Buka lebar pintu-pintu bagi Kristus
 

Rubrik Konsultasi Rohani
Pesan dan kesan anda setelah mengunjungi situs ini
Undang teman anda untuk mengunjungi website ini!
Jika anda ingin menerima berita terbaru dari situs ini, masukan email anda disini:

Daftar Keluar milis
Jadwal Misa Kudus di Indonesia
Link Situs-situs Katolik
Hai!! Jangan lupa kami menerima hasil karya tulisan anda untuk meramaikan situs ini. Kirim email ke: webmaster.

Anda bisa jadi evangelis?
Poin penting sejarah Gereja
Katekismus: Persatuan Gereja
Santa Maria dari Kazan
Basilika St.Maria Mayora
St.Yohanes Krisostomus
Dari Yahudi jadi Katolik
Kesaksian dari sejumlah individu dari berbagai latar belakang yang menjadi Katolik
Gary Hoge
Paul Thigpen
Rosalind Moss
Dr.Douglas Lowry
Glen Allen
Alex Jones bagian 1
Alex Jones bagian 2
Alex Jones bagian 3
Alex Jones 4
Keluarga Steve Ray
David Palm
Larry dan Joetta Lewis

KEMBALI KEPADA TRADISI APOSTOLIK
oleh Pendeta Alex Jones
Pastor dari Gereja Kristen Maranatha
Detroit, Michigan

Hak Cipta, 2000, Alex Jones.

Betapa besar dan indahnya karya Tuhan kita; betapa dalam dan tak terselidiki rencana-rencana-Nya. Paulus telah mengatakannya dengan tepat:

O alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.(Roman 11:33)

Penemuan terbesar dalam hidup saya terjadi pada suatu malam musim panas yang hangat, di bulan Agustus 1958 ketika Roh Kudus membuka pintu-pintu kehidupan dan pengetahuan tentang Allah kepada hatiku. Dari pengalaman religius di tahun 1958 ini sampai sekarang suatu kehausan yang terus menerus telah meliputi hati saya untuk mengetahui lebih jauh dan belajar lebih jauh tentang Tuhan Allah yang menakjubkan ini dan Gereja-Nya yang mulia. Siapakah Dia? Bagaimana rupa-Nya? Apa yang Dia inginkan? Apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan hati-Nya? Bagaimana saya menjadi bagian dari rencana-Nya yang besar? Apa yang telah dilakukan-Nya bagi orang lain? Segala pertanyaan ini memenuhi hati saya pada malam bulan Agustus tersebut dan masih belum hilang perasaan yang ditimbulkannya.

Selama empat puluh tahun terakhir saya berada dalam peziarahan untuk mengetahui seakurat mungkin akan maksud-maksud dan rencana-rencana Tuhan Allah yang menakjubkan ini. Selain daripada studi di universitas dan gelar sarjana yang didapat dan karya paska-sarjana dalam bidang Pendidikan, saya telah membaca banyak buku-buku, menghadiri berbagai kebaktian di banyak gereja, berdialog dengan umat Kristen dari berbagai latar belakang, berdebat dengan berbagai sekte-sekte, menghadiri akademi Alkitab untuk beberapa lama, dan bereksperimen dengan berbagai variasi dari latar belakang Protestan yang semakin saya cintai. Saya telah berpegang pada teologi Arminian maupun Calvinis, menerima dan lantas menolak eskatologi Premilenialisme, mempraktekkan berbagai macam bentuk kebaktian religius, berkhotbah tentang kesucian dan pengudusan, dan secara umum menikmati pengalaman-pengalaman spiritual tradisi Pantekosta. Akan tetapi dibawah semua pencarian ini, praktek-praktek ini, aktivitas-aktivitas ini ada dorongan kuat untuk "menggali" lebih dalam, bertanya-tanya, dan menemukan keinginan dan hikmat Allah.

