 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Gereja Pentakosta
Kulit Hitam Memilih Untuk Menjadi Katolik
oleh Diane Morey Hanson,
Credo 19 Juni 2000
DETROIT - Ketika pendeta Alex Jones berkhotbah,
suaranya yang penuh semangat bergema di atap kubah Gereja Kristen
Maranatha di Oakman Boulevard di West Detroit. Tetapi hal ini tidak
akan berlangsung lama lagi.
Tempat yang luas dan penuh dengan ornamen yang
dulunya adalah sebuah Gereja Ortodoks itu telah dijual.
Hal itu disebabkan karena kongregasi yang mayoritasnya
orang kulit hitam telah menciut dari 200 menjadi 80 selama dua tahun
terakhir ketika Pastor Jones, 58, merubah tata ibadat gaya Pantekosta
untuk menyerupai Misa Katolik.
Dan pada tanggal 4 Juni, di hari Minggu untuk
perayaan persatuan umat Kristen dan Yesus Naik ke Surga - kongregasi
itu mengambil suara 39-19 untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan
untuk menjadi Katolik.
Kisah perjalanan mereka adalah suatu perjalanan
iman yang dipenuhi dengan kejutan, kemarahan, sakit hati, keraguan,
kasih dan sukacita.
Apa kamu sudah gila?
"Saya pikir ada roh jahat yang telah mempengaruhinya,"
kata Linda Stewart mengenai pamannya, Alex Jones, pastor gereja
Maranatha (dari kata Aram yang berarti "Tuhan datanglah").
Saya pikir dalam usahanya untuk mencari kebenaran, dia telah melangkah
terlalu jauh dan kehilangan akal sehatnya."
Alasan kekhawatiran Linda Stewart karena pamannya,
yang sudah seperti ayah kandung sendiri sejak ayah kandungnya meninggal
bertahun-tahun yang lalu, telah merubah studi Alkitab hari Rabu
menjadi studi para Bapa Gereja perdana. Dan secara bertahap dia
merubah ibadah hari Minggu menjadi menyerupai Misa Kudus Katolik:
berlutut, Tanda Salib, Kredo Nikea, perayaan Ekaristi - pendeknya
seluruh hal-hal yang berbau Katolik.
"Dulu kita diajarkan bahwa Gereja Katolik adalah
Pelacur Besar (dari Kitab Wahyu)," Stewart yang berusia 43
tahun menjelaskan. "Kita dulu diajarkan bahwa Sri Paus adalah
sang Anti-Kristus. Maria?--Maria?--tidak bisa! Kita dulu sangat
bersukaria dan menikmati kesukacitaan bersama Yesus dan lantas tahu-tahu
dia datang dan menawarkan hal ini."
"Saya sangat marah!!" kata Stewart. "Dan saya
pikir, 'Engkau sudah gila kalau engkau pikir kita akan melakukan
hal ini!'"
Bibit telah tertanam beberapa tahun yang lalu
ketika Jones menghadiri acara debat antara pengarang anti-Katolik
David Hunt dan apologis Katolik Karl Keating dalam suatu acara radio.
Jawaban-jawaban Katolik
Keating menanyakan suatu pertanyaan: Siapakah
yang anda percaya dalam suatu kasus kecelakaan--seseorang yang hadir
disana sebagai saksi mata atau seseorang yang datang bertahun-tahun
kemudian? Untuk belajar tentang Gereja Kristen perdana, Keating
menekankan, penting kiranya untuk membaca tulisan-tulisan para Bapa
Gereja perdana yang ada disana sejak awal mulanya.
"Sungguh masuk akal, tetapi waktu itu saya
belum siap untuk berubah," kata Jones. "Saya kesampingkan
dalam hati saya dan merenungkannya, tetapi hal itu tidak muncul
lagi sampai saya membaca para Bapa Gereja dan melihat sebuah ke-Kristenan
yang tidak kami miliki di gereja kami."
