 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
KEMBALI KEPADA TRADISI
APOSTOLIK
oleh Pendeta Alex Jones
Pastor dari Gereja Kristen Maranatha
Detroit, Michigan
Hak Cipta, 2000, Alex Jones.
Betapa besar dan indahnya karya Tuhan kita;
betapa dalam dan tak terselidiki rencana-rencana-Nya. Paulus telah
mengatakannya dengan tepat:
O alangkah dalamnya kekayaan, hikmat
dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya
dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.(Roman 11:33)
Penemuan terbesar dalam hidup saya terjadi
pada suatu malam musim panas yang hangat, di bulan Agustus 1958
ketika Roh Kudus membuka pintu-pintu kehidupan dan pengetahuan tentang
Allah kepada hatiku. Dari pengalaman religius di tahun 1958 ini
sampai sekarang suatu kehausan yang terus menerus telah meliputi
hati saya untuk mengetahui lebih jauh dan belajar lebih jauh tentang
Tuhan Allah yang menakjubkan ini dan Gereja-Nya yang mulia. Siapakah
Dia? Bagaimana rupa-Nya? Apa yang Dia inginkan? Apa yang menyenangkan
dan tidak menyenangkan hati-Nya? Bagaimana saya menjadi bagian dari
rencana-Nya yang besar? Apa yang telah dilakukan-Nya bagi orang
lain? Segala pertanyaan ini memenuhi hati saya pada malam bulan
Agustus tersebut dan masih belum hilang perasaan yang ditimbulkannya.
Selama empat puluh tahun terakhir saya berada
dalam peziarahan untuk mengetahui seakurat mungkin akan maksud-maksud
dan rencana-rencana Tuhan Allah yang menakjubkan ini. Selain daripada
studi di universitas dan gelar sarjana yang didapat dan karya paska-sarjana
dalam bidang Pendidikan, saya telah membaca banyak buku-buku, menghadiri
berbagai kebaktian di banyak gereja, berdialog dengan umat Kristen
dari berbagai latar belakang, berdebat dengan berbagai sekte-sekte,
menghadiri akademi Alkitab untuk beberapa lama, dan bereksperimen
dengan berbagai variasi dari latar belakang Protestan yang semakin
saya cintai. Saya telah berpegang pada teologi Arminian maupun Calvinis,
menerima dan lantas menolak eskatologi Premilenialisme, mempraktekkan
berbagai macam bentuk kebaktian religius, berkhotbah tentang kesucian
dan pengudusan, dan secara umum menikmati pengalaman-pengalaman
spiritual tradisi Pantekosta. Akan tetapi dibawah semua pencarian
ini, praktek-praktek ini, aktivitas-aktivitas ini ada dorongan kuat
untuk "menggali" lebih dalam, bertanya-tanya, dan menemukan
keinginan dan hikmat Allah.
Saya menemukan hikmat itu dengan secara kebetulan.
Yaitu selama persiapan bagi kelas studi Alkitab hari Rabu malam
menyangkut pasal 2 dari 1 Timotius ketika saya menemukan "harta
karun yang terpendam" ini. Mengejar informasi untuk merekonstruksi
tata ibadat abad pertama, saya membaca surat-surat dari para Bapa
Apostolik, dan disanalah, diantara tulisan para penulis Kristen
perdana, saya menemukan kebenaran yang lebih jelas dari Kristus
dan Gereja-Nya.
Akhirnya, setelah sekian tahun mencari saya
menemukan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya: Gereja-Nya memiliki
liturgi, punya hirarki, dan Gereja-Nya adalah Katolik. Saya mendapatkan
bahwa ketika Gereja tumbuh, ia menyimpan catatan tertulis menyangkut
urut-urutan suksesi sampai ke para Rasul sendiri. Klaim yang dibuat
Protestan bahwa ada "kelompok-kelompok studi Alkitab yang tersebar
di Gereja perdana", semata-mata fantasi belaka. Kelompok-kelompok
seperti ini sungguh-sungguh tidak ada. Gereja Kristen dulu dan selalu
bersatu, apostolik, dan katolik. Bangkitnya bidaah (penyelewengan
ajaran Gereja) memaksa Gereja untuk berpegang teguh pada apa yang
mereka terima dari para Rasul. Semua gereja-gereja dari Gaul di
Perancis sampai India memiliki inti iman dan metode ibadat yang
serupa dan bisa dilacak balik sampai ke para Rasul.
