 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Perjalanan Kami
Oleh Larry dan Joetta Lewis
Ayah saya adalah pastor gereja Assemblies
of God (=Sidang Jemaat Allah). Kedua orang tua saya memiliki cinta
yang mendalam dan taat kepada Yesus Kristus. Hidup mereka menyatakan
siapakah Kristus itu.
Saya dengan jelas mengingat terbangun di tengah
malam oleh suara doa mereka. Berdoa bagi setiap orang di gereja
mereka. Meskipun kedua orang tua saya tidak pernah berkata-kata
dengan nada merendahkan kepada siapapun, termasuk umat Katolik,
banyak dari para pendeta yang saya temui tidak begitu murah hati.
Saya pernah mendengar lebih dari satu penginjil yang menjabarkan
secara terperinci tentang kesesatan-kesesatan iman Katolik. Bagi
mereka umumnya, sudah ada kesepakatan bahwa Gereja Katolik adalah
"pelacur Babel" dan Sri Paus adalah "sang Anti-Kristus".
Saya waktu itu berusia tigapuluhtahunan dan
menjabat sebagai pendeta gereja Metodis ketika saya bertemu pertama
kalinya dengan seorang biarawati Katolik, yaitu suster Monica Marie.
Joetta mengajar bersama-sama dengannya di Ursuline Academy di Dallas,
Texas. Melalui suster Monica Marie, Joetta mengalami pengalaman
yang dinamis dengan Roh Kudus. Dengan keheranan saya menemukan bahwa
suster ternyata sungguh-sungguh wanita yang mengenal Tuhan. Hati
saya merasa hangat hanya karena kehadirannya. Dia sungguh-sungguh
bertolak belakang dengan gambaran seorang biarawati dalam benak
pikiran saya.
Kontak pertama saya dengan seorang imam hanya
dua tahun yang lalu saja. Ketika menekuni program doktoral di Oral
Robert University, saya bertemu dengan Romo Amalor Vima dari India.
Sebagai kawan sekelas kami menghabiskan banyak waktu bersama-sama
dan menjadi kawan akrab. Dalam lingkungan inilah terjadi sesuatu
yang akan merubah hidup saya selamanya. Selama saat renungan dalam
satu dari acara-acara kami, Selmar Quayo, seorang uskup Metodis
dari Brazilia, berdiri dan berkata: "Di negara saya, sebagai
seorang Protestan, saya adalah minoritas. Sayangnya, ada banyak
rasa permusuhan antara gereja kami dan Gereja Katolik. Banyak dari
jemaat kami dipenuhi dengan rasa sakit hati terhadap semua umat
Katolik. Akan tetapi disini, Romo Vima adalah minoritas dan saya
tidak melihat sesuatupun dari hidupnya kecuali kasih terhadap Yesus
Kristus." Dengan air mata bercucuran di wajahnya dia berkata,
"Romo Vima, saya ingin anda memaafkan saya."
Saya menyaksikan ketika kedua pemimpin umat
Allah ini berpelukan. Tidak ada mata yang tidak basah oleh air mata
di ruangan itu. Dalam saat yang singkat tersebut pikiran saya mulai
membayangkan suatu kemungkinan baru - Protestan dan Katolik di seluruh
dunia bersatu, saling menyongsong dalam kasih, dan berlutut dalam
doa.
Dalam tindakan yang sederhana ini Selmar Quayo
telah menantang kami semua untuk menjadi pelayan rekonsiliasi. Pikiran
saya berputar-putar. "Bayangkan apa yang Roh Kudus dapat lakukan
jika Katolik dan Protestan sungguh-sungguh satu. "Firman Yesus
melintasi pikiran saya, "Jika engkau mempersembahkan kurban
di altar dan teringat bahwa ada sesuatu dalam hati saudaramu terhadap
engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan altar dan pergilah
dahulu berdamai dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan
persembahanmu itu" (Matius 5:23-24). Sewaktu saya menyaksikan
adegan tersebut terjadi saya nyaris dapat mendengar Yesus berdoa,
"Semoga mereka semua menjadi satu, Bapa . . . supaya dunia
percaya bahwa Engkau mengutus Aku" (Yohanes 17:21). Saya menyadari
pada saat itu bahwa saya harus menjadi pelayan rekonsiliasi.
