemikiran saya
terhadap Katolikisme, meskipun saya tidak menyadarinya pada waktu
itu.
Pertama, ketika saya bersusah payah dengan
Alkitab dan mempelajarinya dengan mendetail, saya mulai menyadari
bahwa Alkitab tidak mendukung teologi seperti yang telah diajarkan
kepada saya. Saya merubah posisi dari ajaran pre-milenialisme ke
amilenialisme. Saya tidak lagi percaya pada kepercayaan Protestan
yang umum seperti jaminan keselamatan mutlak bagi umat Kristen.
Saya tidak lagi percaya pada doktrin Sola Fide (bahwa kita dibenarkan
oleh iman saja), yaitu salah satu pilar Reformasi. Dan saya mulai
memegang pandangan sakramental terhadap pembaptisan dan Perjamuan
Kudus.
Saya merasa salah tempat secara teologis karena
tidak ada satupun denominasi Protestan yang punya pandangan-pandangan
yang sama seperti yang saya punyai, dan hal ini sangat mengganggu
pikiran saya. Beberapa profesor saya meyakinkan saya bahwa sepanjang
pandangan saya masih serasi dengan Alkitab dan masih termasuk dalam
garis besar kepercayaan Kristen yang "ortodoks". Tetapi
pendekatan yang netral terhadap doktrin Kristiani semacam ini membuat
saya khawatir, apa dasar persatuan Kristen jika seseorang bisa memformulasikan
doktrin-doktrin sesuai kepentingan dirinya sendiri? Bukankah karena
hal inilah maka Protestanisme telah terpecah-belah dan terus terpecah
sepanjang jaman?
Meskipun saya tidak merasa terpanggil untuk
memulai suatu denominasi saya sendiri, saya juga tidak merasa nyaman
secara teologis dalam denominasi-denominasi manapun yang ada. Saya
memutuskan untuk menyimpan beberapa pandangan pribadi dalam hati,
karena saya khawatir reaksi yang bisa timbul dari orang lain. Kekacauan
menyangkut penafsiran Alkitab diantara umat Protestan membuat saya
bertanya - setidaknya secara setengah sadar - apakah komitmen terhadap
inspirasi dan otoritas Alkitab sungguh-sungguh bisa merupakan suatu
faktor yang mempersatukan seperti yang dipercaya oleh kaum Evangelikal.
Faktor kedua yang merubah pemikiran saya adalah
pengalaman dengan pandangan yang tidak ortodoks yang dipromosikan
baik oleh pihak teolog-teolog Protestan yang liberal maupun kelompok-kelompok
konservatif. Pendukung-pendukung pandangan ini menengok pada Alkitab
untuk mendukung pendapat-pendapat mereka, tetapi banyak dari doktrin-doktrin
mereka adalah hasil kreasi sendiri, bahwa doktrin-doktrin ini tidak
pernah dipercaya oleh siapapun sepanjang sejarah Gereja.
Secara insting saya tahu bahwa ide-ide ini
tidak ortodoks, bahkan banyak diantaranya jelas-jelas bertentangan
dengan kredo-kredo (syahadat iman) yang dipegang oleh Gereja. Lantas
apa yang menjadi standard ortodoksi bagi saya, Alkitab atau syahadat
iman? Kalau saya condong kepada syahadat iman atau "iman Gereja
yang universal" untuk menyatakan bahwa suatu doktrin tidak
ortodoks, lantas bukankah saya menuruti sesuatu selain Alkitab saja?
Ini menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab: Apakah
ortodoksi itu sebenarnya? Apa yang menjadi standar ortodoksi Kristen?
Saya mulai meragukan bahwa pasti tidak hanya
Alkitab saja, karena tidak seorangpun dari kami setuju akan apa
yang dikatakan oleh Alkitab. Segala pendekatan Alkitabiah bisa dilawan
dengan suatu interpretasi yang berbeda atau malahan penolakan sama
sekali terhadap otoritas Alkitab. Saya semakin condong kepada syahadat-syahadat
dan kepada "iman universal Gereja" yang rada tidak jelas,
untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa apa yang saya percaya sifatnya
ortodoks.
