 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Pendeta Alex Jones:
Pentakosta atau Katolik?
oleh Stan Williams
Pendeta Alex Jones telah
mencapai puncak kesuksesan sebagai pendiri dan pastor senior dari
sebuah fellowship Pentakosta yang terkenal di kota Detroit, yaitu
Gereja Kristen Maranatha. Mayoritas kongregasi pimpinan pastor Jones
adalah orang-orang kulit hitam, yang berakar pada aliran evangelikalisme
Amerika yang biasanya banyak ditemukan di wilayah-wilayah perkotaan
di Amerika Serikat - yaitu Gereja Allah dalam Kristus (Church of
God in Christ). Yang tidak umum adalah bangunan gerejanya yang berarsitektur
gaya Ortodoks Yunani (lihat foto). Kubah yang didominasi dengan
ubin berwarna hijau, dikelilingi oleh menara, minaret dan salib-salib.
Di sebelah dalamnya, altar dan langit-langitnya dihiasi dengan portal-portal
berwarna putih yang membentuk busur, pilar-pilar yang berlekuk-lekuk,
dan kandelir (tempat lilin) berdaun keemasan. Di tempat inilah kebaktian
mereka berjalan dengan penuh sukacita dan studi Alkitab mereka berlangsung
dengan serius. Dalam situasi seperti inilah pastor Alex Jones menjabat
sebagai pimpinan dari suatu keluarga gereja yang tumbuh subur yang
juga meliputi istri dan anak-anak dari ketiga putera mereka.
Suatu ketika, pada suatu Rabu malam pada
tahun 1998, pendeta Jones mengajukan suatu usul yang sederhana dan
polos kepada kelompok studi Alkitabnya. Pada awalnya, kelompok studi
itu menganggap idenya sebagai suatu hal yang baru. Ujung-ujungnya,
hasil dari saran tadi membawa gereja tersebut pada pergolakan, perpecahan
dan akibatnya reputasi pendeta Jones dipertanyakan di seluruh penjuru
kota. Banyak orang berpikir pendeta Jones cuma sedang melalui suatu
"fase" dalam hidupnya. Tetapi bulan demi bulan berlalu, dan
orang-orang menganggap pendeta Alex Jones sebagai kombinasi terburuk
dari penganut ajaran sesat dan orang tidak waras. Putera-puteranya
memberontak dan sang istri bahkan memikirkan untuk minta cerai.
Tetapi bagi orang-orang lainnya, pendeta Alex Jones sehat lahir-batin
dan semata-mata telah menemukan kebenaran yang sesungguhnya atas
Gereja Kristen.
Apa yang telah pendeta Alex Jones lakukan adalah
memberi saran supaya pada pertemuan malam Rabu berikutnya, kelompok
studi Alkitab tersebut merekonstruksi tata ibadah gereja abad
pertama. Menemukan kembali akar-akar kekristenan dalam para Bapa-bapa
Gereja dari awal abad kedua adalah maksud tujuannya. Pendeta Jones
sama sekali tidak bermimpi kemana hasil studinya itu akan membawanya.
Seperti diceritakan oleh pendeta Jones, apa yang ditemukannya bukanlah
Protestanisme, bukan pula Evangelikalisme, bukan pula Pentakostalisme,
melainkan adalah Gereja Katolik! Padahal selama ini dia sendiri
telah mengajarkan dari atas mimbar gereja bahwa Gereja Katolik dan
Sri Paus tidak lain adalah sang "pelacur Babel" dan sang
"Anti-Kristus" sendiri.
Dalam bulan-bulan berikutnya, dengan sengaja
pendeta Alex Jones memimpin kongregasinya melalui sejumlah kritisisme
dan kecurigaan. Mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempelajari
perbedaan antara gaya ibadah Pentakosta yang sangat mereka kenal,
dengan ibadah Katolik yang tidak mereka ketahui. Pada tanggal 4
Juni 2000, mereka sebagai kongregasi mengambil keputusan untuk
maju. Bangunan gereja dijual. Pada tanggal 10 September 2000 mereka
memasuki Gereja katolik bersama-sama sebagai peserta program
katekumen. Setelah lebih dari tujuh bulan mengikuti program RCIA
(Rite of Christian Initiation for Adults, = program katekumen),
mereka akan menerima sakramen penguatan sebagai Katolik selama Misa
Malam Paskah tahun 2001 yang akan berlangsung selama 4 jam. Sementara
itu, pendeta Alex Jones telah memasuki seminari Katolik. Dia memang
telah menikah dan punya anak, tetapi dia telah mendapat informasi bahwa
Sri Paus telah membuat berbagai pengecualian. Suatu hari Alex Jones
berharap ia boleh menjadi imam Katolik bagi kongregasinya.