Bertahun-tahun sebelumnya, Joetta dan saya
telah melakukan pelayanan di suatu gereja Southern Baptist di Tulsa,
Oklahoma. Setelah kebaktian, seorang wanita mendekati Joetta dan
bertanya kepadanya jika ia mau mendoakan Regan, nama anak perempuan
wanita tersebut. Akan tetapi dia tidak ingin menjelaskan latar belakang
keinginan tersebut. Joetta meyakinkannya bahwa dia tidak perlu mengetahui
apa keperluan doa tersebut karena Roh Kudus akan memerantarai bagi
Regan. Sampai setahun berikutnya, Joetta berdoa dengan setia bagi
sang wanita muda yang belum pernah ditemuinya.
Pada saat itu Joetta bekerja sebagai seorang
Technical Writer bagi perusahaan jasa penyewaan mobil Thrifty
Rent-A-Car. Suatu hari atasannya memberitahukan bahwa mereka telah
menerima seorang Software Trainer baru dan mejanya akan berseberangan
dengan meja Joetta. Mereka meminta Joetta untuk membuat sang karyawati
merasa akrab dan untuk membawanya keliling kantor mereka. Ketika
sang karyawati baru tiba, dia memperkenalkan dirinya sebagai Regan.
Dengan rasa terkejut, Joetta melihat seorang wanita muda dihadapannya
yang telah didoakannya selama berbulan-bulan! Tuhan pasti punya
maksud tertentu. Joetta dan Regan bekerja sama selama tujuh tahun
berikutnya. Meskipun mereka tidak pernah bersosialisasi diluar kantor,
mereka mulai membangun hubungan yang sangat akrab.
Suatu ketika di tahun 1995, Regan menceritakan
bahwa dia dan suaminya sedang mengalami masalah dalam perkawinan
mereka. Kelvin adalah seorang Katolik sedangkan dia dari gereja
Southern Baptist. Selama bertahun-tahun, Regan kadangkala menghadiri
Misa di gereja Katolik bersama Kelvin dan meskipun Kelvin tidak
merasa nyaman di gereja Baptis, dia ikut menghadiri kebaktian bersama
Regan dalam acara-acara khusus. Kompromi ini terus berjalan, sampai
mereka mempunyai anak-anak dan menyadari betapa masing-masing punya
perasaan kuat untuk mendidik anak-anak dalam iman masing-masing.
Regan merasa kesal dan kecewa karena Kelvin bersikeras untuk membaptis
dan membesarkan anak-anak mereka dalam Gereja Katolik. Mereka sedang
menghadapi jalan buntu ketika Regan datang menemui Joetta untuk
meminta nasihat.
Joeta mengatakan kepada Regan bahwa sebuah
rumah yang terpecah tidak dapat bertahan, dan bahwa penting kiranya
bahwa mereka berada dalam suatu gereja bersama-sama. Joetta menyarankan
bahwa, jika suami Regan tidak mau ke gereja Protestan bersamanya,
maka Regan harus pergi ke gereja Katolik bersama suaminya. Tuhan
akan memberkati perkawinan mereka jika Regan mau menurut pada otoritas
spiritual suaminya. Joetta memberitahukan kepada Regan tentang semacam
kelas yang diberikan dalam Gereja Katolik yang bisa dihadirinya,
tanpa komitmen, untuk mengenal tentang iman Katolik. Joetta mengatakan,
"Jika saya jadi engkau, saya ingin mengetahui anak-anak saya
akan diajarkan tentang apa saja, supaya saya bisa melawannya kalau
ada terdapat ajaran yang salah." Demi ketentraman hati Regan,
Joetta berkata, "Kamu pergilah menghadiri program tersebut,
bawalah semua materi pelajaran kepada saya, dan saya akan berikan
kepada suami saya Larry supaya dia bisa memeriksanya dan melihat
jika isinya sesuai dengan Alkitab."
Saya tidak pernah memperhatikan bahan-bahan
yang Regan berikan kepada Joetta kecuali dua hal. Yang pertama adalah
suatu artikel surat kabar oleh seorang jurnalis Lutheran yang isinya
mendiskusikan tentang penampakan-penampakan Bunda Maria. Sang pengarang
artikel telah memberikan seminar di paroki Regan dan mengisahkan
betapa Bunda Allah telah menampakan diri kepada enam anak-anak kecil
setiap hari sejak tahun 1981. Regan merasa begitu terpesona sehingga
dia membaca segala hal menyangkut kejadian tersebut yang bisa didapatnya.
