 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Pastor beserta kongregasinya
menjadi Katolik pada malam Paskah
DETROIT. Ketika Alex
Jones yang lahir di Detroit menjadi pendeta Pentakosta pada tahun
1972, mereka yang mengenalnya percaya bahwa dia menjawab panggilan
Tuhan untuk menginjil. Sekarang, banyak dari sanak-saudaranya maupun
sahabat-sahabatnya menganggap sang pendeta yang berumur 59 tahun
tersebut sebagai seorang murtad karena menyambut iman Katolik, dan
menutup gereja non-denominasi yang dibangunnya pada tahun 1982,
dan membawa sejumlah anggota kongregasinya bersamanya.
Pada malam Paskah tanggal 14 April lalu, Jones,
berserta istrinya Donna, dan 62 anggota Gereja Kristen Maranatha
diterima dalam Gereja Katolik pada Misa Malam Paskah di paroki St.Suzanne.
Bagi Jones, menjadi Katolik menandai akhir perjalanan spiritual
yang dimulai dengan benih iman yang ditanamkan oleh apologis Katolik
dan kolumnis di National Catholic Register, Karl Keating. Demikian
hal ini juga menandai cara hidup yang baru.
Jones pertama kali mendengar Keating, pendiri
kerasulan awam Catholic Answers (www.catholic.com),
dalam suatu acara debat mengenai apakah asal-mula Gereja Kristen
adalah Protestan atau Katolik. Menjelang akhir debat, Keating melontarkan
pertanyaan, "Jika terjadi sesuatu peristiwa, siapakah yang
akan anda percaya: mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut, ataukah
orang-orang yang datang ribuan tahun berikutnya dan menceritakan
apa yang telah terjadi?"
"Suatu poin yang bagus," demikian
pikir Jones, dan menyimpannya dalam hati. Lima tahun kemudian, ketika
dia sedang membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja, pertanyaan
yang dilontarkan Keating kembali muncul. Jones mulai studi mengenai
asal-mula Gereja, dan membagikan apa yang ditemukannya dengan kongregasinya.
 Untuk menggambarkan apa yang dia katakan, pada musim
semi tahun 1998 dia merekonstruksi ulang tata ibadah Gereja perdana,
meskipun sama sekali tanpa maksud untuk merubah gaya ibadah kongregasi
yang dipimpinnya. "Tetapi sekali saya menemukan kebenaran yang
mendasar dan melihat bahwa Kristen (dulu) tidak sama seperti apa
yang saya ajarkan, beberapa penyesuaian perlu dilaksanakan."
Tidak lama kemudian, kebaktian hari Minggu
Gereja Kristen Maranatha makin menyerupai Misa Katolik dengan warna-warna
Pentakosta. "Kami mengucapkan semua doa-doa dengan segala aturan-aturan
Gereja, semua bacaan-bacaan, doa-doa Ekaristi (Syukur Agung). Kami
melakukan semuanya, dan kami melakukannya dengan gaya warga keturunan
Afrika-Amerika." Akan tetapi, tidak semua orang menyukai perubahan-perubahan
tersebut, dan kongregasi beranggotakan 200 orang tersebut mulai
menyusut.
Sementara itu, Jones menghubungi Seminari Hati
Kudus (Sacred Heart Seminary) di kota Detroit dan diperkenalkan
dengan Steve Ray dari Milan, Michigan. Steve Ray adalah penulis
best-seller yang kisah kesaksiannya tertera dalam buku "Crossing
The Tiber."
"Saya segera membuat janji untuk makan
siang bersamanya dan sejak itu praktisnya kami selalu makan siang
bersama setiap bulannya," kata Steve Ray. Dia memperkenalkan
Jones dengan Dennis Walters, seorang katekis dari paroki Kristus
Raja (Christ the King) di Ann Arbor, Michigan. Mulai bulan Maret
1999, Walters mulai memberi pengajaran mingguan kepada sang pendeta
Pentakosta dan istrinya.