Saya tidak mengetahuinya pada saat itu, tetapi
istri saya, Lorene, ternyata juga sedang dipersiapkan bagi perjalanan
spiritual kami menuju Gereja Katolik. Sewaktu di akademi dia mengikuti
kebaktian di gereja Reformed Baptist. Hal ini membawanya
kepada pemahaman yang sakramental terhadap Perjamuan Kudus dan pada
gilirannya dia mempengaruhi saya dengan doktrin ini.
Salah satu saudara perempuannya - yang suaminya
dibesarkan secara Katolik - kadangkala menunjuk kepada kekacauan
diantara kaum Protestan dan melontarkan pertanyaan bahwa bagaimana
mereka semua bisa mengaku memiliki doktrin Kristen yang benar, tetapi
berbeda pendapat dalam sekian banyak isyu. Istri saya tidak mampu
menjawabnya dan menurutnya tidak ada jawabannya. Dia berpegang pada
ide bahwa seseorang minta petunjuk Roh Kudus jika hendak membaca
Alkitab. Ini jawaban yang rasanya tidak memuaskan tetapi hanya itulah
yang bisa dia katakan.
Kira-kira dua tahun yang lalu saya ada di pasar-murah
milik Salvation Army (=Bala Keselamatan) dan melihat-lihat buku
bekas. Saya menemukan buku Katolikisme dan Fundamentalisme karangan
Karl Keating dan membolak-balik halaman-halamannya karena rasa ingin
tahu. Harganya cuma satu dollar, tapi nyaris saja saya taruh kembali
karena bagaimanapun ini buku tentang teologi Katolik. Tetapi, saya
berkata kepada diri saya sendiri, judul pasal-pasalnya sungguh menarik,
dan rasanya tidak berbahaya untuk mengetahui apa pandangan Katolik
tentang hal-hal ini.
Saya membeli buku tersebut dan mulai membacanya
pada waktu menumpang kereta di pagi hari menuju ke arah Chicago.
Saya berusaha membacanya secara simpatik dan mengakui bahwa kalau
saya melihat dari sudut pandang Katolik - terutama menyangkut pandangan
Katolik terhadap Alkitab - maka lantas teologi Katolik tampak koheren
dan masuk akal. Buku tersebut menjernihkan salah persepsi saya terhadap
apa yang sesungguhnya dipercaya oleh iman Katolik.
Saya menceritakan hasil observasi saya kepada
istri saya. Ini suatu kesalahan langkah. Kami langsung terlibat
dalam suatu perdebatan di kereta. "Kamu tidak akan masuk Katolik,
khan?" dia langsung menyemprot saya. Dia memberitahu saya sesudahnya
bahwa pikirannya dipenuhi dengan, "Bagaimana saya bisa menjelaskan
kepada keluarga saya tentang hal ini? Saya menikahi seminarian Protestan
dan dia malah masuk Katolik!" Saya mengambil langkah mundur
dan mengatakan kepadanya bahwa saya cuma bilang kalau... dan seluruh
topik tersebut untuk sementara tidak kami ungkit-ungkit lagi.
Akan tetapi rasa hormat saya terhadap iman
Katolik terus tumbuh. Saya sungguh mengagumi Sri Paus Yohanes Paulus
II - posisinya yang tegas terhadap imoralitas, dan penolakannya
untuk melunakkan pesan-pesannya kepada presiden Amerika Serikat
dan kepada warga Amerika Serikat, dan panggilannya terhadap kaum
muda Amerika untuk kembali kepada iman Kristen sungguh memukau saya.
Saya membaca buku karangan Charles Colson yang berjudul The Body
dan terkesan oleh peran yang dimainkan oleh Gereja Katolik dan
Ortodoks dalam meruntuhkan komunisme. Saya melihat umat Katolik
mengambil langkah-langkah dan memenuhi begitu banyak kebutuhan fisik
dalam nama Kristus. Sudah lama saya kecewa dengan gereja-gereja
Evangelikal kami karena karena banyak mengkritik problem-problem
sosial tetapi tidak berbuat banyak untuk mengatasinya. Saya melihat
umat Katolik di kota kami mempraktekan iman mereka - memberi makan
kepada orang miskin, memberikan tumpangan bagi kaum gelandangan,
merawat wanita-wanita yang hamil tanpa nikah dan anak-anak mereka.
