 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Kesaksian Saya:
Dari Ateis Menjadi Baptis Dan Akhirnya Katolik
oleh Gary Hoge
Ketika saya masih kecil, ayah saya mengajarkan
saya hal-hal yang mendasar tentang Allah dan dia membacakan saya
dan saudara saya Alkitab versi anak-anak. Saya sangat suka mendengarnya,
dan melihat gambar-gambarnya yang indah, tetapi entah mengapa, saya
tidak pernah sungguh-sungguh membangun iman kepada Allah. Mungkin
karena waktu itu saya pikir pergi ke gereja itu sangat membosankan,
atau mungkin karena pengaruh ibu saya yang agnostik (tidak peduli
akan Allah). Meskipun dia tidak pernah secara terbuka menghalangi
saya untuk beriman pada Allah, akan tetapi dari dialah sejak kecil
saya tahu bahwa ada orang-orang yang tidak percaya eksistensi Allah.
Dan tampaknya bagi saya sewaktu umur saya makin bertambah, bahwa
biasanya orang-orang yang pintar itu tidak percaya akan Allah.
Saya tidak ingat pada umur berapa akhirnya
saya kehilangan sedikit iman yang saya miliki, tetapi sewaktu saya
menginjak sekolah menengah umum, saya telah mengaku sebagai seorang
ateis. Mungkin lebih tepat kalau saya dianggap agnostik, karena
kalau anda mendesak saya mungkin saya harus mengakui bahwa saya
tidak dapat yakin 100% bahwa Allah itu tidak ada, walau saya sungguh
percaya memang tidak ada Allah. Saya merasa agama cuma buat orang-orang
yang lemah yang tidak dapat menghadapi kenyataan. Sejauh pemikiran
saya, manusia telah menciptakan Allah seperti gambaran dirinya berabad-abad
lalu demi untuk menjelaskan alam semesta. Tetapi ilmu pengetahuan
berkembang, dan kita mulai mengerti proses alam yang mengatur alam
semesta. Seiring perjalanan waktu, kita mendapat kemajuan-kemajuan
di bidang astronomi, fisika, dan biologi, dan tampak bagi saya bahwa
makin berkurang keperluan menggunakan Allah untuk menjelaskan berbagai
hal-hal. Saya dapat melihat saat dimana kita akhirnya mengerti sepenuhnya
mekanika dunia materi ini sehingga Allah sama sekali tidak diperlukan
lagi. Saya merindukan saat itu, karena saya percaya dunia akan menjadi
jauh lebih baik tanpa adanya agama. Lebih enak buat saya, karena
saya dapat melakukan apa saja yang saya sukai tanpa perlu diingatkan
bahwa saya adalah seorang berdosa dan bahwa tindakan-tindakan tertentu
adalah salah. Apa hak orang-orang ini untuk menghakimi saya?
Tetapi sikap saya mulai berubah sewaktu musim
dingin tahun 1985. Pada waktu itu saya adalah seorang mahasiswa
di Virginia Tech, di Blacksburg, Virginia. Untuk pertama kalinya,
saya mulai menyadari sisi gelap dari falsafah ateisme. Saya tadinya
berpikir ateisme telah melepaskan dari belenggu agama supaya saya
dapat hidup semau saya, tetapi saya mulai merasakan bahwa hidup
sekehendak hati sebetulnya tidak sungguh-sungguh menyenangkan. Bahkan
tampak hampa yang tidak memiliki arah. Meskipun saya tidak tahu
apa alasannya, saya mulai merasa tidak tenang dan tidak puas. Saya
menginginkan sesuatu yang lebih, tetapi saya tidak tahu apakah itu.
Saya rasa saya menginginkan supaya hidup ini bermakna. Toh saya
percaya bahwa semua manusia adalah sekedar kejadian biologis, hasil
dari berjuta-juta proses acak yang secara spontan dan faktor kebetulan,
menciptakan kehidupan. Kita hidup, kita tumbuh, dan kita mati, dan
setelah itu kita menghilang dari keberadaan. Pada akhirnya, apa
poinnya? Di masa lalu saya tidak memperhatikan hal ini karena saya
sibuk mencari kesenangan-kesenangan pribadi. Tetapi tampak ada semacam
hukum alam yang tidak dapat dipungkiri. Saya menemukan bahwa semakin
saya memiliki, semakin saya mengingini, dan semakin saya mendapatkan,
semakin kurang kepuasan yang didapat. Seolah seperti sebuah lelucon
yang kejam, dan saya mendapatkan diri saya semakin tenggelam ke
dalam keputus-asaan. Secara eksternal, saya memiliki segala hal,
secara internal saya tidak memiliki apa-apa. Saya mulai ragu apakah
saya akan pernah merasa bahagia lagi.