Persilangan
Akhirnya, Jones beserta
kongregasinya sampai di persimpangan jalan. Pada tanggal 4 Juni,
jemaat orang dewasa di Gereja Maranatha mengambil suara 39-19 untuk
memulai proses untuk menjadi Katolik. Pada bulan September, mereka
mulai masuk program RCIA (katekismus, pelajaran agama) di paroki
St.Suzanne.
Gereja Maranatha ditutup untuk selamanya pada
bulan Desember. Kongregasi juga setuju lewat pemungutan suara untuk
memberikan uang pesangon kepada Jones dan menjual bangunan gereja
yang dulunya adalah bekas paroki Ortodoks Yunani, kepada Gereja
Tabernakel Pertama Allah dalam Kristus (First Tabernacle Church
of God in Christ).
Father Dennis Dugan, 53 tahun, pastor paroki
St.Suzanne, mengatakan bahwa para mantan anggota Gereja Maranatha
termasuk pendeta Jones, ditambah 10 orang lainnya, merupakan kelas
katekumen yang terbesar yang pernah ada di paroki tersebut.
Kesatuan dan Keberagaman
Meskipun tidak seluruh anggota paroki St.Suzanne
yang umumnya berkulit putih menerima group tersebut dengan hangat,
Father Duggan, yang juga berkulit putih, berkata bahwa dia menganggap
bahwa kedatangan para pendatang tersebut merupakan karunia dari
Tuhan dan jawaban dari doa-doanya.
"Apa yang agaknya Tuhan ingin sampaikan
dalam diri kami berdua - Alex dan saya sendiri - adalah dua
individual yang punya impian yang serupa menyangkut keberagaman
(diversity). Detroit adalah kota yang komunitas etnisnya terpisah
(segregated), terutama pada hari Minggu pagi (ketika umat Kristen
Katolik dan Protestan beribadah). Dan disini kami dua orang beriman
percaya bahwa kita (umat Kristen) harus tampil berbeda."
Father Duggan berharap nantinya Jones ikut
bekerja sebagai staff paroki. Bahkan sekarangpun, dia telah meminta
Jones untuk membantunya mengajar studi Alkitab setiap hari Rabu
malam. Dan bahkan dia sedang berusaha untuk mengadaptasi musik pada
acara Misa Kudus supaya lebih mewakili latar belakang etnis anggota
parokinya.
"Gaya ibadah Eropa yang saat ini dipakai
di St.Suzanne adalah adaptasi yang paling sulit bagi para mantan
anggota Gereja Maranatha," kata Jones, karena mereka telah
terbiasa dengan menggunakan musik kontemporer dengan doa-doa dan
ritual-ritual Katolik.
"Adaptasi kultural jauh lebih sulit daripada
adaptasi teologis," demikian katanya.
Masalah-masalah Protestan
Jones berkata bahwa empat sandungan terbesar
yang dihadapi umat Protestan terhadap iman Katolik adalah ajaran-ajaran
mengenai Maria, api penyucian, supremasi Sri Paus, dan berdoa kepada
para kudus. Dia telah menuntaskan tiga dari empat halangan tersebut
lama sebelumnya, tetapi yang paling sulit diterima adalah Maria.
Akhirnya dia menerima ajaran tentang Maria hanya karena Gereja mengajarkan
demikian.
"Sedemikian terpatri dalam-dalam di benak
umat Protestan bahwa hanya Allah mendiami surga dan untuk berdoa
kepada yang lainnya sama saja dengan menyembah berhala. Kultur ini
begitu tertanam dalam-dalam di hati saya bahwa hanya Tritunggal
Mahakudus boleh menerima doa-doa, sehingga ini adalah hal yang begitu
sulit untuk diterima."
Dia sekarang sedang menulis tesis tentang layaknya
menghormati Maria, bagi suatu kelas di seminari Hati Kudus di Detroit,
dimana dia sedang mengambil kelas-kelas pemula yang dibutuhkan
untuk mendapatkan gelar Master dalam bidang teologi dan studi pastoral.
