Buka lebar pintu-pintu bagi Kristus
 

Rubrik Konsultasi Rohani
Pesan dan kesan anda setelah mengunjungi situs ini
Undang teman anda untuk mengunjungi website ini!
Jika anda ingin menerima berita terbaru dari situs ini, masukan email anda disini:

Daftar Keluar milis
Jadwal Misa Kudus di Indonesia
Link Situs-situs Katolik
Hai!! Jangan lupa kami menerima hasil karya tulisan anda untuk meramaikan situs ini. Kirim email ke: webmaster.

Anda bisa jadi evangelis?
Poin penting sejarah Gereja
Katekismus: Persatuan Gereja
Santa Maria dari Kazan
Basilika St.Maria Mayora
St.Yohanes Krisostomus
Dari Yahudi jadi Katolik
Kesaksian dari sejumlah individu dari berbagai latar belakang yang menjadi Katolik
Gary Hoge
Paul Thigpen
Rosalind Moss
Dr.Douglas Lowry
Glen Allen
Alex Jones bagian 1
Alex Jones bagian 2
Alex Jones bagian 3
Alex Jones 4
Keluarga Steve Ray
David Palm
Larry dan Joetta Lewis
Gereja Pentakosta Kulit Hitam Memilih Untuk Menjadi Katolik

oleh Diane Morey Hanson, Credo 19 Juni 2000

DETROIT - Ketika pendeta Alex Jones berkhotbah, suaranya yang penuh semangat bergema di atap kubah Gereja Kristen Maranatha di Oakman Boulevard di West Detroit. Tetapi hal ini tidak akan berlangsung lama lagi.

Tempat yang luas dan penuh dengan ornamen yang dulunya adalah sebuah Gereja Ortodoks itu telah dijual.

Hal itu disebabkan karena kongregasi yang mayoritasnya orang kulit hitam telah menciut dari 200 menjadi 80 selama dua tahun terakhir ketika Pastor Jones, 58, merubah tata ibadat gaya Pantekosta untuk menyerupai Misa Katolik.

Dan pada tanggal 4 Juni, di hari Minggu untuk perayaan persatuan umat Kristen dan Yesus Naik ke Surga - kongregasi itu mengambil suara 39-19 untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjadi Katolik.

Kisah perjalanan mereka adalah suatu perjalanan iman yang dipenuhi dengan kejutan, kemarahan, sakit hati, keraguan, kasih dan sukacita.

Apa kamu sudah gila?

"Saya pikir ada roh jahat yang telah mempengaruhinya," kata Linda Stewart mengenai pamannya, Alex Jones, pastor gereja Maranatha (dari kata Aram yang berarti "Tuhan datanglah"). Saya pikir dalam usahanya untuk mencari kebenaran, dia telah melangkah terlalu jauh dan kehilangan akal sehatnya."

Alasan kekhawatiran Linda Stewart karena pamannya, yang sudah seperti ayah kandung sendiri sejak ayah kandungnya meninggal bertahun-tahun yang lalu, telah merubah studi Alkitab hari Rabu menjadi studi para Bapa Gereja perdana. Dan secara bertahap dia merubah ibadah hari Minggu menjadi menyerupai Misa Kudus Katolik: berlutut, Tanda Salib, Kredo Nikea, perayaan Ekaristi - pendeknya seluruh hal-hal yang berbau Katolik.

"Dulu kita diajarkan bahwa Gereja Katolik adalah Pelacur Besar (dari Kitab Wahyu)," Stewart yang berusia 43 tahun menjelaskan. "Kita dulu diajarkan bahwa Sri Paus adalah sang Anti-Kristus. Maria?--Maria?--tidak bisa! Kita dulu sangat bersukaria dan menikmati kesukacitaan bersama Yesus dan lantas tahu-tahu dia datang dan menawarkan hal ini."

"Saya sangat marah!!" kata Stewart. "Dan saya pikir, 'Engkau sudah gila kalau engkau pikir kita akan melakukan hal ini!'"