Saya menemukan hikmat itu dengan secara kebetulan. Yaitu selama persiapan bagi kelas studi Alkitab hari Rabu malam menyangkut pasal 2 dari 1 Timotius ketika saya menemukan "harta karun yang terpendam" ini. Mengejar informasi untuk merekonstruksi tata ibadat abad pertama, saya membaca surat-surat dari para Bapa Apostolik, dan disanalah, diantara tulisan para penulis Kristen perdana, saya menemukan kebenaran yang lebih jelas dari Kristus dan Gereja-Nya.

Akhirnya, setelah sekian tahun mencari saya menemukan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya: Gereja-Nya memiliki liturgi, punya hirarki, dan Gereja-Nya adalah Katolik. Saya mendapatkan bahwa ketika Gereja tumbuh, ia menyimpan catatan tertulis menyangkut urut-urutan suksesi sampai ke para Rasul sendiri. Klaim yang dibuat Protestan bahwa ada "kelompok-kelompok studi Alkitab yang tersebar di Gereja perdana", semata-mata fantasi belaka. Kelompok-kelompok seperti ini sungguh-sungguh tidak ada. Gereja Kristen dulu dan selalu bersatu, apostolik, dan katolik. Bangkitnya bidaah (penyelewengan ajaran Gereja) memaksa Gereja untuk berpegang teguh pada apa yang mereka terima dari para Rasul. Semua gereja-gereja dari Gaul di Perancis sampai India memiliki inti iman dan metode ibadat yang serupa dan bisa dilacak balik sampai ke para Rasul.

Gereja abad kedua memiliki liturgi yang terorganisasi yang meliputi pembacaan Alkitab, mazmur, litani-litani, responsorial, dan perayaan Ekaristi yang sistematis. Pusat dari ibadat Kristen bukanlah pemakaian karunia Roh Kudus, yang memang berlimpah-ruah pada masa itu, dan juga bukan khotbah-khotbah yang hebat dari para penginjil. Pusat dari ibadat Kristen dulu dan selalu adalah kurban Tubuh dan Darah Kristus, yaitu Ekaristi. Bagi Gereja perdana Ekaristi tidak hanya sebuah simbol spiritual Kristus, Ekaristi adalah Kristus sendiri yang direpresentasikan kepada Bapa pada setiap perayaan.

Tidak hanya struktur Gereja yang berhirarki maupun ibadat yang berpusat pada Ekaristi, berbeda daripada apa yang saya bayangkan, begitu pula ajaran-ajarannya. Manusia tidak diselamatkan dengan menerima Kristus sebagai Penyelamat mereka, tetapi melalui pembenaman dalam air pembaptisan yang melahirkan kembali. Manusia tidak diselamatkan oleh iman saja, tetapi dengan ketaatan pada iman - suatu iman yang dinyatakan dengan perbuatan-perbuatan baik dan hidup suci. Umat Kristen tidak mencari berkat/karunia, melainkan dengan rela mengorbankan hidup mereka bagi Tuhan. Disanalah, di tengah-tengah kesaksian para Bapa Apostolik, bahwa saya melihat inti yang sebenarnya dari spiritualisme Kristen. Bukan iman Kristen yang sudah di-Amerikanisasi dengan rahmat kemakmuran dan dan materialisme seperti yang tampak sekarang ini, bukan juga iman Pantekosta dengan kegembiraan dan kesukacitaan emosional yang terus-menerus. Spiritualisme Kristen adalah iman dari dalam hati yang penuh devosi yang mendalam yang memanggil untuk berkurban-diri, menebus dosa, menderita dan hidup saleh.

