 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Kebenaran Tidak
Mengenal Warna
oleh Glen Allen
Apakah Gereja Katolik di Amerika adalah "agama
orang kulit putih" ? Bagaimana Tuhan bisa mengatasi rasa antipati
dan prasangka buruk rasialisme? Dalam presentasi video yang berjudul
"Truth Has No Color", mantan pendeta Pentakosta, Alex
Jones, memperkenalkan sesama mantan pendeta kulit hitam yang baru-baru
ini masuk Katolik, Glen Allen.
Glen Allen adalah anak ke-6 dari 10 bersaudara
dalam suatu keluarga kulit hitam. Dia dibesarkan di daerah proyek
rumah murah di kota Milwaukee. Glen mengalami sendiri sisi terburuk
dari huru-hara rasial di tahun 60-an dan 70-an. Pamannya sendiri
mati terbunuh dalam perjuangan oleh kaum kulit hitam untuk mendapatkan
hak untuk ikut pemilu di wilayah Selatan dan hari ini memorinya
dikenang di Civil Right memorial di kota Montgomery, Alabama.
Pada tahun 1967 Glen menyaksikan huru-hara
di Milwaukee dan ketika masih di sekolah menengah pertama, dia juga
bahkan terlibat dalam gerakan hal-hak sipil dan ikut berparade dengan
seorang imam Katolik bagi persamaan hak dan keadilan dalam mendapatkan
tempat tinggal bagi orang kulit hitam. Lewat kebaikan hati seorang
Katolik yang kaya-raya sehingga Glen bisa meninggalkan proyek perumahan
orang miskin dan menghadiri sekolah Yesuit yang berprestise tinggi.
Ironisnya, justru disanalah suatu peristiwa yang makin mengeraskan
kebenciannya terhadap orang kulit putih dan Gereja Katolik. Suatu
malam, orang-orang dari kota datang dan menyerang murid-murid yang
berkulit hitam. Glen sendiri dipukuli habis-habisan hingga salah
satu matanya menderita kerusakan dan harus berjalan dengan memakai
tongkat. Tidak satupun dari teman-temannya, orang Katolik yang berkulit
putih, yang membelanya. Karena rasa sakit hatinya atas peristiwa
ini, Glen memendam kemarahan yang sangat terhadap orang-orang kulit
putih.
Dalam kisah yang menggambarkan rahmat Allah
yang menyembuhkan kekerasan hati seseorang, Glen menemukan pesan
Yesus dalam Matius 7:4 (keluarkan dulu selumbar dari matamu) yang
membawanya untuk menyadari bahwa untuk mendapatkan keadilan, maka
dirinya sendiri pertama harus bersikap adil. Untuk mendapatkan kebenaran
maka kamu pertama harus menjadi benar. Kalau kamu tidak ingin dibenci,
maka kamu tidak boleh membenci. Dan kalau kamu ingin membasmi rasialisme,
maka pertama engkau sendiri tidak boleh menjadi seorang rasialis.
Demikian proses untuk menganggap para orang kulit putih sebagai
saudara-saudaranya, membawa hatinya yang dipenuhi kemarahan hingga
dia menjadi seorang pendeta Baptis.
Meskipun dibesarkan sebagai Metodis, banyak
dari anggota keluarga Glen mulai mencerminkan ketidak-samaan dari
denominasional Protestanisme. Beberapa saudara dan saudarinya meninggalkan
akar aliran utama Protestanisme dan menjadi Baptis, Pentekosta,
non-denominasional, fundamentalis, aliran "kesehatan dan kemakmuran".
Namun untungnya tidak ada diantara mereka yang jadi Katolik kata
Glen sambil tersenyum. Glen menjadi patah hati melihat keluarganya
terpisah-pisah dalam batasan-batasan denominasional. Sebagai seorang
pendoa, Glen bertanya kepada Tuhan. "Tunjukan kebenaran kepada
saya dan saya akan mengikuti kemanapun Engkau akan membawa saya."
Dan di Universitas Wisconsin dalam kelas sejarah Gereja, dia menemukan
tulisan-tulisan para Bapa-bapa Gereja perdana. Dalam video presentasinya
anda akan merunut perjalanan spiritualnya sewaktu dia menemukan
kebenaran dalam kutipan yang terkenal oleh almarhum Kardinal Newman.
"To be deep in history is to cease to be Protestant" (Jika
anda mendalami sejarah, maka anda akan berhenti jadi Protestan).
Berbagai kejadian-kejadian yang diceritakan
oleh Glen dalam kesaksiannya yang mendalam, akan membuat anda berpikir
keras dan menjadi sumber inspirasi. Anda akan tertawa dan boleh
jadi anda juga akan bersedih, ketika Glen menceritakan tentang kemenangan
Kristus atas kebencian dalam hidupnya, dan betapa kemenangan itu
juga membawa Glen untuk menemukan bukti-bukti yang menggunung dalam
Alkitab dan sejarah yang mendukung klaim-klaim Gereja Katolik.
Menurut sumber lain yang saya baca, di Amerika
ada sekitar 40 juta warga keturunan kulit hitam dan "hanya"
sekitar 2 juta diantaranya yang memeluk Katolik. Adalah suatu tantangan
besar untuk meraih sebagian besar warga kulit hitam yang belum mengenal
Gereja Katolik, atau malahan belum mengenal Kristus. Sungguh kesaksian-kesaksian
dari warga-warga kulit hitam yang menjadi Katolik bisa menjadi sumber
inspirasi bagi mereka, dan bahkan juga menjadi sumber inspirasi
bagi kita umat Katolik, untuk tidak boleh menjadi seorang yang rasialis,
membeda-bedakan orang karena latar belakang etnisnya dan memandang
rendah orang lain dari etnis-etnis tertentu, biasanya yang lebih
gelap kulitnya.
Glen Allen adalah warga Amerika keturunan Afrika
yang keluarganya terlibat dalam gerakan hak-hak sipil di Amerika
Serikat. Sebagai seorang pendeta Baptis di Milwaukee, Glen tadinya
percaya bahwa dia mengenal baik iman Kristen Baptis-nya maupun iman
Katolik, sampai ketika dia mulai belajar studi perbandingan agama-agama
di Marquette University. Glen sangat berbakat alami dan merupakan
seorang pembicara yang sangat mengesankan. Dia adalah pelajar Alkitab,
filsuf, pakar budaya kulit hitam dan kini seorang apologis Katolik
yang pandai bicara dan penuh dedikasi menerangkan dan membela iman
Katolik.
|