Buka lebar pintu-pintu bagi Kristus
 

Rubrik Konsultasi Rohani
Pesan dan kesan anda setelah mengunjungi situs ini
Undang teman anda untuk mengunjungi website ini!
Jika anda ingin menerima berita terbaru dari situs ini, masukan email anda disini:

Daftar Keluar milis
Jadwal Misa Kudus di Indonesia
Link Situs-situs Katolik
Hai!! Jangan lupa kami menerima hasil karya tulisan anda untuk meramaikan situs ini. Kirim email ke: webmaster.

Anda bisa jadi evangelis?
Poin penting sejarah Gereja
Katekismus: Persatuan Gereja
Santa Maria dari Kazan
Basilika St.Maria Mayora
St.Yohanes Krisostomus
Dari Yahudi jadi Katolik
Kesaksian dari sejumlah individu dari berbagai latar belakang yang menjadi Katolik
Gary Hoge
Paul Thigpen
Rosalind Moss
Dr.Douglas Lowry
Glen Allen
Alex Jones bagian 1
Alex Jones bagian 2
Alex Jones bagian 3
Alex Jones 4
Keluarga Steve Ray
David Palm
Larry dan Joetta Lewis

Pastor beserta kongregasinya menjadi Katolik pada malam Paskah

Rev. Alex JonesDETROIT. Ketika Alex Jones yang lahir di Detroit menjadi pendeta Pentakosta pada tahun 1972, mereka yang mengenalnya percaya bahwa dia menjawab panggilan Tuhan untuk menginjil. Sekarang, banyak dari sanak-saudaranya maupun sahabat-sahabatnya menganggap sang pendeta yang berumur 59 tahun tersebut sebagai seorang murtad karena menyambut iman Katolik, dan menutup gereja non-denominasi yang dibangunnya pada tahun 1982, dan membawa sejumlah anggota kongregasinya bersamanya.

Pada malam Paskah tanggal 14 April lalu, Jones, berserta istrinya Donna, dan 62 anggota Gereja Kristen Maranatha diterima dalam Gereja Katolik pada Misa Malam Paskah di paroki St.Suzanne. Bagi Jones, menjadi Katolik menandai akhir perjalanan spiritual yang dimulai dengan benih iman yang ditanamkan oleh apologis Katolik dan kolumnis di National Catholic Register, Karl Keating. Demikian hal ini juga menandai cara hidup yang baru.

Jones pertama kali mendengar Keating, pendiri kerasulan awam Catholic Answers (www.catholic.com), dalam suatu acara debat mengenai apakah asal-mula Gereja Kristen adalah Protestan atau Katolik. Menjelang akhir debat, Keating melontarkan pertanyaan, "Jika terjadi sesuatu peristiwa, siapakah yang akan anda percaya: mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut, ataukah orang-orang yang datang ribuan tahun berikutnya dan menceritakan apa yang telah terjadi?"

"Suatu poin yang bagus," demikian pikir Jones, dan menyimpannya dalam hati. Lima tahun kemudian, ketika dia sedang membaca tulisan-tulisan para Bapa Gereja, pertanyaan yang dilontarkan Keating kembali muncul. Jones mulai studi mengenai asal-mula Gereja, dan membagikan apa yang ditemukannya dengan kongregasinya.

Sunday Morning at 
MCCSunday Morning at 
MCCUntuk menggambarkan apa yang dia katakan, pada musim semi tahun 1998 dia merekonstruksi ulang tata ibadah Gereja perdana, meskipun sama sekali tanpa maksud untuk merubah gaya ibadah kongregasi yang dipimpinnya. "Tetapi sekali saya menemukan kebenaran yang mendasar dan melihat bahwa Kristen (dulu) tidak sama seperti apa yang saya ajarkan, beberapa penyesuaian perlu dilaksanakan."

Tidak lama kemudian, kebaktian hari Minggu Gereja Kristen Maranatha makin menyerupai Misa Katolik dengan warna-warna Pentakosta. "Kami mengucapkan semua doa-doa dengan segala aturan-aturan Gereja, semua bacaan-bacaan, doa-doa Ekaristi (Syukur Agung). Kami melakukan semuanya, dan kami melakukannya dengan gaya warga keturunan Afrika-Amerika." Akan tetapi, tidak semua orang menyukai perubahan-perubahan tersebut, dan kongregasi beranggotakan 200 orang tersebut mulai menyusut.