Lalu pada suatu hari saya sedang duduk di restoran
fast-food dan makan semangkuk makanan. Tiba-tiba sekilas muncul
dalam pikiran saya: "Bagaimana dengan Allah?" Saya tidak
tahu darimana munculnya pikiran itu, tetapi untuk pertama kali dalam
hidup saya merenungkannya dengan serius. Ada secercah harapan dalam
pikiran itu, pengharapan pertama yang saya lihat dalam kurun waktu
lama, dan memancar sekilas seperti sebuah mercu suar. Saya menyadari
bahwa banyak orang merasa hidup mereka bermakna lewat hubungan mereka
dengan Allah, dan saya cukup nekat untuk mempertimbangkan kemungkinan
tersebut. Tentunya, saya tidak ingin mengakui ide keberadaan Allah,
sekedar untuk menyemangati diri sendiri, tetapi saya merenungkan,
apakah ada sesuatu yang berharga dibaliknya? Bagaimana jika Allah
itu sungguh-2 nyata? Maka saya lanttas memutuskan untuk mencari
tahu. Teman sekamar saya adalah seorang Kristen yang menghadiri
sebuah gereja Baptis yang kecil di luar kota, dan saya memutuskan
untuk pergi bersamanya pada hari minggu berikutnya. Saya membayangkan
bahwa keinginan yang timbul mendadak untuk pergi ke gereja pasti
cukup mengejutkannya, tetapi dia berusaha menutup-nutupi keheranannya.
Mungkin dia tidak ingin membuat saya mengurungkan niat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, saya berada
di Gateway Baptist Church, mendengarkan seorang bernama Dewey Weaver,
yang merupakan bentuk nyata stereotip seorang pengkotbah Baptis.
Aksennya, gaya rambutnya, dan cara dia melambaikan Alkitabnya adalah
hal-hal yang dulunya saya jadikan bahan olok-olok. Saya merasa seperti
seorang idiot karena berada disana. Apa yang saya pikirkan? Saya
berharap teman saya tidak tahu. Tetapi pasti ada hal yang menarik
dari kata-kata pastor Weaver, karena minggu berikutnya, saya pergi
lagi kesana. Bahkan saya terus kembali minggu demi minggu. Setelah
beberapa lama saya tidak lagi memperhatikan gaya pastor Weaver,
dan saya menyukai rasa humornya, dan terlebih penting, pesan yang
dikotbahkan menunjukkan mengapa saya berada dalam keputus-asaan:
Yaitu karena saya adalah seorang berdosa yang sangat membutuhkan
seorang juru selamat. Saya telah pernah mendengarnya sebelum nya,
tentunya, dan meremehkannya sebagai omongan yang bodoh, tetapi kali
ini omongan tersebut mulai terekam dalam benak saya. Yesus bukan
seorang pengkotbah dari Galilea yang mengumandangkan sejumlah ajaran
tentang menjadi baik, dan Dia juga bukan seorang nasionalis Yahudi
yang terlibat kesulitan dengan penguasa Romawi. Menurut pastor Weaver,
Dia adalah Allah dalam rupa manusia, yang mengasihi kita sedemikian
besar sehingga Dia menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa
saya, supaya saya dapat dimaafkan.
Saya sedang memikirkan pesan injil pada suatu
malam waktu saya berangkat tidur, dan untuk pertama kalinya buat
saya semua menjadi masuk akal. Saya terheran-heran oleh logika dibaliknya,
dan betapa itu dapat menjelaskan dengan tepat kondisi manusia, terutama
saya sendiri. Saya sungguh mempercayai pesan yang aneh dan bodoh,
yang dulu pernah saya heran kenapa ada orang-orang yang mempercayainya.
Dan sekarang, semua tampak begitu jelas, dan saya merenungkan mengapa
selama ini saya begitu buta.
Malam itu saya meminta Yesus untuk mengampuni
semua dosa-dosa saya, dan saya memintaNya untuk datang ke dalam
hati saya, seperti dijelaskan oleh pastor Weaver. Saya berjanji
untuk mengikuti Tuhan sejak hari itu, sebaik mungkin.
