Buka lebar pintu-pintu bagi Kristus
 
Rubrik Konsultasi Rohani
Pesan dan kesan anda setelah mengunjungi situs ini
Undang teman anda untuk mengunjungi website ini!
Jika anda ingin menerima berita terbaru dari situs ini, masukan email anda disini:

Daftar Keluar milis
Jadwal Misa Kudus di Indonesia
Link Situs-situs Katolik
Hai!! Jangan lupa kami menerima hasil karya tulisan anda untuk meramaikan situs ini. Kirim email ke: webmaster.
Anda bisa jadi evangelis?
Poin penting sejarah Gereja
Katekismus: Persatuan Gereja
Santa Maria dari Kazan
Basilika St.Maria Mayora
St.Yohanes Krisostomus
Dari Yahudi jadi Katolik
St.Ignatius dari Antiokia
St.Teresa dari Avila
St.Teresa Lisieux
St.Robert Belarminus
St.Yohanes Krisostomus
St.Petrus Krisologus
St.Laurensius dari Brindisi
St.Maximilian Kolbe
St.Ignatius de Loyola

Santo Petrus Krisologus
Pujangga Gereja
Pesta: 30 Juli

Pada tahun 448 Eutyches, kepala sebuah biara di dekat Konstantinopel, menulis surat edaran kepada Uskup-uskup terpenting di kekaisaran Romawi untuk mencari dukungan bagi pandangan-pandangan Kristologikal yang diajukannya. Petrus, Uskup Agung Ravenna, menuliskan jawaban yang diplomatis pada hari Natal tahun itu, untuk mengingatkan sang biarawan akan bahaya spekulasi terhadap misteri Ilahi dan menasihatkan dia untuk menyandarkan dirinya pada pengajaran Uskup Roma. "Dalam segala hal, saudara yang terhormat," dia berkata, "kami mendesak anda untuk menunjukkan kepatuhan terhadap apa yang telah ditulis oleh Bapa Suci Sri Paus di kota Roma, karena Santo Petrus tinggal dan memimpin dari tahtanya dan memberikan kebenaran iman terhadap mereka yang mencarinya" (surat ke-25 dari koleksi surat-surat Paus Santo Leo I - Agung). Tepatnya, adalah surat Leo yang terkenal, atau disebut "Tome" yang menetapkan doktrin satu pribadi dua kodrat dari Kristus, yang memegang peranan penting dalam pengecaman terhadap Eutyches di Konsili Kalsedon pada tahun 451.

Sangat sedikit yang diketahui tentang Petrus dari Ravenna ini. (Biografi dari abad ke-9 oleh Andrew Agnellus umumnya adalah fiksi. Disana dia pertama kali diberi julukan "Chrysologus" atau "si Firman Emas" - ). Petrus dilahirkan di Imola di wilayah Italia utara, mungkin lebih mendekati tahun 380 ketimbang tahun 400. Dia menjadi Uskup Agung Ravenna pada sekitar tahun 430, yaitu tahun dimana Santo Agustinus wafat. Ravenna pada saat itu adalah ibukota Kekaisaran Barat, tempat tinggal Kaisar Valentinian III dan ibundanya, Galla Placidia yang saleh. Beberapa dari homili-homili Petrus dilakukan di tengah kehadiran keluarga kekaisaran.

Seperti Agustinus, Petrus sangat terlatih dalam tradisi retorikal Latin, dan menunjukkan familiaritasnya dengan Cicero, Seneca, dan Vergil. Petrus terutama adalah seorang pewarta. Dua koleksi dari homili-homilinya berjumlah total sekitar 180 homili, meskipun masih ada perdebatan tentang keotentikan beberapa diantaranya. Dia juga agaknya yang mengarang Penjelasan Syahadat. Homili-homilinya sangat erat dengan Alkitab dan Liturgi, dan menyerupai para Bapa-bapa dan Doktor-doktor Gereja dari abad keempat dan kelima. Orang-orang tidak mencari dari dirinya formulasi doktrinal yang asli ataupun yang hebat, melainkan terlebih untuk menghargai katekesis Kristen yang kuno dan antik. Khotbah-khotbah Petrus, yang ditulis dalam tata-bahasa Latin yang benar dan inspirasional (misalnya Homili no.74 tentang Kebangkitan), memberikan kita gambaran yang baik terhadap tahun Liturgi Kristen seperti dilihat melalui interpretasinya terhadap teks-teks utama, terutama Kitab-kitab Injil, untuk hari-hari Minggu dan hari-hari raya. Bagi Petrus, seperti juga bagi kebanyakan para Bapa-bapa Gereja dari tradisi Latin, interpretasi spiritual atas bacaan-bacaan liturgi adalah yang penting bagi suatu homili yang bagus: "Narasi historis sebaiknya selalu diangkat kepada makna yang lebih mendalam dan misteri masa depan semestinya bisa diketahui melalui figur-figur masa kini" (Homili 36). Maksud yang fundamental dari sang Uskup adalah mengajarkan doktrin-doktrin yang ortodoks, mendorong hidup moral yang baik, dan untuk membawa para pendengarnya kepada devosi seutuhnya kepada Kristus. Sebuah kalimat dari Homili 108, mengomentari ajakan Rasul Paulus untuk memberikan tubuh kita sebagai kurban bagi Allah (Roma 12:1), menggambarkan ciri terbaik dari khotbahnya: "Biarlah Kristus menjadi penutup kepalamu. Biarlah salib tetap sebagai pelindung dahimu. Tutupilah dadamu dengan misteri pengetahuan Ilahi. Biarlah dupa doa selalu tetap menyala di depanmu sebagai parfum-mu. Ambillah pedang roh. Jadikanlah hatimu sebagai altar. Bebas dari kekhawatiran, bawalah tubuhmu kedepan seperti ini untuk menjadikannya suatu korban bagi Allah."

Santo Petrus Krisologus, doakanlah kami !


Sumber: The Doctors of The Church, oleh Bernard McGinn, ed.1999, hal.76
Diterjemahkan oleh: Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net