Dia juga sedang menulis suatu buku yang akan diterbitkan oleh Ignatius
Press (www.ignatius.com) dan menerima permintaan
untuk tampil sebagai pembicara dalam seminar-seminar Katolik melalui
St. Joseph Communications, West Covina, California (www.saintjoe.com).
Jones, ayah dari tiga putera yang semuanya
sudah menikah dan sudah mempunyai enam cucu, menyerahkan kemungkinan
dirinya untuk jadi imam Katolik, kepada keputusan Gereja.
"Jika Gereja menyetujui panggilan itu,
maka saya akan menerimanya. Tetapi jika tidak, sayapun akan menerimanya
juga. Apapun yang Gereja inginkan dari saya, saya akan melakukannya."
Meskipun dia telah merelakan kehilangan sumber
nafkah sebagai pendeta, statusnya, dan kongregasi yang dibangunnya,
demi untuk masuk Katolik, Jones berkata bahwa kehilangan yang tersulit
adalah para sanak keluarga dan sahabat-sahabatnya yang menolaknya
karena keputusan yang diambilnya (untuk masuk Katolik).
"Menyaksikan mereka yang telah beribadah
dan berdoa bersama-sama dengan saya selama 40 tahun, pergi meninggalkan
saya dan tidak lagi memiliki hubungan dengan mereka, sungguh adalah
suatu hal yang sangat menyedihkan."
Bahkan lebih menyakitkan lagi, katanya, ketika
ibunya sendiri yang telah membantunya membangun kongregasi Maranatha,
pergi meninggalkannya untuk bergabung dengan Gereja Penyempurnaan
(Perfecting Church) di kota Detroit, dimana saudara sepupunya Marvin
Winans, seorang penyanyi gospel, menjabat sebagai pastor disana.
Baik Winans maupun pastor dari gereja yang
membeli bangunan milik Gereja Maranatha, tidak mau memberi komentar
atas kepindahan Jones menjadi Katolik.
Jones juga terbeban batinnya oleh mereka yang
terpisah dengannya karena mereka tidak mengerti keputusan yang diambilnya.
"Bagi mereka, saya telah murtad dan menjadi
sesat. Dan itu menyakitkan hati saya karena kita semua ingin dipandang
sebagai orang baik-baik dan benar, tetapi sekarang kamu sudah mendapat
stigma sebagai orang yang labil jiwanya, plin-plan, dan dipandang
seolah-olah kamu telah meninggalkan Allah."
Jones berkata ketika groupnya sedang mempertimbangkan
untuk pindah menjadi Katolik, kelompok-kelompok doa dibentuk untuk
mencegah mereka. "Orang-orang berpuasa dan berdoa supaya Allah
menghentikan kami dari 'kesalahan besar' ini. Ketika kami tetap
berpindah, mereka menganggap seolah-olah kami sudah mati."
Dia berkata umat Katolik tidak sepenuhnya mengerti
bagaimana umat Protestan memandang gereja mereka (Katolik). "Ada
lapisan tipis keramah-tamahan, dan dibawahnya ada rasa antipati
yang besar."
Tetapi dia tetap yakin bahwa dia melakukan
hal yang benar.
"Bagaimana kamu bisa berkata tidak terhadap
kebenaran? Saya sadar bahwa saya akan kehilangan segala-galanya
dan di lingkaran orang-orang tersebut saya tidak akan pernah diterima
kembali, tetapi saya tidak memiliki pilihan lain," dia berkata.
"Adalah dosa maut bagi saya untuk mengetahui
apa yang saya ketahui akan tetapi tidak menjalankannya. Jika saya
kembali kepada hidup saya sebelumnya, saya bukan seorang yang jujur,
dan tidak dapat dipercaya, seorang yang melihat kebenaran, mengetahui
kebenaran, dan melangkah pergi daripadanya, dan saya sama sekali
tidak dapat berbuat demikian."
|