Beberapa hari sesudahnya saya mendatangi sebuah
toko buku Kristen untuk mendapatkan bahan bacaan untuk menolong
saya memahami iman yang baru ini. Saya menyukai ide tentang Yesus,
tetapi saya masih tidak peduli tentang konsep agama yang terorganisir.
Maka secara alami buku-buku seperti "How to Be a Christian
without being Religius, oleh Fritz Ridenour, menarik hati saya dan
saya membelinya. Saya juga membeli buku karangan D. James Kennedy,
"Why I Believe, and Truths that Transform." Buku-buku
seperti ini membentuk fondasi teologi Kristen saya, yang secara
alami menyerupai teologi Calvinis dan Injili para pengarangnya.Saya
juga membaca sejumlah buku membela iman, buku-buku yang menjelaskan
dasar rasional dari kebenaran Kristiani. Penting buat saya untuk
mengetahui kenapa saya percaya apa yang saya percaya, baik untuk
saya sendiri dan juga karena saya ingin dapat membela diri terhadap
orang-orang yang berasumsi seperti saya dulu, bahwa orang Kristen
pasti orang yang bodoh.
Saya berhasil lulus dari universitas dan setahun
sesudahnya Tuhan memberkati saya dengan seorang istri yang terbaik.
Beberapa tahun kemudian Dia memberkati saya kembali dengan seorang
anak laki-laki. Saya membaca Alkitab dan bahkan belajar sedikit
bahasa Yunani supaya dapat membaca Perjanjian Baru dalam bahasa
aslinya. Tetapi satu hal yang tidak pernah dapat saya lakukan adalah
mencari sebuah gereja diman saya merasa nyaman sepenuhnya. Menurut
hitungan saya, saya dan istri telah mengunjungi dua belas gereja
yang berbeda di wilayah Virginia Utara. Ada gereja Baptis, Assemblies
of God, Presbiterian, satu diantaranya bahkan Messianic Jewish,
tetapi umumnya adalah "gereja non-denominasi" yang biasanya
umumnya berarti semi-Baptis. Saya menemukan hal-hal yang baik di
setiap gereja-gereja ini, dan orang-orang yang baik, tetapi saya
perhatikan bahwa setiap kali saya pergi ke sebuah gereja baru, saya
mendengar teologi yang baru pula. Dan cepat atau lambat saya menemukan
sesuatu dalam teologi itu yang bertentangan dengan keyakinan saya.
Mungkin mereka punya pandangan tentang akhir jaman yang saya anggap
aneh, atau mereka menolak kemungkinan tentang karunia-karunia karismatis
(saya sendiri bukan karismatis, tetapi saya pikir salah kalau orang
menolak ide ini, apalagi begitu jelas diajarkan dalam Alkitab).
Kita menghadiri sebuah gereja Episcopal yang semi-karismatik yang
sangat kami sukai, sampai saya mendapatkan bahwa mereka membaptis
bayi-bayi. Akhirnya kami pindah ke sebuah gereja "berdasarkan
Alkitab". Kami tidak puas sepenuhnya, tetapi kami sudah capai
pindah-pindah gereja.
Sepanjang tahun-tahun tersebut, satu gereja
yang sama sekali tidak pernah masuk hitungan saya adalah Gereja
Katolik. Saya tidak percaya bahwa Sri Paus adalah sang anti-Kristus,
ataupun hal-hal seperti demikian, tetapi saya tidak percaya bahwa
iman Katolik penuh dengan ajaran-ajaran yang tidak terdapat di Alkitab.
Baiklah mungkin saya mau mengakui bahwa Katolik adalah sebuah Gereja
Kristen, tetapi nyaris tidak memenuhi syarat (dan hanya karena saya
ketemu seorang Katolik yang menunjukkan rasa tertarik akan Allah).
Secara umum, saya merasa siapapun yang membaca dan percaya pada
Alkitab akan menjauh dari iman Katolik. Saya berasumsi berjuta-juta
orang Katolik karena terlahir sebagai Katolik, dan nyata bahwa mereka
tidak tahu sama sekali tentang Alkitab. Saya kasihan kepada mereka
dan saya berharap mereka suatu hari membaca Alkitab sendiri tanpa
bantuan Sri Paus. Kalau itu terjadi, pasti status mereka akan segera
berubah menjadi mantan-Katolik.