Bibit telah tertanam beberapa tahun yang lalu ketika Jones menghadiri acara debat antara pengarang anti-Katolik David Hunt dan apologis Katolik Karl Keating dalam suatu acara radio.

Jawaban-jawaban Katolik

Keating menanyakan suatu pertanyaan: Siapakah yang anda percaya dalam suatu kasus kecelakaan--seseorang yang hadir disana sebagai saksi mata atau seseorang yang datang bertahun-tahun kemudian? Untuk belajar tentang Gereja Kristen perdana, Keating menekankan, penting kiranya untuk membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja perdana yang ada disana sejak awal mulanya.

"Sungguh masuk akal, tetapi waktu itu saya belum siap untuk berubah," kata Jones. "Saya kesampingkan dalam hati saya dan merenungkannya, tetapi hal itu tidak muncul lagi sampai saya membaca para Bapa Gereja dan melihat sebuah ke-Kristenan yang tidak kami miliki di gereja kami."

Perubahan itu

Jones sangat terkejut. "Saya melihat kenyataan bahwa pusat ibadah sama sekali bukan khotbah ataupun kerja karunia-karunia Roh Kudus, melainkan Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya," dia berkata.

Pada awal musim semi 1998 Pastor Jones dan kelompok studi Alkitab hari Rabu memutuskan untuk merekonstruksi kembali suatu tata ibadah Gereja perdana.

Sebulan sesudahnya Jones mengadakan perayaan Ekaristi setiap Minggu. "Kongregasi saya pikir ini suatu hal yang aneh," dia berkata. "Mereka berpikir sekali sebulan saja sudah cukup."

"Saya menyadari bahwa orang-orang akan pergi," dia berkata, suaranya penuh dengan rasa sedih. Selain masalah-masalah teologis, juga ada masalah rasial, kultur dan perbedaan sosial yang harus ditangani.

"Satu-satunya institusi yang dimiliki oleh warga keturunan Afrika-Amerika adalah gereja," kata Jones. "Ketika kamu merelakannya dan pergi ke institusi yang dimiliki oleh orang kulit putih, hal ini tidak sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang kulit hitam, sungguh bukan suatu hal yang mudah."

Buku Crossing the Tiber, oleh guru Alkitab, Steve Ray, memberikan Jones dengan ajaran Alkitabiah tentang Pembaptisan dan Ekaristi. Jones diperkenalkan dengan Ray ketika dia menelpon Seminari Hati Kudus (Sacred Heart Seminary) dan berbicara dengan Bill Riordan, yang dulunya menjabat sebagai profesor teologi disana. Dia mulai bertemu dengan Ray secara teratur dan berkomunikasi nyaris tiap hari lewat telepon dan email.

Studi Alkitab hari Rabu berubah menjadi studi tentang para Bapa Gereja perdana, Katekis Katolik, Maria, para kudus, api penyucian, teologi sakramental, dan perkembangan doktrin-doktrin iman.

"Saya mulai meninggalkan paham Sola Scriptura (bahwa kita hanya boleh percaya pada Alkitab saja)--yaitu inti sari kepercayaan Protestan," kata Jones.

Orang-orangpun mulai meninggalkannya.

Bahkan keponakan perempuan Jones sendiri juga berpikir demikian. "Setiap hari Minggu saya pulang kerumah dan berkata, 'Ini hari Minggu saya yang terakhir. Saya keluar dari gereja ini dan tidak akan kembali lagi.' " Tetapi, kata Stewart, karena dia percaya pamannya adalah hamba Allah yang saleh, dia kembali datang ke gereja dan secara bertahap hal-hal mulai masuk akal.

Dalam proses merubah gaya ibadat gereja Maranatha, Jones berpikir, "Kenapa saya harus menemukan ulang dari awal?" Sudah ada Gereja yang memiliki hal ini, yaitu Gereja Katolik.