Pada bulan Mei 1993, karena pernyataan-pernyataan
pro-Katolik yang saya lontarkan pada suatu kegiatan Bible-study,
sepasang suami istri yang kami kenal dari gereja Baptist yang sama,
memberitahukan kami bahwa mereka sedang menyelidiki iman Katolik.
Dave juga lulus dari seminari yang sama dengan saya, sehingga kami
mempunyai latar belakang teologis yang sama. Kami berbincang-bincang
selama seharian tentang hal-hal menarik yang kami temukan tentang
Gereja Katolik. Ujung-ujungnya, saya meminjamkan buku karangan Karl
Keating yang saya beli kepadanya sedangkan Dave meminjamkan saya
sejumlah kaset rekaman temu-wicara oleh Scott Hahn, seorang mantan
pendeta Presbiterian yang telah menjadi Katolik. Saya sangat menikmati
kaset rekaman tersebut, tetapi pada saat itu saya tidak sepenuhnya
terpengaruh oleh argumen-argumen Scott Hahn (baru nantinya saya
menyadari betapa besar pengaruhnya terhadap saya).
Tidak banyak hal yang terjadi, agaknya, sampai
bulan September, ketika Dave mengembalikan buku saya. Dia menceritakan
bahwa dia telah mengundurkan diri dari dewan deakon di gereja kami
dan bahwa dia beserta keluarganya mulai menghadiri Misa Kudus. Kami
terkejut, tetapi penuh rasa ingin tahu. Saya melihat Dave sebagai
idola spiritiual. Dia adalah seorang yang punya integritas, dan
saya tahu bahwa Dave tidak akan main-main dalam hal semacam ini.
Lorene dan saya tahu bahwa berita tentang Dave tidak akan diterima
dengan baik di gereja Baptis kami, dan kami telah memutuskan untuk
tetap menjaga persahabatan dan mendukung keputusan Dave dan istrinya
.
Kami mengundang mereka beberapa minggu sesudahnya
untuk berbincang-bincang. Kami hanya melontarkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan,
dan tidak berusaha untuk membuat mereka membatalkan keputusannya
untuk menjadi Katolik, tetapi untuk mengetahui apa yang telah mendorong
mereka membuat keputusan tersebut. Makin banyak kami berdiskusi
kami makin penuh semangat. Satu demi satu doktrin-doktrin Katolik
tampak berlandaskan Alkitab, logis, dan konsisten. Bahkan agaknya
malah meliputi seluruh Alkitab, termasuk ayat-ayat yang sulit ditafsirkan,
dan tidak memfokuskan diri terhadap sejumlah pilihan ayat-ayat tertentu.
untuk mendukung suatu posisi. Tampaknya dari kerangka pemikiran
Katolik, banyak dari ayat-ayat sulit tersebut tidak lagi menjadi
suatu masalah.
Kami menemukan bahwa kami sungguh-sungguh telah
salah persepsi terhadap umumnya ajaran iman Katolik yang sesungguhnya,
dan selalu ada jawaban yang bagus terhadap pertanyaan-pertanyaan
yang kami miliki. Sahabat kami tersebut tinggal sampai tengah malam
dan ketika mereka pulang, saya dan istri merasa seperti murid-murid
Yesus dalam kisah perjalanan ke Emmaus. Telinga kami serasa terbakar
oleh pengetahuan yang baru kami dapat. Akhir pekan itu tidak seorangpun
dari kami bisa menyingkirkannya dari benak pikiran kami, kami bahkan
nyaris tidak dapat tidur.
Istri saya membuat saya terheran-heran karena
dia mulai bicara tentang kepastian kami untuk menjadi Katolik. Saya
begitu shock karena tidak menyangka dia begitu terdorong menuju
Katolik. Tetapi sekali dia mengerti prinsip-prinsip dasar tentang
otoritas Sri Paus, peran Magisterium Gereja, dan peran Tradisi dalam
doktrin Kristen, dia mengerti bahwa sisanya tinggal mengikuti saja.
Saya sendiri belum sampai kesana. Saya punya banyak pertanyaan,
meskipun saya harus mengakui bahwa dalam hati saya ingin semuanya
benar.
Kami memulai eksplorasi yang serius terhadap
iman yang baru ini. Sebagai hasil penyelidikan ini, saya menemukan
bahwa dalam semua area teologis dimana saya berubah pandangan, saya
ternyata telah atau sedang menuju ke arah doktrin Katolik yang ortodoks.