Sementara itu, Jones menghubungi Seminari Hati Kudus (Sacred Heart Seminary) di kota Detroit dan diperkenalkan dengan Steve Ray dari Milan, Michigan. Steve Ray adalah penulis best-seller yang kisah kesaksiannya tertera dalam buku "Crossing The Tiber."

"Saya segera membuat janji untuk makan siang bersamanya dan sejak itu praktisnya kami selalu makan siang bersama setiap bulannya," kata Steve Ray. Dia memperkenalkan Jones dengan Dennis Walters, seorang katekis dari paroki Kristus Raja (Christ the King) di Ann Arbor, Michigan. Mulai bulan Maret 1999, Walters mulai memberi pengajaran mingguan kepada sang pendeta Pentakosta dan istrinya.

Persilangan

Al Kresta at first RCIAAkhirnya, Jones beserta kongregasinya sampai di persimpangan jalan. Pada tanggal 4 Juni, jemaat orang dewasa di Gereja Maranatha mengambil suara 39-19 untuk memulai proses untuk menjadi Katolik. Pada bulan September, mereka mulai masuk program RCIA (katekismus, pelajaran agama) di paroki St.Suzanne.

Gereja Maranatha ditutup untuk selamanya pada bulan Desember. Kongregasi juga setuju lewat pemungutan suara untuk memberikan uang pesangon kepada Jones dan menjual bangunan gereja yang dulunya adalah bekas paroki Ortodoks Yunani, kepada Gereja Tabernakel Pertama Allah dalam Kristus (First Tabernacle Church of God in Christ).

Father Dennis Dugan, 53 tahun, pastor paroki St.Suzanne, mengatakan bahwa para mantan anggota Gereja Maranatha termasuk pendeta Jones, ditambah 10 orang lainnya, merupakan kelas katekumen yang terbesar yang pernah ada di paroki tersebut.

Kesatuan dan Keberagaman

Meskipun tidak seluruh anggota paroki St.Suzanne yang umumnya berkulit putih menerima group tersebut dengan hangat, Father Duggan, yang juga berkulit putih, berkata bahwa dia menganggap bahwa kedatangan para pendatang tersebut merupakan karunia dari Tuhan dan jawaban dari doa-doanya.

"Apa yang agaknya Tuhan ingin sampaikan dalam diri kami berdua - Alex dan saya sendiri - adalah dua individual yang punya impian yang serupa menyangkut keberagaman (diversity). Detroit adalah kota yang komunitas etnisnya terpisah (segregated), terutama pada hari Minggu pagi (ketika umat Kristen Katolik dan Protestan beribadah). Dan disini kami dua orang beriman percaya bahwa kita (umat Kristen) harus tampil berbeda."

Father Duggan berharap nantinya Jones ikut bekerja sebagai staff paroki. Bahkan sekarangpun, dia telah meminta Jones untuk membantunya mengajar studi Alkitab setiap hari Rabu malam. Dan bahkan dia sedang berusaha untuk mengadaptasi musik pada acara Misa Kudus supaya lebih mewakili latar belakang etnis anggota parokinya.

"Gaya ibadah Eropa yang saat ini dipakai di St.Suzanne adalah adaptasi yang paling sulit bagi para mantan anggota Gereja Maranatha," kata Jones, karena mereka telah terbiasa dengan menggunakan musik kontemporer dengan doa-doa dan ritual-ritual Katolik.

"Adaptasi kultural jauh lebih sulit daripada adaptasi teologis," demikian katanya.

Masalah-masalah Protestan

Jones berkata bahwa empat sandungan terbesar yang dihadapi umat Protestan terhadap iman Katolik adalah ajaran-ajaran mengenai Maria, api penyucian, supremasi Sri Paus, dan berdoa kepada para kudus. Dia telah menuntaskan tiga dari empat halangan tersebut lama sebelumnya, tetapi yang paling sulit diterima adalah Maria. Akhirnya dia menerima ajaran tentang Maria hanya karena Gereja mengajarkan demikian.

"Sedemikian terpatri dalam-dalam di benak umat Protestan bahwa hanya Allah mendiami surga dan untuk berdoa kepada yang lainnya sama saja dengan menyembah berhala. Kultur ini begitu tertanam dalam-dalam di hati saya bahwa hanya Tritunggal Mahakudus boleh menerima doa-doa, sehingga ini adalah hal yang begitu sulit untuk diterima."