Dengan pemahaman yang diperluas dari perkembangan kepercayaan Kristen, muncul pemahaman yang lebih jelas tentang Alkitab dan tradisi yang paling kita pegang erat-erat, sola scriptura. Teologi ini mengajarkan bahwa segala yang perlu kita ketahui tentang wahyu Kristus dan Gereja-Nya tercakup dalam halaman-halaman Alkitab. Oleh karena itu, Alkitab adalah otoritas dalam segala hal menyangkut iman dan moral. Kita telah merangkum ajaran ini dalam kata-kata berikut: "kalau tidak ada di Alkitab saya tidak percaya." Dilihat sekilas hal ini kedengarannya bagus dan benar - "jika kita tidak bisa menemukannya di Alkitab, kita tolak, karena tidak benar." Tetapi masalahnya dengan pendekatan ini adalah setiap dari 28000 gereja-gereja dan denominasi-denominasi mengaku bahwa mereka melandaskan pada satu Alkitab yang sama! Masing-masing dari mereka mengaku memiliki penafsiran Alkitab yang "jujur dan benar". Dari gereja Katolik, Lutheran, Anglikan, Metodis, Baptis, Pantekosta sampai pada Mormon dan Saksi Jehovah, masing-masing menafsirkan Alkitab secara berbeda. Kita telah terbiasa dengan berbagai interpretasi ini sehingga kita menyatakan bahwa Alkitab "tidak jelas" dalam banyak paragraf sehinggak kita memperbolehkan pendapat dan interpretasi yang berbeda-beda.

Ambil sebagai contohnya: pernyataan Yesus kepada Nikodemus bahwa dia harus dilahirkan melalui air dan Roh (Yohanes 3:5). Ada setidaknya tiga macam interpretasi yang ditawarkan oleh umat Kristen:

1. Air ketuban (kelahiran pertama) dan bersemayamnya Roh Kudus (kelahiran kedua)
2. Firman Allah dan pembaptisan Roh Kudus
3. Air Pembaptisan dan bersemayamnya Roh Kudus

Pernyataan Yesus jelas hanya memiliki satu arti! Meskipun tidak dinyatakan dalam Injil Yohanes, saya yakin Yesus menjelaskan apa yang dimaksud-Nya kepada Nikodemus. Akan tetapi bagaimana hal ini bisa menolong kita? Interpretasi yang mana yang benar? Tidak bisa ketiga-tiganya benar! Akan tetapi umat Kristen membangun imannya dari salah satu dari ketiga interpretasi yang tertera diatas.

Tidak peduli betapa pintarnya atau telitinya para pelajar Alkitab; bahwa pakar Alkitab yang memiliki segala gelar akademis, berbeda sekali satu dengan yang lainnya terhadap banyak masalah doktrin-doktrin yang penting! Penelitian dan riset yang banyak sekalipun tidak bisa membawa konsensus akan apa yang dikatakan oleh Alkitab.

Satu lagi problem lainnya dengan tradisi "Alkitab saja" adalah kepercayaan bahwa studi yang rajin ditambah dengan penerangan oleh Roh Kudus (Yohanes 14:25; 16:13) akan menunjukkan kebenaran Alkitab bagi mereka yang mendengarkan-Nya. Tentunya studi Alkitab dan penerangan Roh Kudus penting bagi pertumbuhan spiritual pribadi dan membuka makna spiritual Alkitab. Tetapi coba anda katakan kepada 28000 gereja-gereja yang berbeda-beda dan saling berselisih bahwa 28000 pendapat yang berbeda terhadap Alkitab adalah petunjuk bahwa tafsiran mereka tidak tepat atau tidak atas dorongan Roh Kudus. Jelas bahwa Roh Kudus tidak memiliki 28000 interpretasi firman Allah.

Sayangnya, tradisi yang tampak bagus tapi tidak berdasar ini telah membatasi kita pada perspektif yang sempit terhadap Gereja Kristen. Tidak hanya membatasi titik-pandang Kristen terhadap perkembangan gereja, doktrin-doktrinnya, para kudusnya, dan sejarahnya, tetapi juga tidak menceritakan kisah yang sepenuhnya mengenai Gereja Kristen dan praktek-prakteknya.