Hal kedua yang dia berikan kepada kami adalah sebuah kaset kesaksian
oleh seorang wanita yang telah disembuhkan secara mukjijat pada
tempat penampakan yang sama. Wanita ini, seorang Kristen yang tadinya
paling cuma suam-suam kuku, begitu tersentuh oleh pengalaman tersebut
sehingga dia membaktikan seluruh hidupnya untuk melayani Kristus.
Saya mengangkat kertas tulisan ini dan bermaksud membuangnya. Akan
tetapi dalam sekilas saya masukkan ke dalam laci.
Pada minggu sebelum tanggal 25 Mei 1996, Regan
memberitahu Joetta bahwa dia akan pergi menghadiri Konferensi Maria
di Wichita, Kansas. Dia begitu bersemangat karena baik pengarang
artikel maupun wanita yang telah disembuhkan tersebut, keduanya
akan tampil sebagai pembicara. Akan tetapi, Regan merasa terganggu
oleh sebuah doa yang telah diterimanya dari bahan-bahan yang dikirim
sebelum konferensi yang nantinya akan diucapkan dalam doa pada waktu
konferensi. "Saya meminta, " dia berkata kepada Joetta,
"agar engkau dan Lary mau memeriksanya dan memberikan pendapatmu."
Sewaktu Joetta membaca doa tersebut, segera timbul segala macam
rasa khawatir. Dalam keadaan nyaris panik dia membawa doa-doa tersebut
kepada saya. Doa itu adalah doa "Konsekrasi kepada Hati Maria
yang Tak Bernoda". Sewaktu saya mulai membacanya, bulu roma
saya berdiri. "Hati Maria yang Tak Bernoda, aku memberikan
jiwa dan ragaku . . ." saya berhenti di tengah-tengah kalimat.
Rasa kemarahan memenuhi hati saya. "Ini doa iblis!" saya
berkata, "kita tidak memberikan jiwa kita kepada siapapun kecuali
Yesus. Katakan kepada Regan bahwa dia boleh pergi ke Konferensi
Maria tetapi apapun yang dilakukannya janganlah sekali-kali mengucapkan
doa ini." Dalam tiga hari berikutnya, sesuatu dalam lubuk hati
saya memberitahu saya bahwa saya telah membuat suatu kesalahan besar.
Penyesalan akan apa yang telah saya katakan memenuhi hati saya.
Saya memutuskan membawa fotokopi doa tersebut
kepada Romo Vima. "Saya tidak mengerti tentang doa ini, "
saya berkata. "Bagaimana boleh seseorang memberikan dirinya
kepada Maria dengan cara seperti ini?" Dengan kilatan di matanya
Romo Vima dengan lembut berkata, "Larry, pernahkah engkau memegang
Joetta dalam tangannya dan berkata, 'Aku mengasihimu, Aku menyanjungmu,
Aku mencium tanah yang engkau pijak'". "Ya," saya
dengan hati-hati menjawab. "Pernahkah engkau memandang matanya
dengan penuh kasih dan meyakinkannya akan kasih dan devosimu seutuhnya?
Pernahkan engkau mengucapkan kata-kata seperti, 'Aku ini milikmu
sekarang dan selamanya' 'Diriku dan segala harapan-harapanku adalah
milikmu.?'" Saya mulai mengerti maksud kata-katanya. "Secara
jujur, " saya mengaku, "saya telah menggunakan kata-kata
seperti itu.
Romo Vima lantas melanjutkan, "Umat Katolik,
tidak akan pernah berkata kepada Maria, 'kami menyembahmu.' Kami
menghormatimu. Kami memujimu. Tetapi kami tidak akan pernah mengatakan
'kami menyembahmu' karena penyembahan hanya ditujukan kepada Tuhan
saja. Itu adalah sesuatu yang hanya kami berikan kepada Yesus. Kami
menyembah-Nya. Dia adalah Raja diraja dan Tuhan dari segala tuan,
dan tidak ada seorangpun seperti-Nya. Kami percaya bahwa Maria,
sebagai Bunda Allah, mengasihi dan peduli terhadap kami. Apa yang
kami katakan dalam doa ini adalah, 'Segala diriku, aku letakkan
dalam tanganmu dan aku memintamu untuk membawaku kepada Puteramu,
Yesus.' Maria selalu menunjuk kepada Yesus."