Saya menjadi yakin bahwa umumnya "pengetahuan" saya akan
iman Katolik setidak-tidaknya telah disalah-tampilkan atau malah
jelas-jelas salah.
Di masa lalu, kalaupun saya tergerak untuk
membaca tentang Katolik, saya selalu membaca dari sumber-sumber
Protestan. Ini cenderung untuk memburuk-burukan iman Katolik dan
seringkali, sengaja atau tidak sengaja, telah memberi penerangan
yang salah tentang apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Gereja Katolik.
Dengan membaca dari sumber-sumber Katolik tentang doktrin Katolik
dan bukti-bukti yang mendukungnya sungguh merupakan suatu penglaman
yang membuka mata hati saya dan suatu tantangan. Saya dipaksa untuk
mempertimbangkan kembali hal-hal yang tadinya saya terima mentah-mentah.
Melalui penyelidikan ini saya melihat bahwa
meskipun reformasi Protestan disebut-sebut sebagai kembali kepada
"Alkitab saja" dibanding dengan "tradisi-tradisi"
Katolik, sesungguhnya paham-paham teologis yang terutama dari Reformasi
Protestan sama sekali tidak punya dukungan dari Alkitab. Kaum Reformer
memisahkan diri dengan Gereja Katolik pada dasarnya atas tiga doktrin:
pembenaran oleh iman saja, Sola Scriptura atau bahwa Alkitab adalah
satu-satunya otoritas, dan penyangkalan terhadap doktrin transubstansiasi.
Sewaktu masih di seminari saya telah meninggalkan
doktrin Sola Fide - bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja -
karena bertentangan dengan Alkitab (lihat Yakobus 2:21-26, Roma
2:6-13, Galatia 5:6, Matius 12:36-37). Poin selanjutnya bagi saya
adalah sewaktu saya mulai percaya pada Kehadiran Sejati Kristus
dalam Ekaristi. Saya sudah melihat Perjamuan Kudus sebagai suatu
sakramen, tetapi sekarang saya melihat bahwa Alkitab bahkan mengajarkan
lebih jauh lagi, bahwa roti dan anggur sungguh-sungguh menjadi tubuh
dan darah Tuhan Yesus. Bahkan yang lebih mencengangkan buat saya
adalah fakta bahwa ini merupakan pandangan ortodoks Gereja selama
1500 tahun sebelum para reformer Protestan datang dan meyakinkan
umat Kristen dari aliran kami (Calvinis) bahwa tidak demikian adanya.
Bahwa apa yang telah dipercaya oleh Gereja sepanjang berabad-abad
dan dipegang sebagai misteri iman yang terbesar, sesungguhnya bukan
misteri sama sekali, tetapi cuma sekedar perayaan ulang.
Saya membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja
yang paling terdahulu - Ignatius, Justin Martir, Irenaeus, Tertullian,
Hippolytus, Agustinus - dan menemukan bahwa mereka semua percaya
pada Kehadiran Sejati. Saya tidak lagi bisa memegang pernyataan
aliran Protestan kami yang mengatakan bahwa berjuta-juta umat Kristen
termasuk beberapa yang mengenal para Rasul secara pribadi, telah
disesatkan oleh Roh Kudus sampai Calvin dan Zwingli datang dan membawa
kebenaran. Meskipun para Reformer ini sendiri tidak bisa setuju
satu sama lain apa arti Perjamuan Kudus, mereka semua memaksakan
bahwa Gereja Katolik pasti salah!
Pijakan terakhir saya sebagai seorang Protestan
adalah ketika Sola Scriptura - doktrin yang menyatakan bahwa Alkitab
sebagai satu-satunya otoritas dalam hal iman - runtuh berkeping-keping.
Saya telah membaca dari buku Karl Keating dan mendengar rekaman
Scott Hahn bahwa doktrin tersebut tidak diajarkan dalam Alkitab,
dan bahwasanya Alkitab tidak pernah mengaku sebagai satu-satunya
sumber yang otoritatif terhadap iman kita. Banyak ayat-ayat menunjukkan
bahwa tradisi-tradisi dari para rasul, apakah tertulis ataupun lisan,
memiliki kuasa dan bahwa umat Kristen harus percaya dan mengikutinya
(lihat terutama ayat 1 Korintus 11:2, 1 Tesalonika 2:13, 2 Tesalonika
2:15, 2 Timotius 2:2, 2 Petrus 3:1-3).