Sayangnya, umumnya orang Katolik yang saya
kenal sama-sama tidak tertarik pada Alkitab, Yesus, atau Allah.
Mereka sepenuhnya sekuler, sama sekali tidak berbeda dengan orang
bukan Kristen, kecuali bahwa mereka pergi ke gereja sekali-sekali,
yang agaknya seperti sebuah beban bagi mereka. (Seorang teman saya
mengatakan tujuannya setiap hari minggu adalah masuk gereja, "memberikan
satu jamnya", dan keluar). Saya sungguh tidak ingin menjadi
bagian dari sebuah gereja yang menghasilkan kualitas rohani yang
sekarat seperti itu.
Tetai suatu hari seorang teman Kristen di tempat
kerja muncul di ruang kantor saya dengan sebuah buku di tangannya.
Dia mengatakan seorang Katolik sahabatnya telah memberikan buku
itu. Judulnya "Catholicism and Fundamentalism" oleh Karl
Keating. Katanya isinya membela iman Katolik terhadap serangan-serangan
kaum Fundamentalis anti-Katolik, dan sekaligus menunjukkan bahwa
iman Katolik menawarkan penjelasan Alkitab yang lebih baik dan lebih
koheren ketimbang Fundamentalisme Protestan. Jujurnya, saya merasa
geli bahwa seseorang punya keberanian untuk mencoba membela iman
Katolik dengan berdasarkan Alkitab. Saya yakin pasti mudah untuk
membantah argumen-argumen Karl Keating karena saya tahu bahwa teologi
Katolik sangat tidak sesuai dengan Alkitab.
Maka saya membaca buku itu dan saya gembiara
bahwa Mr.Keating adalah seorang penulis yang punya rasa humor yang
besar. Pertama, saya membacanya seolah sebagai seorang jaksa penuntut,
mencari kelemahannya. Tetapi saya terheran bahwa orang ini ternyata
rasional dan pintar bicara, dan apa yang dikatakannya sungguh masuk
akal. Saya mulai membacanya dengan lebih simpatik, dan saya sungguh
mencoba untuk mengerti apa yang dikatakan Mr.Keating. Setelah mendengar
sendiri teologi Katolik dari sumber Katolik, menjadi jelas apa yang
tidak saya pahami sebelumnya. Saya heran menemukan bahwa Gereja
Katolik tidak mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Alkitab
seperti yang pernah saya percayai, dan apa yang sesungguhnya diajarkan
sesungguhnya punya dasar Alkitab yang kuat. Saya menyadari bahwa
selama ini saya telah menyerap banyak kesalah-pahaman tentang iman
Katolik. Masalahnya, karena selama ini yang saya dengar semua berasal
dari sumber Protestan. Dengan heran saya juga menemukan bahwa sekali
saya mengerti dasar-dasar iman Katolik, saya tidak dapat membantahnya.
Boleh jadi saya tidak yakin hal itu benar, tetapi saya juga tidak
dapat membuktikan bahwa itu salah, dan ini membuat saya jengkel.
Kalau ada suatu hal yang saya ingin merasa yakin, maka itulah iman
saya. Saya ingin tahu apa yang saya yakini dan mengapa saya meyakininya.
Tetapi sekarang setelah membaca buku ini, saya merasa tidak nyaman
di lubuk hati bahwa ternyata interpretasi Katolik atas Kitab Suci
sesungguhnya lebih masuk akal ketimbang interpretasi saya sendiri.
Seperti saya katakan, saya tidak begitu saya
diyakinkan bahwa Katolik benar, tetapi saya tahu saya tidak akan
dapat beristirahat sampai saya mendapatkan jawabannya. Maka saya
mulai membaca segala yang bisa saya dapatkan. Saya mencari buku-buku
apologetika Katolik maupun Protestan. Saya membaca buku karangan
James Akin, Dave Armstrong, Scott Hahn, Mark Shea, diantara banyak
lainnya di sisi Katolik, dan Geisler, Kennery, Ridenour dan Scott,
di sisi Protestan. Secara umum, kesan saya adalah bahwa para pengarang
Protestan tidak mengerti teologi Katolik dengan baik, karena mereka
terus mengkritik hal-hal yang tidak diajarkan oleh Gereja Katolik.