Perubahan itu
Jones sangat terkejut. "Saya melihat kenyataan
bahwa pusat ibadah sama sekali bukan khotbah ataupun kerja karunia-karunia
Roh Kudus, melainkan Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus yang
sesungguhnya," dia berkata.
Pada awal musim semi 1998 Pastor Jones dan
kelompok studi Alkitab hari Rabu memutuskan untuk merekonstruksi
kembali suatu tata ibadah Gereja perdana.
Sebulan sesudahnya Jones mengadakan perayaan
Ekaristi setiap Minggu. "Kongregasi saya pikir ini suatu hal
yang aneh," dia berkata. "Mereka berpikir sekali sebulan
saja sudah cukup."
"Saya menyadari bahwa orang-orang akan pergi,"
dia berkata, suaranya penuh dengan rasa sedih. Selain masalah-masalah
teologis, juga ada masalah rasial, kultur dan perbedaan sosial yang
harus ditangani.
"Satu-satunya institusi yang dimiliki oleh
warga keturunan Afrika-Amerika adalah gereja," kata Jones. "Ketika
kamu merelakannya dan pergi ke institusi yang dimiliki oleh orang
kulit putih, hal ini tidak sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan
orang-orang kulit hitam, sungguh bukan suatu hal yang mudah."
Buku Crossing the Tiber, oleh guru Alkitab,
Steve Ray, memberikan Jones dengan ajaran Alkitabiah tentang Pembaptisan
dan Ekaristi. Jones diperkenalkan dengan Ray ketika dia menelpon
Seminari Hati Kudus (Sacred Heart Seminary) dan berbicara dengan
Bill Riordan, yang dulunya menjabat sebagai profesor teologi disana.
Dia mulai bertemu dengan Ray secara teratur dan berkomunikasi nyaris
tiap hari lewat telepon dan email.
Studi Alkitab hari Rabu berubah menjadi studi
tentang para Bapa Gereja perdana, Katekis Katolik, Maria, para kudus,
api penyucian, teologi sakramental, dan perkembangan doktrin-doktrin
iman.
"Saya mulai meninggalkan paham Sola Scriptura
(bahwa kita hanya boleh percaya pada Alkitab saja)--yaitu inti sari
kepercayaan Protestan," kata Jones.
Orang-orangpun mulai meninggalkannya.
Bahkan keponakan perempuan Jones sendiri juga
berpikir demikian. "Setiap hari Minggu saya pulang kerumah dan berkata,
'Ini hari Minggu saya yang terakhir. Saya keluar dari gereja ini
dan tidak akan kembali lagi.' " Tetapi, kata Stewart, karena dia
percaya pamannya adalah hamba Allah yang saleh, dia kembali datang
ke gereja dan secara bertahap hal-hal mulai masuk akal.
Dalam proses merubah gaya ibadat gereja Maranatha,
Jones berpikir, "Kenapa saya harus menemukan ulang dari awal?"
Sudah ada Gereja yang memiliki hal ini, yaitu Gereja Katolik.
"Saya mulai menyadari bahwa 'Gereja di ruang
atas' (merujuk pada ruang dimana Yesus dan para murid mengadakan
perjamuan terakhir) adalah Gereja Katolik, " kata Jones. "Semua
gereja-gereja lain bermunculan sesudahnya dan punya seseorang pendiri.
Saya telah menemukan Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus dan
untuk itu saya rela untuk kehilangan segala-galanya."
Untuk hal yang satu ini, dia telah dicobai.
Kesulitan di rumah
"Pada awalnya saya pikir dia sedang terliputi
oleh kegembiraan mengadakan ibadah seperti para Bapa Gereja perdana,"
kata Donna Jones, istri yang telah mendampingi Alex selama 33 tahun.
"Ini bakalan menjadi hal yang cuma berlangsung sebentar. Lantas
kemudian dia mulai merubah hal-hal secara drastis dan saya mulai
menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Saya menjadi khawatir karena
saya merasa dia sedang menuju arah yang salah."