"Saya mulai menyadari bahwa 'Gereja di ruang atas' (merujuk pada ruang dimana Yesus dan para murid mengadakan perjamuan terakhir) adalah Gereja Katolik, " kata Jones. "Semua gereja-gereja lain bermunculan sesudahnya dan punya seseorang pendiri. Saya telah menemukan Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus dan untuk itu saya rela untuk kehilangan segala-galanya."

Untuk hal yang satu ini, dia telah dicobai.

Kesulitan di rumah

"Pada awalnya saya pikir dia sedang terliputi oleh kegembiraan mengadakan ibadah seperti para Bapa Gereja perdana," kata Donna Jones, istri yang telah mendampingi Alex selama 33 tahun. "Ini bakalan menjadi hal yang cuma berlangsung sebentar. Lantas kemudian dia mulai merubah hal-hal secara drastis dan saya mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Saya menjadi khawatir karena saya merasa dia sedang menuju arah yang salah."

Pastor Jones berkata, kadang-kadang, baik istrinya maupun ketiga puteranya yang sudah dewasa, Joseph, Benjamin, Marc, menentang perubahan-perubahan tersebut secara terbuka. Tetapi ini bukan suatu hal yang mengherankan.

"Dia sendiri dulu pernah berkhotbah bahwa Gereja Katolik penuh dengan penyembahan berhala, " kata Donna. "Jadi ketika dia mulai menyambut Gereja Katolik saya berkata, 'Ada sesuatu hal yang salah disini. Dia telah berubah haluan.' "

Alex dan Donna mulai berargumentasi dan berdebat dalam berbagai isyu, kadangkala sampai lewat dini hari.

"Saya mulai melakukan riset tentang Gereja Katolik karena saya ingin membantah apa yang dikotbahkannya, " Donna menjelaskan. "Saya perlu amunisi. Tetapi sewaktu saya mulai membaca tentang Bapa Gereja, suatu perubahan mulai tumbuh dalam hati saya."

Dalam musim panas 1998 Dennis Walters, pembimbing RCIA (Rite of Christian Initiation for Adults, atau program katekis) di paroki Kristus Raja (Christ the King Parish) di Ann Arbor, bertemu dengan keluarga Jones di rumah Steve Ray.

"Saya memutuskan, daripada membiarkan mereka 'berenang' atau 'tenggelam' sendirian, " Walter berkata, "Saya menawarkan bantuan."

Walters memberikan mereka dan para tetua dan deakon gereja Maranatha buku-buku Katekis Katolik dan menjawab banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mereka seputar doktrin-doktrin Katolik.

Sejak Maret 1999, Walters bertemu dengan keluarga Jones setiap hari Selasa selama empat sampai lima jam. "Saya telah membahas sebagian besar topik-topik RCIA bersama dengan mereka," dia berkata.

Bagi Donna, hal ini membawa lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan. "Saya sampai berada dalam situasi dimana saya begitu sangat membutuhkan jawaban-jawaban sehingga saya akan mengendara mobil di jalan dan saya akan berbicara kepada Tuhan Yesus seolah-olah saya sedang bercakap-cakap dengan seorang manusia lain di dalam mobil saya," dia berkata. "Bibir saya akan bergerak-gerak dan saya tidak peduli apa kata orang yang melihat saya berbuat demikian."

Dia dibebani dengan pikiran bahwa kalau bergabung dengan Gereja Katolik berarti suaminya akan kehilangan mata pencaharian.

"Jadi saya berkata, 'Tuhan, apa yang akan saya lakukan selama melakukan pelayanan selama 25 tahun? Bagaimana dengan kuku-kuku saya? Saya tidak bisa lagi mendapat pedicure atau manicure,' " dia tertawa. "Lantas Roh Kudus berbicara dalam hati saya dan berkata, 'Aku tidak meminta kenyamananmu. Aku memikirkan bahwa supaya engkau menyerupai Kristus.'"

Hanya delapan bulan yang lalu Donna menemui suaminya di suatu malam dan mengumumkan, 'Saya mau masuk Katolik."