Gereja abad kedua memiliki liturgi yang terorganisasi
yang meliputi pembacaan Alkitab, mazmur, litani-litani, responsorial,
dan perayaan Ekaristi yang sistematis. Pusat dari ibadat Kristen
bukanlah pemakaian karunia Roh Kudus, yang memang berlimpah-ruah
pada masa itu, dan juga bukan khotbah-khotbah yang hebat dari para
penginjil. Pusat dari ibadat Kristen dulu dan selalu adalah kurban
Tubuh dan Darah Kristus, yaitu Ekaristi. Bagi Gereja perdana Ekaristi
tidak hanya sebuah simbol spiritual Kristus, Ekaristi adalah Kristus
sendiri yang direpresentasikan kepada Bapa pada setiap perayaan.
Tidak hanya struktur Gereja yang berhirarki
maupun ibadat yang berpusat pada Ekaristi, berbeda daripada apa
yang saya bayangkan, begitu pula ajaran-ajarannya. Manusia tidak
diselamatkan dengan menerima Kristus sebagai Penyelamat mereka,
tetapi melalui pembenaman dalam air pembaptisan yang melahirkan
kembali. Manusia tidak diselamatkan oleh iman saja, tetapi dengan
ketaatan pada iman - suatu iman yang dinyatakan dengan perbuatan-perbuatan
baik dan hidup suci. Umat Kristen tidak mencari berkat/karunia,
melainkan dengan rela mengorbankan hidup mereka bagi Tuhan. Disanalah,
di tengah-tengah kesaksian para Bapa Apostolik, bahwa saya melihat
inti yang sebenarnya dari spiritualisme Kristen. Bukan iman Kristen
yang sudah di-Amerikanisasi dengan rahmat kemakmuran dan dan materialisme
seperti yang tampak sekarang ini, bukan juga iman Pantekosta dengan
kegembiraan dan kesukacitaan emosional yang terus-menerus. Spiritualisme
Kristen adalah iman dari dalam hati yang penuh devosi yang mendalam
yang memanggil untuk berkurban-diri, menebus dosa, menderita dan
hidup saleh.
Dengan pemahaman yang diperluas dari perkembangan
kepercayaan Kristen, muncul pemahaman yang lebih jelas tentang Alkitab
dan tradisi yang paling kita pegang erat-erat, sola scriptura. Teologi
ini mengajarkan bahwa segala yang perlu kita ketahui tentang wahyu
Kristus dan Gereja-Nya tercakup dalam halaman-halaman Alkitab. Oleh
karena itu, Alkitab adalah otoritas dalam segala hal menyangkut
iman dan moral. Kita telah merangkum ajaran ini dalam kata-kata
berikut: "kalau tidak ada di Alkitab saya tidak percaya."
Dilihat sekilas hal ini kedengarannya bagus dan benar - "jika
kita tidak bisa menemukannya di Alkitab, kita tolak, karena tidak
benar." Tetapi masalahnya dengan pendekatan ini adalah setiap
dari 28000 gereja-gereja dan denominasi-denominasi mengaku bahwa
mereka melandaskan pada satu Alkitab yang sama! Masing-masing dari
mereka mengaku memiliki penafsiran Alkitab yang "jujur dan
benar". Dari gereja Katolik, Lutheran, Anglikan, Metodis, Baptis,
Pantekosta sampai pada Mormon dan Saksi Jehovah, masing-masing menafsirkan
Alkitab secara berbeda. Kita telah terbiasa dengan berbagai interpretasi
ini sehingga kita menyatakan bahwa Alkitab "tidak jelas"
dalam banyak paragraf sehinggak kita memperbolehkan pendapat dan
interpretasi yang berbeda-beda.