Contohnya, bagaimana tepatnya para murid melakukan perayaan ibadat pada awalnya? Bagaimana ibadat Kristen berevolusi? Apa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya pada perjalanan ke Emaus? (Lukas 24:45). Apa yang Dia ajarkan kepada para Rasul tentang kerajaan Allah selama masa 40 hari sebelum kenaikan-Nya ke surga? (Kisah 1:3). Bagaimana cara para Rasul membaptis calon umat Kristen? Di bagian mana di dunia masing-masing Rasul menyebarkan Kabar Gembira? Apa yang terjadi pada Petrus setelah Kisah Para Rasul 12:17 dan pada Paulus setelah Kisah Para Rasul 28:31? Apa yang terjadi pada Maria, Bunda Tuhan Yesus? Alkitab tidak mengatakan. Bagaimana Gereja berevolusi setelah kematian Rasul yang terakhir? Karena Roh Kudus diberikan kepada Gereja untuk membimbingnya kepada kebenaran, bagaimana peran-Nya tampak berabad-abad setelah para Rasul? Ke arah mana Dia membimbing Gereja dalam aplikasi wahyu Kristen? Siapakah orang-orang besar yang dibangkitkan-Nya untuk membimbing Gereja? Bagaimana konsili-konsili Gereja berurusan dengan aplikasi praktis dari wahyu Kristen bagi kebutuhan pada masa itu?

Gereja memiliki kehidupan spiritual yang kaya dan hidup, yang tidak tertangkap seluruhnya dalam Perjanjian Baru. Ada banyak martir, banyak orang kudus, penginjilan yang hebat, dan teladan yang bagus dari penyangkalan-diri dan pengorbanan dalam Gereja perdana yang tidak kita baca di Alkitab. Gereja dengan tradisi yang bermacam-macam di Antiokia muncul sebagai kekuatan pendorong dalam Kristianitas. Santo-santo yang besar seperti Polycarpus, Irenaeus, Ignatius, Justin Martir, Antonius, Basil, dan dua Gregorius, tidak dikenal oleh umumnya para pembaca Protestan. Pemikir-pemikir besar Gereja: Origen, Tertulian, Santo Cyprianus, Santo Agustinus, Santo Athanasius, Gregorius dari Nyssa, sekedar beberapa diantaranya, sama sekali diabaikan oleh sebagian besar Kristen Protestan. Akan tetapi orang-orang inilah yang menentang berbagai bidaah dan kaum pendukungnya, dan membentuk pemikiran Kristen, dan memformulasikan doktrin-doktrin Perjanjian Baru dan teologi yang kita percaya sebagai Protestan sekarang ini. Kita harus ingat bahwa Perjanjian Baru meliputi banyak surat-surat yang terbatas lingkup masalahnya dalam gereja-gereja lokal. Sayangnya, kita hanya mendapatkan kilasan kehidupan gereja melalui halaman-halaman kitab Perjanjian Baru.

Coba pikirkan hal ini. Kalau kita membatasi diri kita terhadap apa yang tertulis dalam Alkitab, sama saja halnya dengan membatasi diri kita pada undang-undang dasar negara, tetapi mengabaikan para bapa bangsa pendirinya, cikal bakal yang mendahuluinya dan sejarah terbentuknya negara kita. Boleh jadi kita punya pengetahuan akan aturan-aturan dasar pemerintah Amerika, tetapi kita akan sama sekali mengacuhkan:

1. Hak-hak warganegara
2. Para bapa bangsa
3. Keputusan-keputusan Mahkamah Agung yang menafsirkan undang-undang
4. Amendemen Konstitusi
5. Masalah perbudakan yang membawa pada Perang Sipil dll.

Jangan salah sangka. Perjanjian Baru adalah inspirasi firman Allah. Perjanjian Baru sungguh berisikan keinginan Tuhan bagi kita. Kita harus hidup berdasarkan prinsip-prinsip dan perintah-perintah Alkitab. Alkitab secara akurat dan tepat menyatakan tentang hidup Yesus, ajaran-ajaran-Nya, dan ajaran-ajaran para Rasul. Tetapi harus diterima dengan wahyu seutuhnya dari Gereja. Alkitab bukanlah "tiang dan pondasi kebenaran." Gerejalah tiang dan pondasi kebenaran! (1 Timotius 3:15) Apa yang dinyatakan Alkitab adalah "akurat" tetapi bukan gambaran yang "komplit" tentang Allah yang berkarya melalui Kristus dalam Gereja. Markus mengakhiri Injilnya dengan:

Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Markus 16:20).