Pastor Jones berkata, kadang-kadang, baik istrinya
maupun ketiga puteranya yang sudah dewasa, Joseph, Benjamin, Marc,
menentang perubahan-perubahan tersebut secara terbuka. Tetapi ini
bukan suatu hal yang mengherankan.
"Dia sendiri dulu pernah berkhotbah bahwa Gereja
Katolik penuh dengan penyembahan berhala, " kata Donna. "Jadi
ketika dia mulai menyambut Gereja Katolik saya berkata, 'Ada sesuatu
hal yang salah disini. Dia telah berubah haluan.' "
Alex dan Donna mulai berargumentasi dan berdebat
dalam berbagai isyu, kadangkala sampai lewat dini hari.
"Saya mulai melakukan riset tentang Gereja
Katolik karena saya ingin membantah apa yang dikotbahkannya, "
Donna menjelaskan. "Saya perlu amunisi. Tetapi sewaktu saya
mulai membaca tentang Bapa Gereja, suatu perubahan mulai tumbuh
dalam hati saya."
Dalam musim panas 1998 Dennis Walters, pembimbing
RCIA (Rite of Christian Initiation for Adults, atau program katekis)
di paroki Kristus Raja (Christ the King Parish) di Ann Arbor, bertemu
dengan keluarga Jones di rumah Steve Ray.
"Saya memutuskan, daripada membiarkan mereka
'berenang' atau 'tenggelam' sendirian, " Walter berkata, "Saya
menawarkan bantuan."
Walters memberikan mereka dan para tetua dan
deakon gereja Maranatha buku-buku Katekis Katolik dan menjawab banyak
sekali pertanyaan-pertanyaan mereka seputar doktrin-doktrin Katolik.
Sejak Maret 1999, Walters bertemu dengan keluarga
Jones setiap hari Selasa selama empat sampai lima jam. "Saya
telah membahas sebagian besar topik-topik RCIA bersama dengan mereka,"
dia berkata.
Bagi Donna, hal ini membawa lebih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan. "Saya sampai berada dalam situasi dimana
saya begitu sangat membutuhkan jawaban-jawaban sehingga saya akan
mengendara mobil di jalan dan saya akan berbicara kepada Tuhan Yesus
seolah-olah saya sedang bercakap-cakap dengan seorang manusia lain
di dalam mobil saya," dia berkata. "Bibir saya akan bergerak-gerak
dan saya tidak peduli apa kata orang yang melihat saya berbuat demikian."
Dia dibebani dengan pikiran bahwa kalau bergabung
dengan Gereja Katolik berarti suaminya akan kehilangan mata pencaharian.
"Jadi saya berkata, 'Tuhan, apa yang akan saya
lakukan selama melakukan pelayanan selama 25 tahun? Bagaimana dengan
kuku-kuku saya? Saya tidak bisa lagi mendapat pedicure atau manicure,'
" dia tertawa. "Lantas Roh Kudus berbicara dalam hati
saya dan berkata, 'Aku tidak meminta kenyamananmu. Aku memikirkan
bahwa supaya engkau menyerupai Kristus.'"
Hanya delapan bulan yang lalu Donna menemui
suaminya di suatu malam dan mengumumkan, 'Saya mau masuk Katolik."
Lintasan yang hati-hati menuju Roma
Tetapi proses memasuki Gereja tidak begitu
tiba-tiba. Maranatha telah berkomunikasi dengan Keuskupan Detroit
selama lebih dari setahun. Keuskupan Agung bergerak dengan hati-hati
karena ada banyak hal yang perlu ditangani, termasuk RCIA, perkawinan-perkawinan
ulang, dan kemungkinan posisi pelayanan Katolik bagi para gembala
di gereja Maranatha.
