 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Santo Laurensius
dari Brindisi
Pujangga Gereja
Pesta 22 Juli
9 Oktober 1601. Balatentara Kaisar Roma, Rudolph
II, dibawah komando bangsawan Matthias menghadapi pasukan Turki
yang jauh lebih besar di luar wilayah Alba Regalis (sekarang disebut
Szekesfehervar) di tengah-tengah wilayah dataran di Hongaria. Di
dalam kereta yang ditumpangi oleh sang bangsawan adalah seorang
pengarah spiritual, yaitu bruder Laurensius dari Brindisi, seorang
imam-biarawan Kapucin. Dia telah dikirim oleh Sri Paus Klemen VIII
untuk menyebarluaskan pembaruan dalam kaum Kapucin dan memimpin
misi terhadap kelompok bidaah-bidaah di Austria dan Bohemia. Bruder
Laurensius berkata-kata kepada pasukan, supaya mereka bertempur
dengan sepenuh hati dan menjanjikan mereka kemenangan: "Majulah!
Kemenangan adalah milik kita," dia berseru. Kemudian, menunggangi
seekor kuda dan mengacung-acungkan salibnya, dia memimpin mereka
melawan balatentara Turki. Di pertempuran yang ganas tersebut, secara
mukjijat dia selamat tanpa celaka sedikitpun. Pasukan Kristen memenangkan
pertempuran dan bruder Laurensius dianggap sebagai pahlawan. Salibnya
yang dianggap telah membantu mereka, nantinya dihormati sebagai
relikwi. Laurensius dari Brindisi adalah satu-satunya doktor Gereja
yang telah memimpin suatu balatentara di medan perang.
Beliau dilahirkan di Brindisi pada tahun 1559
dengan nama Giulio Cesare de Rossi. Dia dididik oleh kaum biarawan
Franciscan di Brindisi dan juga di Venisia. Dia bergabung dengan
kaum Kapucin dari tarekat Fransiscan pada umur 16 tahun, dan mengambil
nama Laurensius (Italia: Lorenzo). Reformasi dalam tubuh Kapucin
dimulai tahun 1526, dan merupakan suatu usaha untuk mengembalikan
tarekat tersebut ke pada tingkat hidup membiara yang lebih ketat,
seperti pada jaman Santo Franciscus. Keketatan hidup dan devosinya
membuat mereka menjadi salah satu komunitas religius yang paling
penting dalam reaksi Gereja Katolik terhadap bangkitnya Protestanisme,
yang kita kenal dengan gerakan Kontra-Reformasi. Cara hidup dan
iman bruder Laurensius adalah suatu kesaksian yang bagus bagi gerakan
ini dan juga menjadi teladan bagi gerakan-gerakan reformasi dalam
tubuh Gereja Katolik pada masa itu.
Bruder Laurensius dikirim ke universitas di
Padua untuk melanjutkan studi teologi dan filsafat. Disinilah otaknya
yang cemerlang membuatnya fasih berbicara dalam berbagai bahasa,
baik bahasa kuno maupun modern, termasuk diantaranya bahasa Ibrani
dan dialek Siria. Ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1582, dia
menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai pengajar teologi dan pembimbing
kaum novis sebelum menjabat sebagai provinsial Kapucin di Tuscany
dan selanjutnya sebagai salah satu anggota dari Dewan Superior dari
tarekat Kapucin. Adalah pada masa ini (1596-1602) Laurensius diminta
untuk melakukan perjalanan melewati pegunungan Alpen untuk membangun
rumah-rumah religius baru, dan mentobatkan para pendukung Protestan,
dan akhirnya nanti melayani kebutuhan rohani para tentara. Reputasinya
yang baik dalam melakukan tugas-tugas ini membuatnya terpilih menjadi
sekretaris jendral Kapucin pada tahun 1602. Bakat-bakat Laurensius
sebagai ahli bahasa, pewarta, administrator, dan diplomat diakui
oleh sederetan Paus-paus dan juga oleh banyak penguasa di daratan
Eropa. Dia berkelana ke seluruh pelosok Eropa, berjalan dengan tanpa
alas kaki di tengah hujan dan salju. Setelah dia menolak untuk menjabat
untuk masa kedua kalinya pada tahun 1605, Paus Paulus V mengirimnya
sekali lagi ke wilayah Wina dengan mandat untuk mentobatkan kaum
bidaah. Disini dia terlibat dalam perdebatan dengan teolog Lutheran
yang bernama Polycarp Leyser dan dia menuliskan karya-karya apologisnya
yang terpenting, "Representasi Lutheranisme (Hypotyposis Lutheranismi)
pada tahun 1607-1608. Karya ini terdiri dari tiga bagian: kecaman
terhadap Luther, bantahan doktrinal terhadap kesesatan Luther, dan
tangkisan terhadap pamflet yang ditulis oleh Leyser terhadapnya.