Lintasan yang hati-hati menuju Roma

Tetapi proses memasuki Gereja tidak begitu tiba-tiba. Maranatha telah berkomunikasi dengan Keuskupan Detroit selama lebih dari setahun. Keuskupan Agung bergerak dengan hati-hati karena ada banyak hal yang perlu ditangani, termasuk RCIA, perkawinan-perkawinan ulang, dan kemungkinan posisi pelayanan Katolik bagi para gembala di gereja Maranatha.

Ned McGrath, direktor komunikasi di Keuskupan-agung Detroit, mengeluarkan pernyataan kepada Credo: "Dalam semangat Yubileum Agung, Kardinal Maida dan Keuskupan-agung Detroit telah membuka diri terhadap keinginan-keinginan dari para pemimpin kongregasi Kristen lainnya, berikut anggota kongregasi mereka, menyangkut kemungkinan transisi ke dalam keanggotaan dalam Gereja Katolik Roma. Sampai hari ini, pembicaraan-pembicaraan ini mesti dinyatakan sebagai awal-mula, privat, dan tidak konklusif."

Beberapa minggu lalu Uskup Moses Anderson, satu-satunya uskup Detroit keturunan Afrika-Amerika, menghadiri ibadah hari Minggu di Maranatha. Setelah selesai ibadah dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan mengatakan kepada kongregasi bahwa para Uskup sangat bersukacita menyangkut situasi yang terjadi di sana. "Dia berkata bahwa mereka memerlukan banyak waktu lama supaya tidak ada kesan seolah-olah mereka berusaha mengambil keuntungan dari situasi ini," kata Walters.

Meskipun ada kemungkinan bahwa Pastor Jones bisa masuk seminari dan menjadi seorang imam Katolik atau deakon, tak satupun hal yang pasti, meskipun pastor-pastor yang sudah menikah dari denominasi lain pernah menjalani hal ini.

Steve Anderson, dari White Lake, adalah imam di sebuah Gereja Episkopal Karismatik sebelum meninggalkan gerejanya dan jabatan sebagai imam untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Meskipun menikah dan punya tiga anak, Anderson mendapatkan ijin dari Roma untuk menjadi seorang imam Katolik dan akan masuk Seminari Tinggi Hati Kudus (Sacred Heart Major Seminary) pada musim gugur untuk memulai studi tiga tahun sebelum ditahbiskan di Keuskupan Lansing.

Ironisnya, Anderson bertemu dengan Jones beberapa tahun sebelumnya di dalam suatu bus yang dipenuhi dengan para pastor dari wilayah Detroit yang sedang menuju pertemuan Promise Keepers (suatu fellowship Protestan). "Secara kebetulan kami duduk saling bersebelahan," kata Anderson. "Saya waktu itu tidak memiliki rencana untuk menjadi Katolik. Kita berbincang-bincang tentang para Bapa Gereja perdana dan menjadi kawan baik."

Jones tidak khawatir terhadap masa depannya sebagai gembala. Dia berkata bahwa dirinya siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Kardinal Adam Maida.

"Saya mungkin harus pergi dan mencari pekerjaan lain sekarang," Jones tertawa. Dia pernah menjadi guru di sekolah negri Detroit selama 28 tahun, 17 tahun diantaranya juga sekaligus melakukan pelayanannya sebagai gembala.

Jadi Katolik atau tidak...

Akhirnya semua mencapai puncaknya pada voting pada tanggal 4 Juni. Pertanyaannya adalah: Apakah kalian mau mengambil langkah-langkah yang diperlukan selanjutnya untuk bergabung dengan Gereja Katolik?

Sewaktu anggota kongregasi melewati pintu-pintu kayu yang besar di gereja Maranatha, mereka memasukkan kartu-suara mereka ke dalam kotak suara.

Tidak peduli apapun hasilnya, keluarga Jones, termasuk ketiga puteranya dan keluarga mereka masing-masing, sudah membulatkan tekad bahwa mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke dalam Gereja Katolik.

