 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Santo Ignatius
dari Antiokia
Uskup Antiokia, Bapa Gereja perdana
Pesta: 17 Oktober
Santo Ignatius adalah Uskup Antiokia pada akhir
abad pertama. Dia menggunakan "Theophorus" yang berarti
"pembawa Allah" sebagai nama belakangnya, dan dia hidup
sesuai dengan namanya tersebut.
Menurut biografinya yang paling awal, St.Ignatius
awalnya bukan seorang Kristen, dan dia masuk Kristen dan menjadi
murid Rasul Yohanes. Kisah sejarah abad ke-4 menuliskan bahwa Ignatius
melayani sebagai Uskup Antiokia selama empat puluh tahun, setelah
diangkat disana oleh Rasul Petrus dan Paulus. Antiokia adalah salah
satu dari pusat komunitas Kristen perdana yang paling penting (lihat
Kisah 11:26) dan mengaku bahwa St.Petrus sendiri sebagai Uskupnya
yang pertama.
Kita nyaris tidak tahu apa-apa tentang tindakan-tindakan
Uskup Ignatius sewaktu dia menjabat sebagai uskup. Pekerjaannya
yang terbesar dikerjakannya sewaktu dia digiring untuk dieksekusi
di Roma dalam perjalanan yang panjang "membawa Allah"
kepada umat dan gereja-gereja di Asia Kecil.
St.Ignatius dihukum mati selama penindasan
dalam masa pemerintahan Kaisar Trajan (98-117). Ketika penindasan
berlangsung, Trajan sendiri tidak terlalu ambisius atau habis-habisan,
sehingga para pakar menduga bahwa entah St.Ignatius melakukan suatu
hal yang memprovokasi penguasa Roma, atau mungkin dia dihianati
oleh kaum bidaah. Tetapi mungkin hal itu tidak perlu. Pamornya saja
sudah cukup membuat dia menjadi sasaran. Antiokia adalah sebuah
kota Romawi yang penting, dan pada masa itu, kota terpenting kedua
di kekaisaran Romawi. Dan Gereja di Antiokia, dengan akar-akar apostolik,
sangat dihormati oleh umat Kristen dimana-mana. Sebagai Uskup Antiokia
selama 40 tahun, dapat dipastikan bahwa pada masa akhir hidupnya,
dia adalah seorang yang sangat terkenal.
Lebih jauh lagi, kekaisaran Romawi cenderung
mengarahkan penindasan mereka terhadap para uskup-uskup Gereja ketimbang
orang-orang awam. Penguasa Romawi berasumsi bahwa kalau mereka menyiksa
dan membunuh-bunuhi pemimpin Kristen di hadapan umum, maka hal itu
akan menggentarkan umat Kristen dan mencerai-beraikan mereka. Kepandaian
berbicara dan kecerdasannya St.Ignatius seperti tampak dalam surat-suratnya,
boleh jadi telah membawa namanya termasyur jauh melebihi batas-batas
wilayah keuskupannya. Penguasa Romawi tampaknya telah menemukan
dalam diri Uskup ini, korban yang ideal bagi tujuan mereka.
Sang Uskup sendiri adalah seorang korban yang
rela mati. Keinginannya untuk mati demi Kristus adalah topik yang
berulang kali muncul dalam surat-suratnya. Dia mendesak umat Kristen
di Roma, misalnya, untuk tidak menengahi urusannya kepada kaisar
Romawi: "Aku memohon kepadamu untuk tidak menunjukkan itikad
baik yang tidak perlu kepadaku. Biarlah aku menjadi makanan bagi
binatang-binatang buas, agar melaluinya aku boleh sampai kepada
Allah."
Dia ditangkap dan diinterogasi di Antiokia.
Menurut legenda yang kurang dapat dipastikan, pemeriksaan dilakukan
oleh Kaisar Trajan sendiri. Setelah dijatuhi hukuman mati, seperti
yang dialami oleh Rasul Paulus sebelumnya, dia dipindahkan dibawah
pengawalan militer ke tempat eksekusinya di Roma.