Urut-urutan kronologis kisah perjalanan spiritual
pendeta Alex Jones memiliki saat-saat yang mengesankan dan dramatis.
Ditengah-tengah kisah ini adalah pendeta Alex Jones, seorang idealis,
yang tanpa henti-hentinya berusaha untuk mencari kebenaran, dan
memimpin kongregasinya untuk berhadapan dengan sejumlah konflik
antara kultur, kelas sosial, rasial dan agama, empat bagian dari
dokumentari ini. Gereja Kristen Maranatha berakar pada kultur yang
inklusif dan sederhana. Sementara itu, banyak anggota kongregasi
ini memiliki persepsi bahwa Katolikisme sebagai kultur yang
ekskulif dan penuh ritual. Kebanyakan gereja-gereja perkotaan
melayani kelas sosial yang lebih miskin; sedangkan Katolikisme dianggap
hanya melayani mereka yang kaya. Pendeta Jones dan mayoritas kongregasinya
adalah warga Amerika kulit hitam keturunan Afrika. Sementara itu
tetangga-tetangga mereka yang Katolik, meskipun di wilayah dalam
kota yang mayoritasnya kulit hitam, umumnya berkulit putih. Akan
tetapi penghalang terbesar adalah iman kepercayaan. Pentakostalisme
bukan sekedar Protestanisme, melainkan dua langkah lebih jauh melalui
Evangelikalisme dan juga pengaruh gaya Karismatik atas iman
Kristen. Kisah tentang terbukanya selubung kesalah-pahaman dan misrepresentasi
antara Pentakostalisme dan Katolikisme yang memberikan motivasi
kepada pendeta Alex Jones. Sementara dia menyelidiki kebenaran,
kita berjalan disampingnya dan bersamanya menemukan interpretasi
yang menarik terhadap Reformasi Protestan oleh kalangan Protestan
di Amerika Serikat. Karena bukan hanya reformasi oleh Martin Luther
dan John Calvin yang terjadi di Eropa yang memicu penyelidikan dan
konflik yang ditemukan oleh pendeta Alex Jones, tetapi juga pola-pikir
para pendiri-pendiri denominasi Protestan di Amerika Serikat yang
tanpa dapat dihindarkan telah membawa iman Kristen kedalam
kebebasan dan pilihan individualistis yang kuat.
Ini adalah kisah pendeta Alex Jones. Dia mengisahkan
kepada kita dengan kata-katanya sendiri melalui wawancara mendetail
di depan kamera. Kita mendengar semangat dan kerinduannya yang menggambarkan
bagaimana perjalanan spiritualnya. Obsesinya terhadap kebenaran
dengan mempertaruhkan kenyamanan finansial dan ketentraman jasmani-rohani
istri dan keluarga besarnya. Dari posisi sebagai pemimpin gereja
yang dihormati dan dicari-cari, dia sampai dianggap tersesat dan
dipermalukan. Dari posisi finansial yang nyaman, dia sampai harus
rela menjual harta-benda gerejanya demi untuk bertahan hidup. Sementara
Alex adalah fokus dari kisah ini, kita juga tidak mengabaikan pendapat
yang berseberangan sewaktu kami mewawancarai anggota-anggota keluarga,
para teman-teman, dan pendeta-pendeta lainnya dan para pengecam-pengecam
pendeta Alex Jones. Kita akan melalui kisah ini melalui liputan
dokumentari atas peristiwa-peristiwa seperti antara lain, diskusi
yang menghangat antara pendeta Alex Jones dan istrinya Donna. Kita
mendengar perbedaan pendapat teologis antara sang ayah, Alex, dan
ketiga anak-anaknya, Joseph, Benjamin, dan Mark. Kita menjadi saksi
ketika pengambilan suara dilakukan di gerejanya untuk memutuskan
apakah mereka akan meninggalkan Pentakostalisme dan melakukan perjalanan
yang sulit menuju Katolikisme. Dan kita menyaksikan dalam dokumentari
ini (lihat foto-foto diatas) ketika pendeta Alex Jones menggedor
pintu gereja Katolik terdekat dan meminta suaka dengan sejumlah
anggota kongregasi yang mengikuti dibelakangnya. Suatu poin yang
dramatis dalam kisah ini terjadi ketika pendeta Alex Jones dibujuk
oleh seorang pendeta setempat untuk hadir dalam acara televisi siaran
langsung dimana pemirsa bisa menelpon masuk. Di dalam show
tersebut, pendeta Alex dipertanyakan, dicemooh, dan dipermalukan
oleh sesama pendeta. Wawancara kami dengan pemilik stasiun televisi,
tuan rumah acara show tersebut, dan sejumlah orang yang mewakili dari pihak
pendeta , memberikan gambaran atas pentingnya kisah perjalanan
pendeta Alex Jones dan hubungannya dengan para pastor-pastor gereja-gereja
Pentekosta di kota Detroit.