Sayangnya, Laurensius terlalu sibuk dengan kegiatannya sebagai diplomat
sehingga dia tidak pernah sempat menerbitkan bukunya tersebut.
Baik Kapucin maupun Yesuit semakin terlibat
dalam-dalam di tengah-tengah manuver-manuver politik pada masa ini
antara Katolik dan Protestan, konflik-konflik yang juga melibatkan
ambisi-ambisi politik dan kedinastian. Antara tahun 1609-1618 Laurensius
menjalani peran sebagai diplomat bagi Sri Paus, dan terutama sahabat
dekatnya, Duke Maximilian dari Bavaria. Mungkin yang paling sukses
dari antara karyanya sebagai diplomat adalah mendapatkan dukungan
dari Filipus III dari Spanyol bagi Liga Katolik yang diorganisir
oleh Maximilian. Liga Katolik ini dibentuk untuk menghadapi Persatuan
Injili para Pangeran Protestan (1609-1610).
Lelah oleh segala aktivitas dan perjalanannya,
Laurensius akhirnya mengundurkan diri ke Naples pada tahun 1618,
namun terpaksa melakukan satu lagi tugas diplomatik yang sulit.
Kaum bangsawan di Naples yang mengeluh dibawah tekanan oleh Don
Pedro Osuna, penguasa wilayah di Spanyol, meminta Laurensius untuk
memohon kepada raja Spanyol untuk menggeser Don Pedro. Dengan secara
rahasia, Laurensius melakukan perjalanan ke Madrid dan lalu ke Lisbon
untuk bertemu dengan raja. Terjadi negosiasi yang sulit. Don Pedro
akhirnya digeser, tetapi Laurensius yang lelah oleh segala perjalanan
dan aktivitas diplomatiknya, telah keburu wafat pada tanggal 22
Juli 1619.
Bagi seseorang yang sangat sibuk seperti Laurensius,
beliau meninggalkan banyak tulisan-tulisan. Opera Omnia yang terdiri
dari 15 volume, diedit oleh kaum Kapucin di Italia, terdiri dari
8514 halaman. Kebanyakan adalah dalam bentuk homili - total 804
jumlahnya, dan sering dikelompokan sesuai dengan tahun liturgi.
Laurensius, seperti kawan sejamannya Franciscus de Sales, telah
mendapat pendidikan humanistik yang luas. Rasa optimismenya dan
penekanan pada kasih Allah diatas segala hal lain mengingatkan pada
uskup Jenewa, tetapi tidak ada bukti hubungan antara keduanya. Sesuai
dengan aliran Franciscanismenya, apa yang paling menyolok dari imam
Kapucin ini adalah devosinya kepada primasi Kristus yang universal
dan penekanan pada Maria sebagai Bunda Allah. Karya Laurensius yang
paling terkenal adalah yang disebutnya sebagai Mariale, traktat
mengenai Maria yang paling terkenal pada jamannya. Mariale terdiri
dari 84 homili yang dikelompokan dalam 12 topik. Kontribusi Laurensius
yang terpenting terhadap ajaran Kristen adalah 16 homili yang berisi
komentari Injil menyangkut perayaan kedatangan malaikat Gabriel
terhadap Perawan Maria.
Santo Laurensius Brindisi, doakanlah kami!
|