Argumen-argumen Katolik tampak bagus dan saya berharap salah satu
pengarang Protestan dapat menandinginya, tetapi mereka tidak pernah
bisa. Setelah saya semakin memahami argumen teologi Katolik, saya
menemukan bahwa saya dengan mudah melawan argumen Protestan terhadapnya,
di lain pihak saya tidak dapat melawan argumen Katolik terhadap
teologi Protestan.
Saya mulai mempertanyakan secara serius fondasi
doktrin-doktrin Protestanisme: sola fide dan sola scriptura. Gereja
Katolik memberikan argumen kuat bahwa doktrin ini tidak diajarkan
dalam Alkitab, dan bahkan keduanya ditolak oleh Alkitab. Tidak hanya
itu, kedua doktrin tersebut tidak diajarkan oleh siapapun sebelum
gerakan Reformasi Protestan. Saya merasa argumen Protestan dalam
hal ini tidak meyakinkan. Mereka tampak mengambil Alkitab diluar
konteks dan mengenyampingkan ayat-ayat yang bertentangan dengan
interpretasi mereka. Kadang mereka mengutip dari sumber Kristen
perdana yang tampak mendukung posisi mereka, tetapi mereka mengabaikan
hal-hal lain oleh penulis yang sama yang menjadikan jelas bahwa
mereka tidak mendukung argumen Protestanisme. Karena Protestan adalah
pihak yang memisahkan diri dari Gereja dan menuduh Gereja telah
terkorupsi, saya tahu bahwa beban untuk membuktikan hal ini ada
pada pundak mereka, dan sejujurnya, saya merasa mereka tidak berhasil
membuat argumen yang kuat.
Makin saya mengerti teologi Katolik, semakin
saya merasa bahwa Katolik lebih sesuai dengan Alkitab ketimbang
teologi saya. Kenyataan ini sangat mengganggu saya karena saya sangat
menjunjung tinggi Alkitab. Saya bangga sebagai Protestan Injili
karena kita punya reputasi sebagai kaum yang meninterpretasi ayat
Kitab Suci secara literal, dan kita sering dijulusi "Bible
Christian". Tetapi setelah saya mempelajari interpretasi Katolik,
saya merasa bahwa interpretasi Katolik lebih benar dan sesuai dengan
arti teks Kitab Suci, dan memang benar adanya apa yang dituliskan
oleh Mr.Keating dalam bukunya.
Kaum Fundamentalis menggunakan Alkitab untuk melindungi ajaran-ajaran
yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, yang di-interpretasikan sedemikian
supaya membenarkan apa yang mereka pegang, meskipun umumnya kaum
Fundamentalis percaya bahwa apa yang mereka percaya datang langsung
dari teks Kitab Suci. Mereka tidak ragu-ragu untuk membaca secara
diluar konteks kalau perlu demi untuk memelihara posisi mereka -
posisi yang mendahului interpretasi atas Kitab Suci (pre-konsepsi).
Saya menemukan bahwa pada kasus-kasus dimana
Katolik dan Protestan tidak setuju menyangkut interpretasi Kitab
Suci, ironisnya, justru adalah Katolik yang menginerpretasikan Kitab
Suci secara literal, sedangkan kita Protestan memberikan interpretasi
yang figuratif dan alegori. Beberapa contoh untuk menggambarkan
ini:
Ketika Yesus berkata, "Kamu harus dilahirkan
lewat air dan Roh," Katolik meninterpretasikan secara literal:
"air" ya maksudnya "air", yakni pembaptisan.
Tetapi sebagian Protestan mengatakan bahwa air menunjuk pada sesuatu
hal yang lain, mungkin kotbah Injil, ataupun cairan ketuban dari
kelahiran seorang bayi.
Ketika Paulus berkata Yesus membersihkan gerejaNya dengan "pembasuhan
air," Katolik meng-interpretasikan ini secara literal. "Pembasuhan
dengan air" sama dengan "pembasuhan dengan air",
satu lagi referensi terhadap pembaptisan. Tetapi sebagian Protestan
mengatakan hal ini menunjuk pada sesuatu yang lain, mungkin maksudnya
Kitab Suci.
Ketika Yesus berkata, "Jika kamu mengampuni dosanya, maka mereka
diampuni; jika kamu tidak mengampuni, maka mereka tidak diampuni,
" Katolik lagi-lagi memahaminya secara literal dan percaya
bahwa Yesus memberikan otoritas kepada para rasul-rasulNya untuk
mengampuni dosa dalam nama-Nya. Tetapi sebagian Protestan mengatakan
bahwa ini cuma sebuah referensi atas otoritas para rasul untuk mengabarkan
Injil.