Ambil sebagai contohnya: pernyataan Yesus kepada
Nikodemus bahwa dia harus dilahirkan melalui air dan Roh (Yohanes
3:5). Ada setidaknya tiga macam interpretasi yang ditawarkan oleh
umat Kristen:
1. Air ketuban (kelahiran pertama) dan
bersemayamnya Roh Kudus (kelahiran kedua)
2. Firman Allah dan pembaptisan Roh Kudus
3. Air Pembaptisan dan bersemayamnya Roh Kudus
Pernyataan Yesus jelas hanya memiliki satu
arti! Meskipun tidak dinyatakan dalam Injil Yohanes, saya yakin
Yesus menjelaskan apa yang dimaksud-Nya kepada Nikodemus. Akan tetapi
bagaimana hal ini bisa menolong kita? Interpretasi yang mana yang
benar? Tidak bisa ketiga-tiganya benar! Akan tetapi umat Kristen
membangun imannya dari salah satu dari ketiga interpretasi yang
tertera diatas.
Tidak peduli betapa pintarnya atau telitinya
para pelajar Alkitab; bahwa pakar Alkitab yang memiliki segala gelar
akademis, berbeda sekali satu dengan yang lainnya terhadap banyak
masalah doktrin-doktrin yang penting! Penelitian dan riset yang
banyak sekalipun tidak bisa membawa konsensus akan apa yang dikatakan
oleh Alkitab.
Satu lagi problem lainnya dengan tradisi "Alkitab
saja" adalah kepercayaan bahwa studi yang rajin ditambah dengan
penerangan oleh Roh Kudus (Yohanes 14:25; 16:13) akan menunjukkan
kebenaran Alkitab bagi mereka yang mendengarkan-Nya. Tentunya studi
Alkitab dan penerangan Roh Kudus penting bagi pertumbuhan spiritual
pribadi dan membuka makna spiritual Alkitab. Tetapi coba anda katakan
kepada 28000 gereja-gereja yang berbeda-beda dan saling berselisih
bahwa 28000 pendapat yang berbeda terhadap Alkitab adalah petunjuk
bahwa tafsiran mereka tidak tepat atau tidak atas dorongan Roh Kudus.
Jelas bahwa Roh Kudus tidak memiliki 28000 interpretasi firman Allah.
Sayangnya, tradisi yang tampak bagus tapi tidak
berdasar ini telah membatasi kita pada perspektif yang sempit terhadap
Gereja Kristen. Tidak hanya membatasi titik-pandang Kristen terhadap
perkembangan gereja, doktrin-doktrinnya, para kudusnya, dan sejarahnya,
tetapi juga tidak menceritakan kisah yang sepenuhnya mengenai Gereja
Kristen dan praktek-prakteknya.
Contohnya, bagaimana tepatnya para murid melakukan
perayaan ibadat pada awalnya? Bagaimana ibadat Kristen berevolusi?
Apa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya pada perjalanan ke
Emaus? (Lukas 24:45). Apa yang Dia ajarkan kepada para Rasul tentang
kerajaan Allah selama masa 40 hari sebelum kenaikan-Nya ke surga?
(Kisah 1:3). Bagaimana cara para Rasul membaptis calon umat Kristen?
Di bagian mana di dunia masing-masing Rasul menyebarkan Kabar Gembira?