Di tempat-tempat perhentian sepanjang perjalanan,
dia menerima kunjungan umat dari gereja-gereja disekitarnya. Justru
karena sebentar lagi menjadi martir iman, malahan makin membuatnya
terkenal dan sangat dihormati, dan karavannya menjadi sasaran ziarah
umat Kristen. Bahkan para uskup-uskup lainpun melakukan perjalanan
untuk menemuinya.
Hukuman mati malah menaikan pamor St.Ignatius
dimata Gereja Universal. Selama dua perhentian panjang di Smyrna
dan Troas (keduanya ada di wilayah Turki masa kini), dia mengarang
enam surat kepada gereja-gereja di Asio Minor dan Eropa: Efesus,
Magnesia, Troas, Roma, Filadelfia, dan Smyrna. Surat yang ketujuh
adalah pesan pribadi kepada St.Polycarpus - Uskup Smyrna. Surat-surat
yang ditulisnya bersifat pastoral, berisi doktrin-doktrin, dan memberi
semangat. St.Ignatius memberikan kesaksiannya tentang pengajaran
Kristen perdana menyangkut: perkawinan, Trinitas, Inkarnasi, Kehadiran
Sejati Yesus dalam Ekaristi, primasi Gereja di Roma, dan otoritas
para imam dan uskup. Dia sangat khawatir terhadap berkembangnya
ajaran bidaah, terutama docetisme, dan juga umat Kristen yang lambat-laun
cenderung menekankan praktek-praktek Yahudi.
Sebagai seorang guru yang hebat, St.Ignatius
dapat merangkumkan kebenaran-kebenaran iman yang mendalam dengan
gambaran-gambaran yang jelas. Dia juga adalah seorang mahaguru dalam
hal menyarikan syahadat iman atau kredo secara ringkas.
St.Ignatius tiba di Roma, menurut cerita, pada
hari terakhir tontonan di arena, mungkin pada tahun 107. Dia digiring
ke dalam amfiteater, dimana tubuhnya dicabik-cabik oleh singa. Segera
setelah kematiannya, surat-suratnya dihormati dimana-mana, dan bahkan
dianggap sebagai kanonikal Kitab Suci oleh beberapa gereja. St.Polycarpus
bersaksi, dalam suratnya sendiri, "Surat kepada umat di Filipi",
bahwa surat-surat St.Ignatius sangat diinginkan dimana-mana di seluruh
Gereja bahkan sebelum St.Ignatius menjadi martir.
Surat St.Ignatius kepada umat di Smyrna adalah
suatu catatan sejarah yang penting dari ajaran Gereja perdana menyangkut
Ekaristi, jabatan imam, dan hirarki Gereja. Juga mencatat penggunaan
yang paling awal dari istilah "Gereja Katolik" untuk menggambarkan
himpunan umat Kristen secara keseluruhan. Sang Uskup khawatir terutama
pada dampak yang serious dari bidaah docetisme, yang mengajarkan
bahwa Yesus bukan manusia sesungguhnya dan bahwa dia hanya tampaknya
saja mempunyai tubuh, untuk menderita dan wafat. Berikut cuplikan
tulisannya tersebut:
....Sekarang,
Kristus menderita segala hal ini demi kamu, supaya kita bisa diselamatkan.
Dan dia sungguh-sungguh menderita, dan Dia juga sungguh-sungguh
membangkitkan diri-Nya sendiri, tidak seperti pendapat orang-orang
yang tidak percaya, bahwa Dia hanya tampaknya saja menderita, seperti
layaknya mereka hanya tampaknya saja sebagai umat Kristen. Sama
seperti kepercayaan mereka, demikian juga yang akan terjadi pada
mereka, ketika mereka terpisah dari raganya, dan semata-mata menjadi
roh jahat.