Selama saya mendengarkan kata-kata Romo Vima,
saya mulai menyadari betapa salahnya saya. Dua perasaan muncul secara
bersamaan - rasa malu dan sukacita. Malu karena tuduhan saya, dan
sukacita akan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka.
Saya pulang ke rumah dan menemukan suratkabar
Maria yang saya taruh di salam satu laci baju dan mulai membacanya.
Sewaktu saya membawa menurut laporan apa yang dikatakan oleh Maria,
saya tersengat oleh kenyataan betapa pesan-pesannya begitu sesuai
dengan Alkitab - berdoa, bertobat, berpuasa, komitmen hidupmu kepada
Kristus. Ini jelas bukan pekerjaan Iblis. Saya berpikir keras, "Apakah
ini betul-betul Bunda Allah." Jika benar demikian, maka apa
yang dia katakan sungguh penting dan perlu kita perhatikan. Salah
satu dari pesan-pesannya yang sering diutarakan agak membingungkan:
"Berdoalah Rosario setiap hari." Joetta dan saya sama
sekali tidak tahu tentang Rosario. Mungkin sudah tiba waktunya untuk
mengetahui tentang doa ini.
Sewaktu Regan hendak pergi ke konferensi Maria,
Joetta memberikan sejumlah uang kepadanya untuk membeli sebuah Rosario.
Hubungan persahabatan antara mereka berdua telah menjadi tegang,
dan penuh emosi karena perihal Maria, dan Joetta merasa jika dia
memberikan kesempatan kepada Regan untuk menunjukkan cara berdoa
Rosario kepadanya, paling tidak mereka berdua tetap berdialog. Sekembalinya
Regan memberikan Joetta sebuah Rosario, dia berkata, "Bagusnya
orang yang membuat Rosario ini tinggal di dekat kota Tulsa, yaitu
di Claremone, Oklahoma. Dia menjamin, jika ada masalah dengan Rosarionya."
Makin Joetta perhatikan Rosarionya, makin timbul
rasa tidak sukanya terhadap potongan segitiga ditengahnya. "Tampaknya
seperti sebuah lambang berhala. Saya akan menelpon Two Hearts
Rosaries (=Rosario Dua Hati, nama pembuatnya) dan menanyakan
jika mereka bisa menukarkannya dengan yang lainnya."
"Marilah datang kesini," suara di
seberang sana menjawab, "karya tangan Bob dijamin, dan dia
akan dengan senang hati menukarkannya dengan sesuatu yang anda sukai."
Ketika kami tiba, Johanna istri Bob menanyakan Joetta tentang apa
yang salah dengan Rosarionya. "Ini...segitiga kecil ditengahnya,"
kata Joetta, "Saya tidak suka segitiga itu." Johanna memandang
Joetta dengan rasa heran, "Memangnya apanya yang tidak engkau
sukai?" "Hmm...gambarnya kelihatan terlalu....Katolik!"
Johanna tersenyum, "Rosario itu....ya
memang Katolik!" Sementara Joetta memperhatikan potongan segitiga
tersebut, Bob sedang berbagi cerita dengan saya tentang apa yang
mereka alami sewaktu berziarah di suatu tempat penampakan Maria
di Eropa. Saya berteriak kepada Joetta, "Mari sini dan dengarkan
cerita ini. Engkau tidak akan mempercayainya!" Mereka adalah
umat Katolik betulan pertama yang pernah bercakap-cakap dengan kami,
selain suster Monica Marie dan Romo Vima.
Bob mengisahkan kepada kami betapa Tuhan melalui
Maria telah merubah jalan hidup mereka. Sewaktu dia menceritakan
kisahnya, air mata mengalir di wajahnya. Dia mengaku bahwa dia belum
berhenti menangis sejak dia kembali dari peziarahan mereka. Dalam
kata-katanya sendiri, hatinya "telah luluh." Sekembalinya
mereka, Bob berhenti dari pekerjaannya di Amoco, suatu perusahaan
pertambangan raksasa. Dia bekerja sebagai teknisi laboratorium dan
telah bekerja untuk perusahaan tersebut selama lebih dari 21 tahun!