Dia sekarang sedang menulis tesis tentang layaknya menghormati Maria, bagi suatu kelas di seminari Hati Kudus di Detroit, dimana dia sedang mengambil kelas-kelas pemula  yang dibutuhkan untuk mendapatkan gelar Master dalam bidang teologi dan studi pastoral. Dia juga sedang menulis suatu buku yang akan diterbitkan oleh Ignatius Press (www.ignatius.com) dan menerima permintaan untuk tampil sebagai pembicara dalam seminar-seminar Katolik melalui St. Joseph Communications, West Covina, California (www.saintjoe.com).

Jones, ayah dari tiga putera yang semuanya sudah menikah dan sudah mempunyai enam cucu, menyerahkan kemungkinan dirinya untuk jadi imam Katolik, kepada keputusan Gereja.

"Jika Gereja menyetujui panggilan itu, maka saya akan menerimanya. Tetapi jika tidak, sayapun akan menerimanya juga. Apapun yang Gereja inginkan dari saya, saya akan melakukannya."

Meskipun dia telah merelakan kehilangan sumber nafkah sebagai pendeta, statusnya, dan kongregasi yang dibangunnya, demi untuk masuk Katolik, Jones berkata bahwa kehilangan yang tersulit adalah para sanak keluarga dan sahabat-sahabatnya yang menolaknya karena keputusan yang diambilnya (untuk masuk Katolik).

"Menyaksikan mereka yang telah beribadah dan berdoa bersama-sama dengan saya selama 40 tahun, pergi meninggalkan saya dan tidak lagi memiliki hubungan dengan mereka, sungguh adalah suatu hal yang sangat menyedihkan."

Bahkan lebih menyakitkan lagi, katanya, ketika ibunya sendiri yang telah membantunya membangun kongregasi Maranatha, pergi meninggalkannya untuk bergabung dengan Gereja Penyempurnaan (Perfecting Church) di kota Detroit, dimana saudara sepupunya Marvin Winans, seorang penyanyi gospel, menjabat sebagai pastor disana.

Baik Winans maupun pastor dari gereja yang membeli bangunan milik Gereja Maranatha, tidak mau memberi komentar atas kepindahan Jones menjadi Katolik.

Jones juga terbeban batinnya oleh mereka yang terpisah dengannya karena mereka tidak mengerti keputusan yang diambilnya.

"Bagi mereka, saya telah murtad dan menjadi sesat. Dan itu menyakitkan hati saya karena kita semua ingin dipandang sebagai orang baik-baik dan benar, tetapi sekarang kamu sudah mendapat stigma sebagai orang yang labil jiwanya, plin-plan, dan dipandang seolah-olah kamu telah meninggalkan Allah."

Jones berkata ketika groupnya sedang mempertimbangkan untuk pindah menjadi Katolik, kelompok-kelompok doa dibentuk untuk mencegah mereka. "Orang-orang berpuasa dan berdoa supaya Allah menghentikan kami dari 'kesalahan besar' ini. Ketika kami tetap berpindah, mereka menganggap seolah-olah kami sudah mati."

Dia berkata umat Katolik tidak sepenuhnya mengerti bagaimana umat Protestan memandang gereja mereka (Katolik). "Ada lapisan tipis keramah-tamahan, dan dibawahnya ada rasa antipati yang besar."

Tetapi dia tetap yakin bahwa dia melakukan hal yang benar.

"Bagaimana kamu bisa berkata tidak terhadap kebenaran? Saya sadar bahwa saya akan kehilangan segala-galanya dan di lingkaran orang-orang tersebut saya tidak akan pernah diterima kembali, tetapi saya tidak memiliki pilihan lain," dia berkata.

"Adalah dosa maut bagi saya untuk mengetahui apa yang saya ketahui akan tetapi tidak menjalankannya. Jika saya kembali kepada hidup saya sebelumnya, saya bukan seorang yang jujur, dan tidak dapat dipercaya, seorang yang melihat kebenaran, mengetahui kebenaran, dan melangkah pergi daripadanya, dan saya sama sekali tidak dapat berbuat demikian."


Oleh wartawati Judy Roberts, Millbury, Ohio.
Alihbahasa oleh Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net