Tetapi dia tidak memberitahu kita kemana mereka pergi atau apa yang mereka lakukan! Kisah Para Rasul mengisahkan awal mula Gereja dengan kuasa yang luar biasa, tetapi membuat kita berpikir tentang apa yang terjadi setelah pengadilan Paulus di pasal ke 28. Tidak sedikitpun diceritakan tentang delapan Rasul yang lainnya. Apakah mereka melakukan mukjijat-mukjijat? Apakah mereka mati demi iman? Jika demikian, bagaimana matinya mereka dan dimana? Konsekuensinya, melihat Kristianitas melalui kacamata Perjanjian Baru sama saja halnya dengan mencoba melihat kota New York lewat jendela lantai pertama dari gedung World Trade Center!

Kita juga harus mempertimbangkan bahwa Alkitab tidak menghasilkan Gereja, tetapi Gerejalah yang menghasilkan Alkitab. Gereja tidak dibangun diatas Alkitab, melainkan diatas para Rasul dan para Nabi. Kristus tidak meninggalkan sebuah buku yang tertulis untuk membimbing Gereja-Nya, tetapi Dia meninggalkan orang-orang yang diberi kuasa Roh Kudus! Perjanjian Baru, sebagaimana yang kita miliki sekarang ini, tidak dikanonisasi sampai tahun 393 Masehi. Sampai dengan saat itu, apa yang memberi Gereja kesinambungan antara para Rasul sampai dengan kanonisasi Perjanjian Baru? Apa yang menentukan iman yang ortodoksi ditengah-tengah berbagai bidaah dan kaum pembangkang yang mendukungnya? Kecuali beberapa variasi kecil, bagaimana Gereja bisa beribadat dengan cara yang sama di seluruh dunia? Bagaimana bisa penulis demi penulis menyebut Gereja sebagai "Katolik" (universal) tanpa unsur Perjanjian Baru yang mempersatukan mereka? Apa yang membuat Gereja tetap berdiri sampai Perjanjian Baru dikanonisasi? Bahkan, apa yang menjadi "pegangan" bagi para pakar untuk menerima kitab-kitab tertentu dan menyisihkan kitab-kitab lainnya dari kanon Perjanjian Baru?

Jawaba-jawaban dari pertanyaan ini ditemukan dalam Tradisi-tradisi para Rasul yang diturunkan kepada Bapa-bapa Gereja Perdana. Ini mungkin kedengaran aneh bagi telinga Protestan. Kita telah diajarkan bahwa Firman punya keunggulan terhadap apapun juga! Akan tetapi kita mengabaikan Gereja yang justru mengumpulkan, memelihara, dan menjadikan Firman tersebut. Apakah Tradisi para Rasul dan Bapa Gereja lebih unggul daripada Alkitab? Sama sekali tidak! Alkitab bersama dengan Tradisi para Rasul dan Bapa Gereja memberikan kita gambaran yang utuh dari karya Allah dalam Gereja dan melalui Gereja.

Orang Yahudi mengerti dengan baik posisi tradisi dalam iman mereka. Kitab Taurat diberikan oleh Allah kepada Israel di gurun Sinai, tetapi juga ada "tradisi oral" yang disebut Talmud, yang menjelaskan bagaimana aplikasi Taurat. Sebagai contohnya, kitab Taurat menetapkan berapa kali dan macam kurban yang dipersembahkan oleh seorang imam, tetapi tidak selalu memberitahukan bagaimana cara menyembelih binatang kurban, cara memotong-motongnya, ataupun cara menyajikannya diatas altar. Para hakim aga memberikan keadilan, tetapi Taurat tidak menceritakan bagaimana tata cara pengadilan dijalankan. Agar pertunangan dan perkawinan dilaksanakan, tetapi Taurat tidak mengisahkan secara detail bagaimana dan dimana upacara perkawinan dilaksanakan. Detail-detail dan aplikasi-aplikasinya diturunkan melalui tradisi-tradisi oral, melalui para imam.