Ned McGrath, direktor komunikasi di Keuskupan-agung
Detroit, mengeluarkan pernyataan kepada Credo: "Dalam semangat
Yubileum Agung, Kardinal Maida dan Keuskupan-agung Detroit telah
membuka diri terhadap keinginan-keinginan dari para pemimpin kongregasi
Kristen lainnya, berikut anggota kongregasi mereka, menyangkut kemungkinan
transisi ke dalam keanggotaan dalam Gereja Katolik Roma. Sampai
hari ini, pembicaraan-pembicaraan ini mesti dinyatakan sebagai awal-mula,
privat, dan tidak konklusif."
Beberapa minggu lalu Uskup Moses Anderson,
satu-satunya uskup Detroit keturunan Afrika-Amerika, menghadiri
ibadah hari Minggu di Maranatha. Setelah selesai ibadah dia menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan mengatakan kepada kongregasi
bahwa para Uskup sangat bersukacita menyangkut situasi yang terjadi
di sana. "Dia berkata bahwa mereka memerlukan banyak waktu
lama supaya tidak ada kesan seolah-olah mereka berusaha mengambil
keuntungan dari situasi ini," kata Walters.
Meskipun ada kemungkinan bahwa Pastor Jones
bisa masuk seminari dan menjadi seorang imam Katolik atau deakon,
tak satupun hal yang pasti, meskipun pastor-pastor yang sudah menikah
dari denominasi lain pernah menjalani hal ini.
Steve Anderson, dari White Lake, adalah imam
di sebuah Gereja Episkopal Karismatik sebelum meninggalkan gerejanya
dan jabatan sebagai imam untuk bergabung dengan Gereja Katolik.
Meskipun menikah dan punya tiga anak, Anderson mendapatkan ijin
dari Roma untuk menjadi seorang imam Katolik dan akan masuk Seminari
Tinggi Hati Kudus (Sacred Heart Major Seminary) pada musim gugur
untuk memulai studi tiga tahun sebelum ditahbiskan di Keuskupan
Lansing.
Ironisnya, Anderson bertemu dengan Jones beberapa
tahun sebelumnya di dalam suatu bus yang dipenuhi dengan para pastor
dari wilayah Detroit yang sedang menuju pertemuan Promise Keepers
(suatu fellowship Protestan). "Secara kebetulan kami duduk saling
bersebelahan," kata Anderson. "Saya waktu itu tidak memiliki rencana
untuk menjadi Katolik. Kita berbincang-bincang tentang para Bapa
Gereja perdana dan menjadi kawan baik."
Jones tidak khawatir terhadap masa depannya
sebagai gembala. Dia berkata bahwa dirinya siap untuk melakukan
apa saja yang diminta oleh Kardinal Adam Maida.
"Saya mungkin harus pergi dan mencari pekerjaan
lain sekarang," Jones tertawa. Dia pernah menjadi guru di sekolah
negri Detroit selama 28 tahun, 17 tahun diantaranya juga sekaligus
melakukan pelayanannya sebagai gembala.
Jadi Katolik atau tidak...
Akhirnya semua mencapai puncaknya pada voting
pada tanggal 4 Juni. Pertanyaannya adalah: Apakah kalian mau mengambil
langkah-langkah yang diperlukan selanjutnya untuk bergabung dengan
Gereja Katolik?
Sewaktu anggota kongregasi melewati pintu-pintu
kayu yang besar di gereja Maranatha, mereka memasukkan kartu-suara
mereka ke dalam kotak suara.
Tidak peduli apapun hasilnya, keluarga Jones,
termasuk ketiga puteranya dan keluarga mereka masing-masing, sudah
membulatkan tekad bahwa mereka akan melanjutkan perjalanan mereka
ke dalam Gereja Katolik.
Suara tepuk tangan menggemuruh ketika hasil
pemungutan suara diumumkan yang menyatakan bahwa kongregasi setuju
untuk menjadi Katolik, tetapi kemenangan itu juga mengandung kepahitan.