Lagi, ketika Yesus berkata, "Inilah tubuh-Ku," dan "barangsaiapa
makan dagingKu dan minum darahKu mendapat hidup yang kekal, "
Katolik memahaminya secara literal. Ekaristi adalah tubuh-Nya dan
sungguh-sungguh daging dan darah-Nya, meskipun tidak tampak demikian.
Tetapi umumnya Protestan mengatakn roti dan anggur tetap sebagai
roti dan anggur dan bahwa sekali lagi kita tidak boleh mengambil
kata-kata Yesus secara literal.
Ketika Yakobus berkata, "Kamu lihat bahwa manusia dibenarkan
karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman,"
Katolik memahaminya secara literal. "Bukan hanya karena iman"
sama dengan "bukan hanya karena iman." Tetapi Protestan
bersikeras bahwa "bukan hanya karena iman" sesungguhnya
artinya kita dibenarkan oleh iman saja. Ini sebenarnya adalah salah
satu doktrin inti Protestanisme, yakni Sola Fide.
Sungguh ironis! Tampak bagi saya bahwa teologi Katolik biasanya
membiarkan ayat Kitab Suci memiliki arti sebagaimana tertulis, tanpa
tafsiran dan pelintiran bahasa yang ruwet yang kadang diperlukan
untuk mendukung teologi Protestan. Saya merasa tidak nyaman bahwa
banyak ayat-ayat yang problematis dalam Kitab Suci, muncul karena
saya memaksakan pengertian Protestan terhadap Kitab Suci. Pemahaman
Katolik tampak lebih cocok dengan mudahnya.
Dalam riset saya, saya juga membaca sejumlah
tulisan-tulisan perdana orang-orang Kristen, yakni orang-orang yang
belajar injil langsung dari para rasul, atau dari penerus sesudahnya.
Sebagai seorang Protestan saya tidak pernah mendengar hal ini. Saya
tidak pernah mendengar tentang murid rasul Yohanes, Ignatius dari
Antiokia dan Polycarpus dari Smyrna. Saya juga tidak pernah mendengar
tentang Irenaus ataupun Yustinus Martir. Saya tidak tahu bahwa orang-orang
ini dan sejumlah orang lainnya meninggalkan tulisan-tulisan yang
dapat memberi pencerahan menyangkut iman Gereja perdana. Dalam masa
12 tahun saya sebagai Protestan tidak seorangpun pernah memberitahukan
saya bahwa murid-murid para rasul meninggalkan kita tulisan-tulisan
yang menjadi saksi atas iman apostolik yang sejati. Tidakkah ini
hal yang aneh? Kita sesungguhnya memiliki komentar Kitab Suci dari
abad ke-2, yang sebagian ditulis oleh orang-orang yang mengenal
para penulis Kitab Suci secara pribadi. Mengapa kita mengabaikan
sumber yang luar biasa ini? Kita Protestan percaya bahwa Roh Kudus
berbicara pada kita, maka bukankah sudah sepantasnya melihat apa
yang Dia katakan kepada murid-murid dari para rasul-rasulNya, yang
banyak diantaranya menyerahkan nyawanya ketimbang menyangkal iman
mereka?
Saya pribadi jelas ingin mengetahui apa yang
mereka katakan. Orang-orang ini mengenal para rasul, hidup dalam
kultur yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama, dan sangat mungkin
membaca salinan-salinan asli dari kitab-kitab Perjanjian Baru dalam
bahasa asli mereka. Kalau ada seseorang yang tahu interpretasi Kitab
Suci yang benar, maka mereka pastilah orangnya. Maka saya membaca
semua surat-surat Ignatius dari Antiokia, dan Polycarpus dari Smyrna,
keduanya adalah murid-murid rasul Yohanes. Saya membaca tulisan
Irenaeus dari Lyons, yang adalah murid Polycarpus. Saya membaca
surat kepada jemaat di Korintus yang ditulis oleh Clement. Saya
juga membaca bagian dari surat Yustinus Martir kepada kaisar Romawi,
Antonius Pius, yang ditulis dalam memori para rasul, dan yang mencoba
menjelaskan iman Kristen kepada seorang bukan Kristen.