Tentunya tradisi oral tidak memiliki otoritas yang dimiliki kitab suci, dan beberapa kali tradisi-tradisi Yahudi bertentangan dengan wahyu Ilahi. Inilah tradisi-tradisi yang dikutuk oleh Yesus (Matius 12:2, 10; 16:12; Markus 7:1-23). Akan tetapi Yesus sendiri mengikuti tradisi-tradisi tertentu:

1. Dia menerima gelar Rabbi
2. Dia mengumpulkan para murid disekeliling-Nya
3. Dia berjenggot
4. Dia menjalankan tradisi cuci-kaki bagi para tamu
5. Dia jarang berkeliaran diluar Israel dan berinteraksi dengan kaum non-Yahudi
6. Dia pergi ke synagog (Bait Allah) pada hari Sabat
7. Dia mengakui "kursi Musa" sebagai otoritas pengajaran yang sah dari agama Yahudi (Matius 23:1).

Akan tetapi, Tradisi Apostolik sangat berbeda dengan tradisi-tradisi Yahudi yang mana Tradisi Apostolik memiliki SEGALA hal yang diturunkan oleh para Rasul kepada para penerusnya, baik tertulis maupun lisan (oral). Inilah wahyu seutuhnya dari Yesus yang dipercayakan kepada Gereja, dan bukan akumulasi praktek dan interpretasi seperti yang dianut oleh banyak orang sekarang. Inilah Tradisi Suci (Yunani: paradosis = "yang diturunkan") ADALAH wahyu Allah yang diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya sebagai pengetahuan yang kudus. Inilah "iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus" (Yudas 3). Dalam 2 Tesalonika, Paul menasihatkan kepada umat di Tesalonika:

Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran (Yunani:paradosis=tradisi) yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.(2 Tesalonika 2:15)

Dia menulis kepada umat di Korintus

Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran (paradosis) yang kuteruskan kepadamu. (1 Korintus 11:2)

Bagi mereka yang menolak otoritasnya, Paulus merujuk pada tradisi-tradisi gereja yang tidak tertulis tapi dipraktekkan secara universal:

Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian. (1 Korintus 11:16)

Pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Paulus ini menunjukkan bahwa praktek dan tradisi yang diakui oleh para Rasul telah mulai tumbuh sejak masa hidupnya. Bahkan, dia mengutip ajaran-ajaran Yesus yang tidak bisa ditemukan dalam kitab-kitab Injil:

...ingatlah kata-kata Tuhan Yesus sendiri ucapkan: "Lebih baik memberi daripada menerima"

Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. (1 Korintus 9:14)

Oleh karenanya, iman Kristiani mulai tumbuh melebihi halaman-halaman kitab Perjanjian Baru. Adat-istiadat, praktek-praktek, tradisi-tradisi, yang segalanya dilakukan dan diakui oleh para Rasul, membimbing Gereja abad pertama melalui tahun-tahun formasinya. Tanpa pengetahuan dan familiaritas dengan SEGALA ajaran-ajaran Gereja, pemahaman kita terhadap pesan Kristiani mungkin baik, tetapi jelas tidak utuh.

Maka, marilah kita kembali kepada awal-awal Gereja dan menemukan kembali harta-karun yang berharga dari Tradisi Apostolik. Marilah kita meneliti kembali sejarah yang panjang dari Gereja yang didirikan Yesus dan menikmati keutuhan iman Kristiani. Untuk informasi lebih lanjut menyangkut topik yang menarik ini, harap menulis ke Maranatha Christian Church , 4801 Oakman Blvd., Detroit, MI 48204 atau menulis email kepada saya (dalam bhs.Inggris) di Mchurch788@aol.com.


Diterjemahkan dari artikel bahasa Inggris di website Stan Williams
Alihbahasa Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net