Apa yang terjadi pada Petrus setelah Kisah Para Rasul 12:17 dan
pada Paulus setelah Kisah Para Rasul 28:31? Apa yang terjadi pada
Maria, Bunda Tuhan Yesus? Alkitab tidak mengatakan. Bagaimana Gereja
berevolusi setelah kematian Rasul yang terakhir? Karena Roh Kudus
diberikan kepada Gereja untuk membimbingnya kepada kebenaran, bagaimana
peran-Nya tampak berabad-abad setelah para Rasul? Ke arah mana Dia
membimbing Gereja dalam aplikasi wahyu Kristen? Siapakah orang-orang
besar yang dibangkitkan-Nya untuk membimbing Gereja? Bagaimana konsili-konsili
Gereja berurusan dengan aplikasi praktis dari wahyu Kristen bagi
kebutuhan pada masa itu?
Gereja memiliki kehidupan spiritual yang kaya
dan hidup, yang tidak tertangkap seluruhnya dalam Perjanjian Baru.
Ada banyak martir, banyak orang kudus, penginjilan yang hebat, dan
teladan yang bagus dari penyangkalan-diri dan pengorbanan dalam
Gereja perdana yang tidak kita baca di Alkitab. Gereja dengan tradisi
yang bermacam-macam di Antiokia muncul sebagai kekuatan pendorong
dalam Kristianitas. Santo-santo yang besar seperti Polycarpus, Irenaeus,
Ignatius, Justin Martir, Antonius, Basil, dan dua Gregorius, tidak
dikenal oleh umumnya para pembaca Protestan. Pemikir-pemikir besar
Gereja: Origen, Tertulian, Santo Cyprianus, Santo Agustinus, Santo
Athanasius, Gregorius dari Nyssa, sekedar beberapa diantaranya,
sama sekali diabaikan oleh sebagian besar Kristen Protestan. Akan
tetapi orang-orang inilah yang menentang berbagai bidaah dan kaum
pendukungnya, dan membentuk pemikiran Kristen, dan memformulasikan
doktrin-doktrin Perjanjian Baru dan teologi yang kita percaya sebagai
Protestan sekarang ini. Kita harus ingat bahwa Perjanjian Baru meliputi
banyak surat-surat yang terbatas lingkup masalahnya dalam gereja-gereja
lokal. Sayangnya, kita hanya mendapatkan kilasan kehidupan gereja
melalui halaman-halaman kitab Perjanjian Baru.
Coba pikirkan hal ini. Kalau kita membatasi
diri kita terhadap apa yang tertulis dalam Alkitab, sama saja halnya
dengan membatasi diri kita pada undang-undang dasar negara, tetapi
mengabaikan para bapa bangsa pendirinya, cikal bakal yang mendahuluinya
dan sejarah terbentuknya negara kita. Boleh jadi kita punya pengetahuan
akan aturan-aturan dasar pemerintah Amerika, tetapi kita akan sama
sekali mengacuhkan:
1. Hak-hak warganegara
2. Para bapa bangsa
3. Keputusan-keputusan Mahkamah Agung yang menafsirkan undang-undang
4. Amendemen Konstitusi
5. Masalah perbudakan yang membawa pada Perang Sipil dll.
Jangan salah sangka. Perjanjian Baru adalah
inspirasi firman Allah. Perjanjian Baru sungguh berisikan keinginan
Tuhan bagi kita. Kita harus hidup berdasarkan prinsip-prinsip dan
perintah-perintah Alkitab. Alkitab secara akurat dan tepat menyatakan
tentang hidup Yesus, ajaran-ajaran-Nya, dan ajaran-ajaran para Rasul.
Tetapi harus diterima dengan wahyu seutuhnya dari Gereja. Alkitab
bukanlah "tiang dan pondasi kebenaran." Gerejalah tiang
dan pondasi kebenaran! (1 Timotius 3:15) Apa yang dinyatakan Alkitab
adalah "akurat" tetapi bukan gambaran yang "komplit"
tentang Allah yang berkarya melalui Kristus dalam Gereja. Markus
mengakhiri Injilnya dengan:
Merekapun pergilah memberitakan Injil
ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman
itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Markus 16:20).