Meskipun Jones mendorong ke 19 orang yang menjawab
tidak, untuk tetap bersama mereka sebagai keluarga gereja, dia tahu
bahwa sebagian akan pergi.
"Ini adalah suatu hal yang paling menyakitkan
dari hal ini, melihat orang-orang yang engkau kasihi pergi meninggalkanmu
karena mereka tidak mengerti," dia berkata. Bahkan anggota
kongregasi dari gereja-gereja yang berdekatan juga turut marah.
"Rasanya seolah-olah saya telah bergabung dengan musuh, seolah
saya telah menghianati mereka. Saya menerima banyak telepon dari
orang-orang yang berkata, "Saya mengasihimu. Saya berdoa bagimu,
tetapi saya tidak mengerti apa yang kamu lakukan,' Dan tidak peduli
betapa besar usahamu untuk mencoba membuat mereka mengerti, mereka
menutup pintu hati mereka terhadap ide menjadi Katolik."
Diantara 19 orang yang tidak setuju adalah
Leola Crittendon yang berusia 64 tahun. "Saya salah satu anggota
asli sejak awal," demikian katanya. Dia dan suaminya telah menjadi
anggota aktif gereja Maranatha sejak dari mulanya. "Rasanya
seperti kematian suatu gereja. Sungguh membuat patah hati."
Crittendon mengatakan bahwa dia tidak pernah
menghadiri studi Alkitab di hari Rabu karena dia tahu dia tidak
ingin dirinya menjadi Katolik. "Pokoknya bukan untuk saya.""
Pastor Jones, menurut katanya, adalah seperti
seorang kakak bagi dirinya dan keluarganya. "Kami sangat mengasihi
dia, dan mengucapkan selamat dan berdoa baginya setiap hari."
Tetapi keluarga itu akan mencari gereja lainnya,
kata Crittendon. "Pastor Jones mengatakan bahwa ini adalah
kehendak Allah bagi dirinya, tetapi ini bukan kehendak Allah bagi
saya dan keluarga saya."
Sedangkan bagi yang lain-lainnya, ini adalah
suatu keputusan yang patut dirayakan.
"Saya sungguh berbahagia," kata keponakan
Jones, Linda Stewart. "Saya tidak bisa menunggu lebih lama
lagi untuk berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja karena saya
percaya bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang ditinggalkan oleh
Kristus di dunia dan saya ingin menjadi bagian dari Gereja tersebut."
DeGloria Thompson, seorang ibu yang bercerai
dengan dua anak yang sudah dewasa berkata, "Sungguh menggembirakan
untuk berada dalam Gereja Kristus."
"Saya sudah siap," kata Gregory Clifton, yang
berusia 41 tahun, seorang ayah dari empat anak yang masih kecil-kecil.
"Saya sangat senang untuk datang dan menerima Ekaristi."
Pendeta Michael Williams telah menjadi tetua
di gereja Maranatha selama 12 tahun. "Saya yakin dengan sepenuh
hati dan tanpa keraguan sedikitpun, bahwa perubahan ini adalah kehendak
Allah dan bahwa arah yang kami tuju adalah kehendak Allah."
Pendeta Alex Jones juga mengetahui hal itu.
"Ini pasti adalah kerja Roh Kudus," dia berkata.
"Ketika dinyatakan kepada diri saya bahwa inilah
Gereja-Nya, sungguh bukan suatu keputusan yang sulit untuk dibuat
meskipun saya tahu harus kehilangan segalanya," dia berkata.
Sekarang yang dibutuhkan adalah sebuah gereja
yang baru bagi rumah mereka. Para anggota kongregasi gereja Maranatha
punya waktu 30 hari untuk menemukannya. Jones tidak khawatir. "Kami
percaya Allah akan menemukan suatu gereja bagi kami," katanya.
Bagi Pastor Jones dan kongregasi Maranatha--kisah
ini masih berlanjut...
|