Suara tepuk tangan menggemuruh ketika hasil pemungutan suara diumumkan yang menyatakan bahwa kongregasi setuju untuk menjadi Katolik, tetapi kemenangan itu juga mengandung kepahitan.

Meskipun Jones mendorong ke 19 orang yang menjawab tidak, untuk tetap bersama mereka sebagai keluarga gereja, dia tahu bahwa sebagian akan pergi.

"Ini adalah suatu hal yang paling menyakitkan dari hal ini, melihat orang-orang yang engkau kasihi pergi meninggalkanmu karena mereka tidak mengerti," dia berkata. Bahkan anggota kongregasi dari gereja-gereja yang berdekatan juga turut marah. "Rasanya seolah-olah saya telah bergabung dengan musuh, seolah saya telah menghianati mereka. Saya menerima banyak telepon dari orang-orang yang berkata, "Saya mengasihimu. Saya berdoa bagimu, tetapi saya tidak mengerti apa yang kamu lakukan,' Dan tidak peduli betapa besar usahamu untuk mencoba membuat mereka mengerti, mereka menutup pintu hati mereka terhadap ide menjadi Katolik."

Diantara 19 orang yang tidak setuju adalah Leola Crittendon yang berusia 64 tahun. "Saya salah satu anggota asli sejak awal," demikian katanya. Dia dan suaminya telah menjadi anggota aktif gereja Maranatha sejak dari mulanya. "Rasanya seperti kematian suatu gereja. Sungguh membuat patah hati."

Crittendon mengatakan bahwa dia tidak pernah menghadiri studi Alkitab di hari Rabu karena dia tahu dia tidak ingin dirinya menjadi Katolik. "Pokoknya bukan untuk saya.""

Pastor Jones, menurut katanya, adalah seperti seorang kakak bagi dirinya dan keluarganya. "Kami sangat mengasihi dia, dan mengucapkan selamat dan berdoa baginya setiap hari."

Tetapi keluarga itu akan mencari gereja lainnya, kata Crittendon. "Pastor Jones mengatakan bahwa ini adalah kehendak Allah bagi dirinya, tetapi ini bukan kehendak Allah bagi saya dan keluarga saya."

Sedangkan bagi yang lain-lainnya, ini adalah suatu keputusan yang patut dirayakan.

"Saya sungguh berbahagia," kata keponakan Jones, Linda Stewart. "Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja karena saya percaya bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang ditinggalkan oleh Kristus di dunia dan saya ingin menjadi bagian dari Gereja tersebut."

DeGloria Thompson, seorang ibu yang bercerai dengan dua anak yang sudah dewasa berkata, "Sungguh menggembirakan untuk berada dalam Gereja Kristus."

"Saya sudah siap," kata Gregory Clifton, yang berusia 41 tahun, seorang ayah dari empat anak yang masih kecil-kecil. "Saya sangat senang untuk datang dan menerima Ekaristi."

Pendeta Michael Williams telah menjadi tetua di gereja Maranatha selama 12 tahun. "Saya yakin dengan sepenuh hati dan tanpa keraguan sedikitpun, bahwa perubahan ini adalah kehendak Allah dan bahwa arah yang kami tuju adalah kehendak Allah."

Pendeta Alex Jones juga mengetahui hal itu. "Ini pasti adalah kerja Roh Kudus," dia berkata.

"Ketika dinyatakan kepada diri saya bahwa inilah Gereja-Nya, sungguh bukan suatu keputusan yang sulit untuk dibuat meskipun saya tahu harus kehilangan segalanya," dia berkata.

Sekarang yang dibutuhkan adalah sebuah gereja yang baru bagi rumah mereka. Para anggota kongregasi gereja Maranatha punya waktu 30 hari untuk menemukannya. Jones tidak khawatir. "Kami percaya Allah akan menemukan suatu gereja bagi kami," katanya.

Bagi Pastor Jones dan kongregasi Maranatha--kisah ini masih berlanjut...


Disadur dari website Stans Williams
Alihbahasa Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net