Tetapi dia tidak memberitahu kita kemana mereka
pergi atau apa yang mereka lakukan! Kisah Para Rasul mengisahkan
awal mula Gereja dengan kuasa yang luar biasa, tetapi membuat kita
berpikir tentang apa yang terjadi setelah pengadilan Paulus di pasal
ke 28. Tidak sedikitpun diceritakan tentang delapan Rasul yang lainnya.
Apakah mereka melakukan mukjijat-mukjijat? Apakah mereka mati demi
iman? Jika demikian, bagaimana matinya mereka dan dimana? Konsekuensinya,
melihat Kristianitas melalui kacamata Perjanjian Baru sama saja
halnya dengan mencoba melihat kota New York lewat jendela lantai
pertama dari gedung World Trade Center!
Kita juga harus mempertimbangkan bahwa Alkitab
tidak menghasilkan Gereja, tetapi Gerejalah yang menghasilkan Alkitab.
Gereja tidak dibangun diatas Alkitab, melainkan diatas para Rasul
dan para Nabi. Kristus tidak meninggalkan sebuah buku yang tertulis
untuk membimbing Gereja-Nya, tetapi Dia meninggalkan orang-orang
yang diberi kuasa Roh Kudus! Perjanjian Baru, sebagaimana yang kita
miliki sekarang ini, tidak dikanonisasi sampai tahun 393 Masehi.
Sampai dengan saat itu, apa yang memberi Gereja kesinambungan antara
para Rasul sampai dengan kanonisasi Perjanjian Baru? Apa yang menentukan
iman yang ortodoksi ditengah-tengah berbagai bidaah dan kaum pembangkang
yang mendukungnya? Kecuali beberapa variasi kecil, bagaimana Gereja
bisa beribadat dengan cara yang sama di seluruh dunia? Bagaimana
bisa penulis demi penulis menyebut Gereja sebagai "Katolik"
(universal) tanpa unsur Perjanjian Baru yang mempersatukan mereka?
Apa yang membuat Gereja tetap berdiri sampai Perjanjian Baru dikanonisasi?
Bahkan, apa yang menjadi "pegangan" bagi para pakar untuk
menerima kitab-kitab tertentu dan menyisihkan kitab-kitab lainnya
dari kanon Perjanjian Baru?
Jawaba-jawaban dari pertanyaan ini ditemukan
dalam Tradisi-tradisi para Rasul yang diturunkan kepada Bapa-bapa
Gereja Perdana. Ini mungkin kedengaran aneh bagi telinga Protestan.
Kita telah diajarkan bahwa Firman punya keunggulan terhadap apapun
juga! Akan tetapi kita mengabaikan Gereja yang justru mengumpulkan,
memelihara, dan menjadikan Firman tersebut. Apakah Tradisi para
Rasul dan Bapa Gereja lebih unggul daripada Alkitab? Sama sekali
tidak! Alkitab bersama dengan Tradisi para Rasul dan Bapa Gereja
memberikan kita gambaran yang utuh dari karya Allah dalam Gereja
dan melalui Gereja.
Orang Yahudi mengerti dengan baik posisi tradisi
dalam iman mereka. Kitab Taurat diberikan oleh Allah kepada Israel
di gurun Sinai, tetapi juga ada "tradisi oral" yang disebut
Talmud, yang menjelaskan bagaimana aplikasi Taurat. Sebagai contohnya,
kitab Taurat menetapkan berapa kali dan macam kurban yang dipersembahkan
oleh seorang imam, tetapi tidak selalu memberitahukan bagaimana
cara menyembelih binatang kurban, cara memotong-motongnya, ataupun
cara menyajikannya diatas altar. Para hakim aga memberikan keadilan,
tetapi Taurat tidak menceritakan bagaimana tata cara pengadilan
dijalankan. Agar pertunangan dan perkawinan dilaksanakan, tetapi
Taurat tidak mengisahkan secara detail bagaimana dan dimana upacara
perkawinan dilaksanakan. Detail-detail dan aplikasi-aplikasinya
diturunkan melalui tradisi-tradisi oral, melalui para imam.