Tidak lama sesudahnya, Johanna berhenti dari pekerjaannya mengajar
di Tulsa University. Tuhan telah memanggil mereka untuk patuh dan
bergantung seutuhnya kepada-Nya.
Selama masa itu, Bob bertemu dengan seorang
biarawati yang menunjukkan cara membuat Rosario kepadanya. Bob memutuskan
untuk membuat dua Rosario: satu untuk berterima kasih kepada Maria
karena membimbing mereka kepada Yesus, dan satunya lagi untuk Yesus
karena menyelamatkan jiwanya. Yang lainnya tidak penting. Setiap
Rosario yang dibuat oleh Bob dibuat dengan penuh kasih oleh tangannya.
Dia menganggap setiap manik-manik sebagai sebuah doa yang dikirim
oleh Maria untuk mentobatkan dan membawa jiwa-jiwa kepada Yesus.
Pertobatan Joetta dan saya adalah hasil langsung dari doa-doa tersebut.
Setelah pertemuan kami dengan Bob dan Johanna,
emosi saya sungguh terguncang. Sewaktu kami berkendara pulang tak
seorangpun dari kami mengucapkan sepatah katapun. Seolah-olah kami
mengalami peristiwa epifani. Saya tidak dapat menjelaskannya. Saya
merasa telah mengalami kehadiran Yesus disana. Karena tidak ingin
langsung pulang ke rumah, saya berhenti di restoran Taco Bueno untuk
membeli minuman. Sewaktu kami berada di sana saling berpandangan
air mata mulai mengalir di wajah kami. Apa yang sedang terjadi terhadap
diri kami? Apa yang Tuhan minta dari kami?
Kehidupan kami rasanya seperti didorong ke
arah Gereja Katolik. Sebelumnya Regan telah memperkenalkan kami
kepada pemilik toko buku Katolik setempat, sehingga kami memutuskan
untuk pergi kesana untuk informasi lebih lanjut. Lee dan Anita dengan
ramah menyambut kami dan menunjukkan pada apa yang kami butuhkan.
Ketika kami menghitung pajak pendapatan pada akhir tahun itu, kami
baru menyadari bahwa kami telah menghabiskan lebih dari US$5000
untuk membeli buku-buku, kaset-kaset, video-video dan macam-macam
materi lainnya dalam rangka mencari kebenaran rohani! Kami tidak
pernah puas. Kami berada di toko milik Lee sampai tiga-empat kali
sehari. "Kami datang kesini untuk 'pengobatan' iman Katolik."
Lee dan Anita hanya tertawa berderai dan menunjukkan kami kepada
buku, kaset atau video lainnya. Seperti suatu kecanduan yang tidak
pernah memuaskan dahaga kami. Satu pertanyaan membawa kepada pertanyaan
lainnya dan lainnya. Sungguh merupakan suatu pengalaman yang mempesonakan.
Kami mulai tidur lebih telat dan bangun lebih
pagi untuk membaca sebanyak mungkin dalam satu hari. Kami memutuskan
untuk memaksimalkan waktu luang kami. Saya mulai mengantarkan Joetta
pergi bekerja dan menjemputnya supaya kami bisa membaca keras-keras
secara bergantian. Saya menjemputnya pada jam makan siang, dan meletakkan
dua kursi kebun dan meja dorong di bagasi dan berkendara ke taman
kota supaya kami bisa membaca tanpa interupsi. Kami mengambil giliran
- yang satu makan sedangkan yang lain membaca keras-keras. Kami
melakukan segalanya bersama-sama. Tuhan sedang berbicara dengan
penuh rahmat kepada kami. Membawa kami berdua secara bersamaan untuk
lebih mendalami-Nya.
Kami membaca buku Katekismus Gereja Katolik
dari awal hingga akhir. Buku Katekismus Gereja katolik adalah karya
teologis sistematik yang paling hebat yang pernah kami baca. Jawaban-jawaban
dari pertanyaan-pertanyaan yang telah lama kami cari-cari, bermunculan
seperti curah hujan lebat.
