 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Santo Petrus Krisologus
Pujangga Gereja
Pesta: 30 Juli
Pada
tahun 448 Eutyches, kepala sebuah biara di dekat Konstantinopel,
menulis surat edaran kepada Uskup-uskup terpenting di kekaisaran
Romawi untuk mencari dukungan bagi pandangan-pandangan Kristologikal
yang diajukannya. Petrus, Uskup Agung Ravenna, menuliskan jawaban
yang diplomatis pada hari Natal tahun itu, untuk mengingatkan sang
biarawan akan bahaya spekulasi terhadap misteri Ilahi dan menasihatkan
dia untuk menyandarkan dirinya pada pengajaran Uskup Roma. "Dalam
segala hal, saudara yang terhormat," dia berkata, "kami
mendesak anda untuk menunjukkan kepatuhan terhadap apa yang telah
ditulis oleh Bapa Suci Sri Paus di kota Roma, karena Santo Petrus
tinggal dan memimpin dari tahtanya dan memberikan kebenaran iman
terhadap mereka yang mencarinya" (surat ke-25 dari koleksi
surat-surat Paus Santo Leo I - Agung). Tepatnya, adalah surat Leo
yang terkenal, atau disebut "Tome" yang menetapkan doktrin
satu pribadi dua kodrat dari Kristus, yang memegang peranan penting
dalam pengecaman terhadap Eutyches di Konsili Kalsedon pada tahun
451.
Sangat sedikit yang diketahui tentang Petrus
dari Ravenna ini. (Biografi dari abad ke-9 oleh Andrew Agnellus
umumnya adalah fiksi. Disana dia pertama kali diberi julukan "Chrysologus"
atau "si Firman Emas" - ). Petrus dilahirkan di Imola
di wilayah Italia utara, mungkin lebih mendekati tahun 380 ketimbang
tahun 400. Dia menjadi Uskup Agung Ravenna pada sekitar tahun 430,
yaitu tahun dimana Santo Agustinus wafat. Ravenna pada saat itu
adalah ibukota Kekaisaran Barat, tempat tinggal Kaisar Valentinian
III dan ibundanya, Galla Placidia yang saleh. Beberapa dari homili-homili
Petrus dilakukan di tengah kehadiran keluarga kekaisaran.
Seperti Agustinus, Petrus sangat terlatih dalam
tradisi retorikal Latin, dan menunjukkan familiaritasnya dengan
Cicero, Seneca, dan Vergil. Petrus terutama adalah seorang pewarta.
Dua koleksi dari homili-homilinya berjumlah total sekitar 180 homili,
meskipun masih ada perdebatan tentang keotentikan beberapa diantaranya.
Dia juga agaknya yang mengarang Penjelasan Syahadat. Homili-homilinya
sangat erat dengan Alkitab dan Liturgi, dan menyerupai para Bapa-bapa
dan Doktor-doktor Gereja dari abad keempat dan kelima. Orang-orang
tidak mencari dari dirinya formulasi doktrinal yang asli ataupun
yang hebat, melainkan terlebih untuk menghargai katekesis Kristen
yang kuno dan antik. Khotbah-khotbah Petrus, yang ditulis dalam
tata-bahasa Latin yang benar dan inspirasional (misalnya Homili
no.74 tentang Kebangkitan), memberikan kita gambaran yang baik terhadap
tahun Liturgi Kristen seperti dilihat melalui interpretasinya terhadap
teks-teks utama, terutama Kitab-kitab Injil, untuk hari-hari Minggu
dan hari-hari raya. Bagi Petrus, seperti juga bagi kebanyakan para
Bapa-bapa Gereja dari tradisi Latin, interpretasi spiritual atas
bacaan-bacaan liturgi adalah yang penting bagi suatu homili yang
bagus: "Narasi historis sebaiknya selalu diangkat kepada makna
yang lebih mendalam dan misteri masa depan semestinya bisa diketahui
melalui figur-figur masa kini" (Homili 36). Maksud yang fundamental
dari sang Uskup adalah mengajarkan doktrin-doktrin yang ortodoks,
mendorong hidup moral yang baik, dan untuk membawa para pendengarnya
kepada devosi seutuhnya kepada Kristus. Sebuah kalimat dari Homili
108, mengomentari ajakan Rasul Paulus untuk memberikan tubuh kita
sebagai kurban bagi Allah (Roma 12:1), menggambarkan ciri terbaik
dari khotbahnya: "Biarlah Kristus menjadi penutup kepalamu.
Biarlah salib tetap sebagai pelindung dahimu. Tutupilah dadamu dengan
misteri pengetahuan Ilahi. Biarlah dupa doa selalu tetap menyala
di depanmu sebagai parfum-mu. Ambillah pedang roh. Jadikanlah hatimu
sebagai altar. Bebas dari kekhawatiran, bawalah tubuhmu kedepan
seperti ini untuk menjadikannya suatu korban bagi Allah."
Santo Petrus Krisologus, doakanlah kami !
|