Tentunya tradisi oral tidak memiliki otoritas
yang dimiliki kitab suci, dan beberapa kali tradisi-tradisi Yahudi
bertentangan dengan wahyu Ilahi. Inilah tradisi-tradisi yang dikutuk
oleh Yesus (Matius 12:2, 10; 16:12; Markus 7:1-23). Akan tetapi
Yesus sendiri mengikuti tradisi-tradisi tertentu:
1. Dia menerima gelar Rabbi
2. Dia mengumpulkan para murid disekeliling-Nya
3. Dia berjenggot
4. Dia menjalankan tradisi cuci-kaki bagi para tamu
5. Dia jarang berkeliaran diluar Israel dan berinteraksi dengan
kaum non-Yahudi
6. Dia pergi ke synagog (Bait Allah) pada hari Sabat
7. Dia mengakui "kursi Musa" sebagai otoritas pengajaran
yang sah dari agama Yahudi (Matius 23:1).
Akan tetapi, Tradisi Apostolik sangat berbeda
dengan tradisi-tradisi Yahudi yang mana Tradisi Apostolik memiliki
SEGALA hal yang diturunkan oleh para Rasul kepada para penerusnya,
baik tertulis maupun lisan (oral). Inilah wahyu seutuhnya dari Yesus
yang dipercayakan kepada Gereja, dan bukan akumulasi praktek dan
interpretasi seperti yang dianut oleh banyak orang sekarang. Inilah
Tradisi Suci (Yunani: paradosis = "yang diturunkan") ADALAH
wahyu Allah yang diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya
sebagai pengetahuan yang kudus. Inilah "iman yang telah disampaikan
kepada orang-orang kudus" (Yudas 3). Dalam 2 Tesalonika, Paul
menasihatkan kepada umat di Tesalonika:
Berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran (Yunani:paradosis=tradisi) yang kamu terima
dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.(2 Tesalonika
2:15)
Dia menulis kepada umat di Korintus
Aku harus memuji kamu, sebab dalam
segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang
pada ajaran (paradosis) yang kuteruskan kepadamu. (1 Korintus
11:2)
Bagi mereka yang menolak otoritasnya, Paulus
merujuk pada tradisi-tradisi gereja yang tidak tertulis tapi dipraktekkan
secara universal:
Tetapi jika ada orang yang mau membantah,
kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang
demikian. (1 Korintus 11:16)
Pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Paulus
ini menunjukkan bahwa praktek dan tradisi yang diakui oleh para
Rasul telah mulai tumbuh sejak masa hidupnya. Bahkan, dia mengutip
ajaran-ajaran Yesus yang tidak bisa ditemukan dalam kitab-kitab
Injil:
...ingatlah kata-kata Tuhan Yesus sendiri
ucapkan: "Lebih baik memberi daripada menerima"
Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa
mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan
Injil itu. (1 Korintus 9:14)
Oleh karenanya, iman Kristiani mulai tumbuh
melebihi halaman-halaman kitab Perjanjian Baru. Adat-istiadat, praktek-praktek,
tradisi-tradisi, yang segalanya dilakukan dan diakui oleh para Rasul,
membimbing Gereja abad pertama melalui tahun-tahun formasinya. Tanpa
pengetahuan dan familiaritas dengan SEGALA ajaran-ajaran Gereja,
pemahaman kita terhadap pesan Kristiani mungkin baik, tetapi jelas
tidak utuh.
Maka, marilah kita kembali kepada awal-awal
Gereja dan menemukan kembali harta-karun yang berharga dari Tradisi
Apostolik. Marilah kita meneliti kembali sejarah yang panjang dari
Gereja yang didirikan Yesus dan menikmati keutuhan iman Kristiani.
Untuk informasi lebih lanjut menyangkut topik yang menarik ini,
harap menulis ke Maranatha Christian Church , 4801 Oakman Blvd.,
Detroit, MI 48204 atau menulis email kepada saya (dalam bhs.Inggris)
di Mchurch788@aol.com.
|