Saya ingat suatu hari Sabtu pagi yang tertentu.
Kami berdua bangun jam 4 pagi dini hari. Kami duduk di atas ranjang
dengan satu tangan memegang Alkitab sedangkan yang lainnya memegang
buku Katekismus Gereja Katolik. Saya akan berkata, "Joetta,
dengerkan ini. Sungguh fantastis. Yang ini sungguh membawa segalanya
menjadi terang!" Sebelum saya selesai, Joetta akan memotong
dan berkata, "Larry, tunggu, tunggu dulu. Dengarkan ini!"
Dia lantas akan membaca dari bagian lain dari buku Katekismus. Kami
membaca dari ayat-ayat Alkitab yang mendukung, lau meneliti tulisan-tulisan
pada Bapa Gereja Perdana dan kemudian memeriksa komentari Alkitab.
Pada waktu kami tersadar, waktu sudah menunjukkan jam satu siang!
Topik-topik seperti Kehadiran Sejati Kristus dalam roti dan anggur,
peran Maria dalam Gereja, doa-doa kepada orang kudus, Alkitab versus
Tradisi yang otoritatif versus Sola Scriptura, otoritas Sri Paus,
Api Penyucian, dan Penyelamatan sebagai suatu proses versus Penyelamatan
yang sudah komplit, kami mulai melihat semuanya dari sudut pandang
yang baru. Seolah-olah seperti menemukan potongan teka-teki yang
hilang dalam sebuah teka-teki teologis. Gambaran yang seutuhnya
mulai menjadi jernih.
Tuhan Yesus membawa kami melalui dua lintasan
secara berbarengan: yang satunya intelektual dan yang lainnnya emosional.
Kami telah mengucapkan doa Rosario, dan "parkir" di sofa
Bob dan Johanna sembari menanyakan pertanyaan demi pertanyaan tentang
doktrin, tradisi dan kebiasaan Katolik. Kami meminta kepada Tuhan
untuk menyatakan kepada kami kalau memang benar Dia sedang membawa
kami kedalam Gereja Katolik, karena tidak satupun dari ini masuk
akal bagi kami. Kami telah menghabiskan sepanjang hidup kami dalam
gereja-gereja Protestan dan merasa puas dengan pelayanan kami. Kami
sungguh-sungguh perlu mengetahui tentang Gereja kepada mana Tuhan
sedang memanggil kami. Tiga minggu sebelum kami mengambil keputusan,
saya mengucapkan doa ini. "Bapa, jika Engkau memanggil kami
kedalam Gereja Katolik, saya menginginkan suatu tanda, dan saya
ingin suatu tanda yang besar."
Beberapa hari setelahnya, kami sedang berkendara
pulang dari suatu perjalanan singkat ke Dallas. Ditengah perjalanan
kami menyaksikan matahari yang terbesar yang pernah kami saksikan.
Besarnya dari horizon ke horizon, dan tampak seolah-olah kami sedang
mengendara ke dalamnya. Suatu deretan warna-warni yang tidak dapat
dijelaskan lewat kata-kata - oranye, merah dan dadu. Sungguh suatu
hal yang luar biasa, sedemikian sehingga cucu lelaki kami yang masih
kecil, yang tadinya sedang tidur di kursi belakang, duduk dan berkata,
"Opa, opa lihat tidak? Indah sekali ya? Meskipun begitu cemerlangnya
tetapi kami masih bisa memandangnya secara langsung.
Sewaktu matahari terbenam kami mulai menyetel
kaset rekaman oleh Dr. Scott Hahn dan sembari terus melanjutkan
ke arah Oklahoma City. Sewaktu saya menatap ke langit malam saya
kembali berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, jika Engkau memanggil
kami ke dalam Gereja Katolik berikanlah kami sebuah tanda dan harap
berikanlah suatu tanda yang besar!"
Pada saat yang bersamaan, tanpa saya ketahui,
Joetta sedang menatap keluar dari jendela di sisi penumpang dan
berdoa dalam hati, "Santa Maria, jika engkau sungguh-sungguh
nyata, kami harus mengetahuinya melebihi segala keraguan apapun."