Tampak sangat jelas bagi saya bahwa Gereja
abad ke-2 sangat menyerupai Gereja Katolik dalam hal kepercayaannya
ketimbang gereja saya yang mengaku berdasarkan Alkitab. Ignatius,
murid rasul Yohanes, bahkan mengidentifikasi Gereja sebagai "Gereja
Katolik". Mereka memiliki uskup-uskup, imam-imam dan deakon-deakon;
mereka percaya mereka bisa kehilangan keselamatannya; mereka percaya
regenerasi pembaptisan (membawa kelahiran baru); mereka menganggap
Ekaristi sebagai suatu kurban, dan bahwa Ekaristi sungguh-sungguh
adalah Tubuh dan Darah Kristus, dan mereka percaya suksesi para
uskup di Gereja adalah standar keortodoksan iman Kristen. Mereka
memporak-porandakan asumsi saya mengenai Gereja perdana. Saya selama
ini selalu berasumsi bahwa Gereja perdana intinya adalah Protestan
dalam doktrin-doktrinnya dan doktrin-doktrin Katolik adalah hasil
korupsi iman yang muncul sekitar abad ke-5. Ternyata tidak demikian
halnya. Bahkan saya tidak dapat menemukan bukti-bukti bahwa doktrin-doktrin
Protestan seperti Sola Scriptura dan Sola Fide sudah ada sejak jaman
Gereja perdana. Ini sungguh membuat saya tercengang-cengang, dan
mengingatkan saya pada kata-kata terkenal dari mendiang mantan Anglikan
terkenal, John Henry Newman, "Untuk mendalami sejarah adalah
untuk berhenti menjadi seorang Protestan."
Semua ini mengguncangkan saya tetapi saat ini
saya berusaha melihat secara obyektif. Saya merasa beruntung karena
saya datang pada iman Kristen sebagai orang dewasa. Karena saya
tidak dibesarkan dalam iman Kristen Baptis, tidak tertutup kemungkinan
buat saya bahwa ada kesalahan. Oleh karena itu saya keluar dari
lingkaran dan mencoba melihat denominasi saya dan teologi saya secara
seobyektif mungkin. Saya heran menyadari bahwa teologi injili yang
saya pegang ada fenomena di Amerika yang umurnya tidak lebih dari
seratus lima puluh tahun, jauh lebih muda dari jaman para rasul.
Setelah membaca tulisan umat Kristen perdana, saya tahu bahwa mereka
pasti menolak teologi yang saya anut sebagai "injil yang lain"
(Gal 1:6-8).
Setelah semua yang saya pelajari, saya harus
mengakui bahwa penjelasan Katolik menyangkut Kitab Suci dan sejarah
jauh lebih benar ketimbang penjelasan denominasi saya, dan saya
menyadari bahwa jika saya ingin terus menjadi "umat Kristen
yang percaya Alkitab", saya harus menjadi Katolik. Sejauh yang
dapat saya katakan, penjelasan Katolik tentang iman Kristen adalah
konsisten dengan makna sederhana dari Alkitab, dan konsisten dengan
apa yang dipercaya oleh umat Kristen perdana dari jaman apostolik
hingga ke jaman Reformasi.
Protestantisme, di lain pihak, berlandaskan
pada dua doktrin yang tidak didukung oleh Kitab Suci, dan yang sepenuhnya
absen dari sejarah Kristen sebelum Reformasi. Saya tidak melihat
bahwa Protestanisme adalah kembali ke kemurnian Kristen perdana,
seperti telah diajarkan kepada saya sebelumnya, karena Gereja perdana
adalah Gereja Katolik. Oleh karena itu saya menyimpulkan, dengan
perasaan sedih, bahwa Protestanisme bukanlah "reformasi"
iman sama sekali, tetapi korupsi iman. Meskipun begitu, meskipun
pemecah-belahan Gereja adalah suatu hal yang tragis, Allah telah
membawa hal yang baik daripadanya. Sekarang ini, Protestan Injili
adalah termasuk umat Kristen yang terbaik dan paling berdedikasi
di dunia. Sulit untuk menyalahkan dalam hal ini. Oleh karena itu
saya membuat suatu website untuk membantu orang-orang baik ini,
para saudara-saudari saya dalam Kristus, untuk mengerti sebenarnya
tentang Gereja Katolik.
|