 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Sukacita
oleh Dr.Douglas Lowry
Ada adegan di film Christmas Carol versi buatan
Alistair Sim, yang menggambarkan bagaimana perasaan saya ketika
diterima menjadi Katolik. Adegan film waktu si Kikir selesai dikunjungi
oleh tiga roh Natal. Si Kikir berdiri di depan cermin dan tertawa
pada dirinya sendiri, heran bahwa dia masih hidup dan punya kesempatan
untuk mulai awal yang baru. Dia menyisir rambutnya dan terus bergumam
tentang betapa lucunya perasaannya yang sukacita saat itu. Aneh
rasanya bagi dirinya untuk memiliki perasaan baik seperti itu, tapi
dia betul-betul merasa demikian!
Saya merasakan seperti itu. Pada
tanggal 7 Februari 1993, saya dan istri saya Margaret mengambil
langkah terakhir dari perjalanan ziarah 30 tahun menuju Roma. Melalui
langkah ini kami telah menemukan suatu sukacita yang terus menerus,
lucu dan mengherankan, tetapi sungguh-sungguh suatu sukacita.
Selama lebih dari 27 tahun saya
adalah seorang pendeta Gereja Presbiterian di Kanada. Dari 1975
- 1992 saya melayani sebagai satu diantara tiga Pelayan Sidang Umum.
Seorang Pelayan membuat peraturan, memberi nasihat pembuatan prosedur,
membuat notulen, dan membantu memecahkan situasi konflik. Pada suatu
ketika saya mulai mengeluh akan sikap ketidak-bersatuan yang seolah
menjadi bagian tak terpisahkan dari denominasi kami. Menjadi nyata
bahwa setiap konflik di kongregasi dan setiap manufer politik di
komite dan dewan gereja berakar pada kegagalan untuk patuh pada
Alkitab. Mengapa kita tidak menaruh prioritas pada hal-hal yang
memberi kedamaian dan persatuan? Dapatkah kita sebagai suatu denominasi
setuju pada perintah untuk mengasihi satu sama lainnya? Saya menyaksikan,
dan mendengar, dan berdoa.
Kekhawatiran-kekhawatiran ini
akhirnya membawa pada keputusan untuk bergabung dengan Gereja Katolik.
Ini adalah satu-satunya jalan keluar atas rasa haus akan persatuan.
Hasilnya....beban yang terangkat, dan perayaan, dan sukacita.
Tulisan ini ditulis untuk memberi
semangat pada orang-orang, khususnya kaum klerus, yang sedang mempertimbangkan
untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Dinding penghalang begitu
besar ... mungkin suatu kebutuhan untuk penyesalan diri atas penghakiman
yang keras (terhadap Gereja Katolik) di masa lalu, rasa khawatir
akan menyakitkan hati mereka yang kita kasihi (keluarga dan teman-teman
yang masih Protestan), rasa tidak nyaman atas keasingan kita dengan
cara-cara Katolik, ketidak-pastian bagaimana kita akan bertahan,
dan bagi sebagian dari kita, masalah mencari nafkah (karena kehilangan
pekerjaan sebagai pendeta). Meskipun penghalang-penghalang ini begitu
besar, sebagian dari kita tetap tertarik untuk bergabung dengan
Gereja Katolik.
Alasan-alasan kami untuk mempertimbangkan
Gereja Katolik bervariasi. Istri saya paling tertarik terutama pada
Ekaristi. Bagi saya, motif terutama adalah kepatuhan pada perintah
untuk menjadi satu. Apapun alasan dan kumpulan alasan yang membawa
kami pada jalur ini, tujuannya hanyalah satu: yang mana kami merasa
berada di rumah sendiri diantara keluarga Allah.
Sukacita bukanlah sesuatu yang
baru bagi mereka yang melakukan perjalanan menuju Gereja Katolik.
Tetapi ketika sampai pada tujuan, saya mendapatkan suatu kualitas
sukacita yang telah diperkaya. Rasa sukacita ditaruh dalam suatu
dimensi yang baru. Dimensi yang baru ini datang langsung dari rekonsiliasi
dengan Gereja. Ini adalah beberapa perspektif tentang sukacita Kristiani
seperti yang telah saya alami dalam hidup saya. Lalu saya ingin
menunjukkan mengapa sukacita itu telah menjadi sempurna.
Ada sukacita dalam rasa terimakasih,
suatu kapasitas untuk menerima sutu pemberian. Rasa terimakasih
adalah fondasi suatu perkawinan yang bahagia. Saya dan istri saya
telah belajar sejak semula untuk saling menerima satu sama lain
sebagai karunia dari Allah. Perkawinan kami selama 34 tahun telah
ditandai dengan rasa terkesima, suatu rasa percaya bahwa Allah telah
sangat bermurah hati kepada kami.
Ada sukacita dalam melayani. Pemahaman
ini datang pada saya melalui ribuan jam sebagai sukarelawan mobil
ambulan. Kelompok yang beranggotakan 40 orang ini bangga dalam melayani
masyarakat. Kita terus menerus dilatih supaya kami bisa melayani
lebih baik lagi. Bagi saya, sumber inspirasi adalah Mother Theresa,
yang menemani orang-orang yang paling membutuhkan, dan melayani
setiap orang seolah-olah setiap orang itu adalah Yesus sendiri.