Tiba-tiba saya mendengar Joetta ternganga dan berkata, "Ya
Tuhan, Larry, Larry, lihatlah!" Sewaktu saya melihat ke sebelah
kanan, saya melihat apa yang tampak seperti untaian bintang-bintang
jatuh dalam gerak lambat dari sebelah kanan menurun ke sebelah kiri.
Tepat sebelum bintang-bintang tersebut menyentuh horizon, mereka
berganti arah dan melesat ke atas tegak lurus dan kemudian kembali
berubah arah bawah menuju bumi dan jatuh tepat di tengah-tengah
jalan raya. Biasanya sebuah "bintang jatuh" (=meteor)
melesat ke bawah dan bergerak begitu cepat sehingga anda tidak punya
waktu untuk memberitahu seseorang mengenainya. Kami berdua tidak
sanggup berbicara karena kami berdua menyaksikannya! Akhirnya Joetta
mengakhiri kesunyian, "Kamu lihat hal itu, bukan?" Kami
berdua jelas-jelas terguncang.
Saya menyetel sebuah kaset oleh penyanyi Katolik,
Dana, dimana dia menyanyikan seluruh Rosario, dan untuk selama empat
setengah jam berikutnya kami berdoa Rosario bersamanya. Kami selesai
tepat sewaktu kami mencapai jalanan keluar tol ke arah rumah kami.
Sewaktu kami memutar di jalan tol dan mengendara naik bukit, disana,
tergolek di atas jalan di depan kami, bulan-seperempat yang terbesar,
terindah, dan paling terang benderang yang pernah kami lihat. Seperti
juga waktu matahari terbenam, seolah-olah bulan itu duduk ditengah-tengah
jalann dan menjulang tinggi ke angkasa seperti matahari yang kami
lihat sebelumnya. Selama dua setengah mil (=4 km) kami menyaksikan
dengan penuh keheningan.
Sewaktu kami memutar di depan garasi rumah,
bulan tersebut menghilang. "Joetta, semua hal ini mengingatkan
kamu terhadap apa?" "Kitab Wahyu pasal 12 !!!" dia
berkata: "Suatu tanda besar muncul di langit: seorang wanita
yang berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kedua kakinya
dan suatu mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya."
Pada saat itu kami menyadari bahwa Roh Kudus tidak hanya membawa
kami ke Gereja Katolik, tetapi bahwa Maria yang menuntun di depan.
Dua bulan sesudahnya Joetta dan saya berlutut
di dalam sebuah kapel di kampus University of Tulsa dan mengucapkan
doa Konsekrasi kepada Hati Maria Yang tak Bernoda. Kasih kami terhadapnya
tanpa batas. Tadinya saya khawatir kalau dia akan mengalihkan kasih
saya kepada Yesus, tetapi apa yang saya temukan adalah kasih saya
kepada Kristus telah menjadi lebih dalam melebihi takaran. Sungguh
sudah melebihi takaran!
Pada tanggal 12 September 1997, saya menyerahkan
surat pentahbisan saya sebagai pendeta kepada uskup Bruce Blake
dari gereja United Methodist. Dengan melakukan hal itu, saya telah
melepaskan pelayanan 30 tahun sebagai pendeta Protestan untuk menjadi
Katolik. Bagi umumnya kolega-kolega saya, tindakan ini adalah suatu
kesalahan yang besar yang mengerikan, tetapi bagi Joetta dan saya,
ini adalah "pulang ke rumah."
Pada bulan Januari kami melakukan perjalanan
ziarah ke Roma untuk melambangkan keinginan kami untuk meletakkan
diri kami dibawah otoritas Sri Paus Yohanes Paulus II dan Gereja
Katolik Roma. Pada bulan Maret ini, Joetta dan saya pergi berziarah
ke Medjugorje, yaitu situs penampakan Maria di Eropa Timur untuk
berterima kasih kepada Santa Maria yang membawa kami kedalam Gereja
Katolik. Kami sekarang menanti-nanti dengan penuh semangat untuk
diterima dalam persekutuan penuh dalam Gereja Katolik pada pesta
Paskah mendatang. Ini adalah titik kulminasi dari perjalanan 23
bulan yang merubah jalan hidup kami. Terima kasih Maria karena membawa
kami pulang ke rumah.
|