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja adalah
pemelihara deposit iman seperti yang diwahyukan oleh Tuhan kepada
para Rasul. Demikian juga Paulus, ketika dia menyebut Gereja (dan
bukannya Alkitab) sebagai "pillar dan pondasi kebenaran"
(1 Timotius 3:15). Sebelumnya saya selalu mengabaikan argumen ini
meskipun saya tidak dapat menjawabnya. (saya terpikir tentang 2
Timotius 3:16 tetapi ayat ini hanya mengatakan bahwa Alkitab bermanfaat
bagi koreksi, latihan, dan lain-lain , tetapi ini tidak sama dengan
mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber bagi hal ini).
Di suatu petang, konsekuensi dari fakta-fakta
ini kena telak. Fondasi dari Protestanisme telah disapu bersih.
Kita kaum Protestan bersikeras bahwa segala doktrin kita harus punya
dasar di Alkitab, tetapi doktrin Sola Scriptura itu sendiri tidak
dapat ditemukan dalam Alkitab. Lantas saya menyadari bahwa posisi
Protestan sungguh didasarkan atas inkoherensi logis.
Setelah saya menjadi yakin bahwa pendapat para
Reformer ternyata salah semua di tiga hal diatas, maka tiada lagi
dukungan yang tersisa bagi Reformasi sama sekali. Meskipun rasanya
semua orang setuju, apakah Katolik atau Protestan, bahwa Gereja
Katolik perlu reformasi selama jaman Luther (bahkan para Paus juga
setuju), sulit bagi saya untuk percaya bahwa bisa dibenarkan untuk
mereformasi Gereja dengan cara memecah-belahnya menjadi ribuan kelompok-kelompoik
yang semuanya mengaku memegang doktrin yang benar tetapi menginterpretasikan
Alkitab secara berbeda dan jarang sekali bekerja sama satu sama
lain. Perpecahan dan perselisihan yang terus menerus terjadi, skisma
demi skisma, yang merupakan sifat-sifat Protestanisme, sungguh sulit
untuk dibenarkan dan jelas-jelas bertentangan dengan Alkitab (Yohanes
10:16, 17:20-23, dan 1 Korintus 1-3).
Setelah melampaui semua hal ini dan banyak
isu-isu lainnya, saya dan istri merasa hanya tinggal dua pilihan
yang tersisa: turun jadi seorang agnostik rasionalistik atau naik
menyongsong iman Kristen yang utuh dalam Gereja Katolik. Ini bukan
suatu pilihan sama sekali, sebab kami sangat mengasihi Yesus dan
tidak akan pernah menjadi seorang agnostik (tidak peduli akan Tuhan).
Kami diterima ke dalam Gereja Katolik dan menerima sakramen penguatan
pada tanggal 8 Februari 1994. Kami sungguh berbahagia menjadi Katolik,
meskipun transisi - terutama hal memberitahu kawan-kawan dan keluarga
tentang keputusan kami - sungguh sulit.
Karena lingkungan Gereja Katolik berbeda dengan
Protestan Evangelikal, kami masih dalam proses adaptasi, tapi saya
merasa seperti Kardinal Newman, yang setelah bergabung dengan Gereja
Katolik, beliau berkata bahwa dia merasa seperti kapal yang akhirnya
berlabuh di pelabuhan. Kami tidak lagi harus "terombang-ambing
oleh rupa-rupa angin pengajaran" (Efesus 4:14). Kami tidak
lagi harus melanglang buana untuk meyakini bahwa apa yang kami percaya
adalah ortodoks.
Sekelompok imam dan awam Katolik memberikan
dukungan moral bagi kami dan telah memberikan pelayanan kasih Kristus
melalui doa-doa dan dukungan mereka selama peziarahan kami kedalam
Gereja Katolik. Perjalanan spiritual kami telah membawa kesempatan-kesempatan
baru bagi kami dalam hal ibadah Kristen dalam liturgi, kekayaan
sakramen yang luar biasa, dan kekayaan spiritualisme Katolik yang
tak terbatas. Semua hal ini meyakinkan kami bahwa kami telah pulang
ke rumah.
|