Kita juga memiliki foto-foto dari masa kanak-kanak
pendeta Alex Jones, sebagai seorang anak laki-laki, seorang murid
sekolah, dan tahun-tahunnya ketika menjabat sebagai guru seni di
sebuah sekolah negeri di kota Detroit. Lalu juga ada surat-surat
rahasia antara pendeta Alex dan pihak Gereja Katolik dan rintangan-rintangan
dari Keuskupan Agung Detroit yang curiga, hati-hati dan birokratis.
Diantara hal-hal yang diminta oleh pihak Keuskupan Agung adalah
supaya pendeta Alex Jones berhenti memberikan wawancara kepada pihak
media massa. Cerita-cerita di surat kabar dan majalah telah mempertinggi
perhatian masyarakat dan memicu emosi yang begitu tinggi sehingga
seorang pendeta melakukan perjalanan 500 mil (~800 kilometer) sekedar
untuk mengunjungi pendeta Alex, suatu hari yang tidak terlupakan.
Sepanjang semua ini, kami mengunjungi pendeta Alex dan keluarga-gerejanya
sewaktu mereka melakukan kebaktian, bernyanyi, berdoa, makan bersama,
memungut suara bagi masa depan mereka dan mulai mempelajari akar-akar
Kristen yang lama dan terlupakan. Sepanjang perjalanan yang
langka ini, pendeta Alex Jones tampak semakin dikuatkan. Dia sungguh
terpesona oleh apa yang telah dipelajarinya. Tetapi sama sekali
tidak ada kesombongan, melainkan hanya semata-mata kerendah-hatian
yang penuh dengan keyakinan dan menyolok.
Apakah perjalanan pendeta Alex hasil dari pikiran
yang gila-gilaan, atau ini adalah akhir dari Reformasi Protestan?
Salah satu pendeta di Detroit mengatakan bahwa perjalanan pendeta
Jones boleh jadi merupakan transisi penting dalam sejarah Protestanisme.
Pendeta Alex Jones punya kesan emosi yang kuat terhadap masa
lalu dan boleh jadi dia sedang menjalankan peran yang historis dalam
sejarah Kristen. Fakta bahwa perbuatannya telah menimbulkan oposisi
yang menggunung dan serupa dalam gaya tetapi dalam arah yang berbeda
dengan yang diambil oleh para reformer abad ke-16 seperti Martin
Luther, tidak dilewatkan oleh pendeta Alex Jones. Karena serupa
seperti Martin Luther, pendeta Alex Jones adalah seorang yang penuh
hati nurani, intelektual dan semangat yang meluap-luap. Dan meskipun
harus kehilangan sejumlah besar sahabat-sahabat seumur hidup, pelayanan
sebagai pendeta, dan kenyamanan finansialnya, pendeta Alex Jones,
seperti Martin Luther, sampai pada suatu titik dimana dia harus
berkata, "Disinilah aku berpegang. Aku tidak dapat melakukan yang
lainnya. Tuhan tolonglah aku."
|