Memantau tanda-tanda vital seseorang pasien yang mengalami serangan
jantung, berbicara lembut kepada seorang anak kecil yang sangat
ketakutan setelah ditabrak mobil, dengan cekatan membalut, merawat,
mendengarkan, melihat .. kadangkala kami bisa melihat rasa takut
yang memudar dan digantikan oleh rasa damai meskipun di tengah-tengah
rasa sakit.
Entah bagaimana di tahun-tahun
awal saya terdorong untuk membaca buku Praktek Kehadiran Allah,
buku klasik yang dipenuhi dengan pemahaman bruder Lawrence. Dalam
memahami spiritualismenya, saya mulai belajar merasakan sukacita
kehadiran Allah. Allah tidak terikat di lingkungan gereja. Allah
secara aktif terlibat di pasar, di manajemen, lewat komputer, dan
segala keterlibatan dalam segala hal dengan orang-orang lain. Allah
datang pada kita dengan solusi yang kreatif terhadap persoalan-persoalan,
dalam kekuatan untuk melakukan apa yang benar dan dalam berhadapan
dengan hal yang salah, dalam orang-orang yang dipenuhi oleh Kristus,
dan bahkan ditengah-tengah kesulitan yang terbesar sekalipun. Allah
ada disana. Kita hanya perlu melihat dan mendengarkan. Dalam menemukan
Dia, selalu ada sukacita.
Sukacita adalah bagian yang normal
dari pengalaman hidup Kristiani, hasil dari pilihan kita. Sukacita
tidak tergantung apakah kita adalah Presbiterian, Metodis atau Katolik.
Tetapi saya menemukan bahwa sukacita itu sekarang menjadi lebih
dalam dan diperkaya setelah saya dan istri saya menjadi bagian dari
keluarga Allah yang utuh. Perayaan persatuan Tubuh Kristus menambah
suatu dimensi baru pada sukacita.
Mengapa sukacita yang lebih besar
ini? Karena saya tidak harus menimbang-nimbang atas keputusan Gereja
Katolik, Kitab Suci, atau bahkan diri saya sendiri. Bukan tugas
saya. Berjuta-juta orang selama periode dua ribu tahun telah merefleksikan
iman kita yang kudus. Mestikah saya menambahkan paduan pemahaman
mereka seperti telah disampaikan kepada kita lewat Magisterium Gereja?
Mestikah saya menaruh sekian puluh tahun melawan berjuta-juta orang
dan tahun? Tidak!
Sungguh tidak! Saya terlalu sibuk
merayakan. Dan Misa harian adalah pusat perayaan itu. Saya dikelilingi
oleh orang-orang baik. Saya bersama-sama mereka berkata: "Tuhan,
saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja
maka saya akan sembuh." Dan nantinya dalam perayaan itu, rasa
terkesima, masih baru setiap kalinya: "Inilah Tubuh-Ku....bagimu."
Bagi saya? Ya, bagimu. Tidak ada simbol. Sekarang adalah realitas.
Realitas yang agung dan membuat rendah hati karena boleh menjadi
bagian dari Gereja-Nya dan karena menerima hidup-Nya hari demi hari.
"Ambil...dan makanlah."
Apakah sulit untuk dapat masuk
ke Gereja Katolik? Ya, saya tidak bisa dengan ringan mengenyampingkan
pelayanan saya sebagai wakil dari Gereja Presbiterian di Kanada
dan dari banyak orang lain disana yang saya kasihi selama ini. Akan
tetapi panggilan untuk menjadi satu dan kepada Ekaristi secara bertahap
lebih memberatkan ketimbang pelayanan yang bisa saya berikan kepada
mereka.
Proses perjalanan saya ke Gereja
Katolik sangat publik - foto saya bersama Paus Yohanes Paulus II
muncul di sampul muka majalah denominasi Presbiterian. Pres sekuler
ikut-ikutan meramaikan saran yang muncul dari kaum fanatik soal
pengadilan bidaah (terhadap saya). "Apakah sang Pelayan Sidang
tidak tahu bahwa Sri Paus adalah Anti-Kristus?" Hingga kini
masih ada kaum Presbiterian yang suka memperdebatkan keputusan yang
saya telah ambil; Mungkin di surga kita nanti punya waktu (kalaupun
topiknya masih relevan disana). Tetapi pada umumnya telah timbul
rasa pengertian, sikap menerima. Khotbah selamat tinggal saya pada
Sidang Umum 1992 diterima secara baik-baik.
Apakah ada rasa penyesalan dalam
diri saya? Tidak sama sekali. Semoga anda juga banyak diberkati
seperti saya dan istri. Hidup ini digenapi. Dalam kerja saya yang
baru, berbagi pengalaman hidup Kristus dengan mahasiswa jurusan
bisnis di Universitas Fransiskan, saya menemukan sukacita yang tak
terukur. Ada rasa terkesima karena telah tiba di rumah dan dalam
kedamaian.
Bagi saudara-saudari non-Katolik
yang mengasihi Kristus dan sedang menimbang-nimbang untuk menjadi
Katolik, pesan saya mudah saja: "Ayo masuk...airnya tenang."
Ini adalah tempat persatuan dengan seluruh bagian Tubuh Kristus.
Inilah tempat perayaan kita. Inilah sukacita.
|