Karena aku tahu bahwa setelah Kebangkitan-Nya
juga, Dia masih memiliki daging, dan aku percaya bahwa Dia memiliki
jasad sekarang. Ketika misalnya, Dia datang kepada mereka yang berada
bersama-sama Petrus, Dia berkata kepada mereka, "Rabalah Aku
dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya"
(Luk 24:39). Dan segera mereka menyentuh-Nya dan percaya, diyakinkan
oleh daging dan roh-Nya. Karena alasan ini, mereka meremehkan kematian
dan mengalahkannya. Dan setelah kebangkitan-Nya Dia makan dan minum
bersama mereka karena berdaging, meskipun secara spiritual Dia menjadi
satu dengan Bapa.
Aku memberikan kamu pengajaran-pengajaran
ini, yang terkasih, yakinlah bahwa kamu memegang pendapat-pendapat
yang sama denganku. Aku mengawal kamu dari binatang-binatang buas
itu dalam rupa manusia, yang tidak boleh kamu terima, dan jika mungkin,
bahkan jangan sampai bertemu dengannya. Meski demikian, kamu harus
berdoa kepada Allah bagi mereka, karena mereka mungkin menyesali
perbuatannya. Hal itu sulit, tetapi Yesus Kristus, yang adalah hidup
kita yang sejati, memiliki kuasa untuk mencapainya.....
Sementara orang menyangkal-Nya dengan acuh
tak acuh...tidak mengakui bahwa Dia sungguh-sungguh memiliki jasad.
Tetapi barangsiapa tidak mengakui hal ini, praktisnya menyangkal
Dia seluruhnya, terselimuti oleh kematian..... Orang-orang seperti
itu sesungguhnya tidak percaya.
Mereka absen dari Ekaristi dan dari doa,
karena mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Tubuh dari Juru
Selamat kita Yesus Kristus, yang telah menderita bagi dosa-dosa
kita, dan yang mana Bapa, oleh kebaikan-Nya, membangkitkan-Nya kembali.
Oleh karena itu, mereka yang berbicara menentang karunia Allah ini,
mendapat upah kematian ditengah-tengah pertentangan mereka.
Perhatikanlah supaya kamu semua mengikuti
bapa uskup, seperti Yesus Kristus mengikuti Bapa, dan mengikuti
para imam, seperti kamu mengikuti para rasul. Hormatilah para deakon
sebagai mereka yang membawa tugas dari Allah. Jangan ada seorangpun
melakukan sesuatu sehubungan dengan Gereja tanpa bapa uskup. Supaya
diperhatikan, suatu Ekaristi yang sebagaimana mestinya, yang dilayani
entah oleh uskup atau oleh salah satu orang yang telah dipercayakan
olehnya. Dimana uskup berada, maka disana pula umat berada, sama
seperti dimana ada Yesus Kristus, maka disana juga ada Gereja Katolik.
Tidak sah juga untuk membaptis atau merayakan suatu perayaan-kasih
tanpa uskup; tetapi apapun yang disahkan olehnya, yang juga menyenangkan
bagi Allah, supaya segala hal yang dilakukan menjadi aman dan sah
adanya.
Kepada umat di Roma, St.Ignatius menyatakan
keinginannya yang mendalam untuk mati sebagai martir, seorang saksi
bagi iman Kristen. Bagi umat Kristen, tidak ada kemuliaan yang lebih
besar, untuk meniru Yesus Kristus daripada wafat seperti Dia telah
wafat. Dalam surat ini, St.Ignatius mengindentifikasi dirinya sebagai
roti bagi kurban ekaristi. Rasa sungkannya terhadap Gereja Roma,
suatu rasa sungkan yang tidak ditunjukkannya kepada gereja-gereja
manapun lainnya, adalah suatu bukti dini dari primasi (keutamaan)
Tahta Roma.
St.Ignatius, adalah salah satu dari Bapa Apostolik.
|