 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Santa Teresa dari
Avila (1515-1582)
(alias St. Teresa dari Yesus)
Pujangga Gereja
Pesta: 15 Oktober
Kurang
dari 20 tahun sebelum Teresa dilahirkan di tahun 1515, Columbus
membuka dunia baru bagi kolonisasi orang Eropa. Dua tahun setelah
dia dilahirkan, Luther memulai reformasi Protestan. Dari semua inilah
Teresa datang menunjukkan jalan dari gejolak di luar sana kepada
kedamaian batin.
Ayah Teresa sangat jujur dan taat,
tetapi mungkin dia terlalu ekstrim dalam hal ini. Ibunda Teresa
menyukai novel romans tetapi karena suaminya menolak buku-buku picisan
seperti ini, dia menyembunyikannya dari suaminya. Teresa sendiri
menyukai romans. Ayahnya mengajarkan kepadanya untuk tidak berbohong,
sementara ibunya memintanya untuk tidak bercerita kepada ayahnya.
Teresa mengatakan bahwa dirinya khawatir bahwa apapun yang dilakukannya
pasti salah.
Ketika dia berumur 5 tahun dia
meyakinkan kakak laki-lakinya bahwa mereka mesti "pergi ke
tanah orang Moor di Afrika Utara, dan memohon mereka atas dasar
kasih kepada Allah, untuk memancung kepala mereka berdua."
Sekitar tahun 1524 sang gadis muda dan kakak laki-lakinya secara
diam-diam meninggalkan rumah mereka di Avila untuk berkelana ke
tanah-tanah Muslim di Afrika Utara untuk mempersembahkan diri mereka
sebagai martir iman. Akan tetapi di atas jembatan di tepi kota mereka
dicegat oleh seorang paman yang mengawal mereka kembali ke rumah
keluarga besar mereka. Setelah kejadian ini dia menjalani hidup
yang biasa-biasa saja walaupun dia yakin dirinya adalah seorang
pendosa berat.
Sebagai seorang remaja dia hanya
memperhatikan cowok-cowok dan pakaian-pakaian dan bersenda gurau
dan memberontak, serupa seperti anak-anak lain seusianya pada jamannya.
Ketika dia berusia 16 tahun ayahnya merasa bahwa dirinya lepas kontrol
dan lantas mengirimkan ke biara. Pertama-tama dia membencinya, tetapi
akhirnya pelan-pelan dia mulai menyukainya, sebagian karena kasihnya
yang tumbuh kepada Allah, dan sebagian lagi karena kehidupan biara
ternyata lebih lunak ketimbang dibawah asuhan ayahnya.
Ketika tiba saatnya untuk memilih
antara kawin dan hidup membiara, dia mendapat kesulitan untuk mengambil
keputusan. Dia telah menyaksikan perkawinan yang sulit yang membuat
ibunya tertekan. Di lain pihak, jadi biarawati juga tampak tidak
terlalu menyenangkan. Ketika dia akhirnya memilih menjadi biarawati,
dia melakukannya karena semata-mata karena dia berpikir bahwa biara
adalah satu-satunya tempat yang aman bagi pendosa seperti dirinya.
Sekali ditempatkan secara permanen
di biara Karmelit, dia mulai belajar dan mempraktekan doa-doa mental,
dimana dia mencoba sekuat-kuatnya untuk memelihara kehadiran Yesus
dalam dirinya.."Imajinasiku begitu tumpul sehingga aku tidak
mempunyai bakat untuk berimajinasi atau datang dengan pemikiran-pemikiran
teologis yang hebat." Teresa berdoa dengan cara ini selama
18 tahun tanpa dapat merasakan bahwa dia mendapatkan suatu hasil
apapun. Salah satu alasan kesulitan yang dihadapinya adalah karena
biara ternyata bukan tempat aman seperti yang diasumsikan olehnya.
Banyak wanita yang tidak tahu
ingin melakukan apa dalam hidupnya mencoba hidup membiara, entah
mereka mendapat panggilan atau tidak. Mereka didorong untuk tinggal
jauh dari biara selama kurun waktu yang lama untuk menghemat biaya.
Banyak biarawati mengatur kerudungnya secara menarik dan mengenakan
perhiasan. Prestise tergantung bukan pada kesalehan, tetapi pada
uang. Banyak orang yang terus menerus berkunjung di ruang tamu dan
pesta-pesta yang menyertakan para pemuda. Kalaupun ada kehidupan
spiritual maka itu menyangkut histeria, menangis, penitensi yang
berlebihan, hidung yang berdarah dan penglihatan yang dibuat-buat.
Teresa memiliki problem yang sama
seperti yang dialami St.Franciscus dari Asisi. Dirinya terlalu menarik.
Semua orang menyenanginya dan dia sendiri suka untuk disenangi oleh
banyak orang. Dia mendapati bahwa sangat mudah untuk tergelincir
dalam kehidupan duniawi dan mengabaikan Allah. Biara dimana dia
tinggal mendorong dirinya untuk memiliki pengunjung yang diajarkannya
tentang doa batin, karena karunia-karunia ini juga membantu perekonomian
biara. Tetapi Teresa lebih terlibat dalam sanjungan yang berlebihan,
kesombongan, dan gosip ketimbang bimbingan spiritual. Mungkin ini
bukan dosa berat, tetapi ini membuatnya terpisah dari Allah.
Lalu Teresa jatuh sakit karena
Malaria. Ketika dia menderita kejang-kejang, orang-orang begitu
yakin bahwa dia telah wafat sehingga ketika dia bangkit empat hari
sesudahnya, dia menemukan bahwa orang-orang telah menggali liang
kubur bagi dirinya. Setelah itu dia menjadi lumpuh selama tiga tahun
berikutnya dan tidak pernah sehat sepenuhnya. Meskipun demikian
penyakitnya tidak membuatnya lebih baik secara spiritual, dan malahan
menjadi alibi untuk berhenti berdoa sama sekali. Nantinya dia berkata,
"Doa adalah perbuatan kasih, tidak perlu kata-kata."
Selama bertahun-tahun dia nyaris
tidak berdoa sama sekali dengan berpura-pura rendah hati. Dia berpikir
bahwa dia adalah seorang pendosa dan tidak layak menerima rahmat
dari Tuhan. Tetapi menjauh dari doa sama seperti "seorang bayi
yang menjauh dari susu ibunya, apa yang bisa diharapkan selain kematian?"
Ketika dia berusia 41 tahun, seorang
imam meyakinkan dirinya untuk kembali berdoa, meskipun dia masih
mendapat kesulitan. "Aku lebih ingin supaya jam doa segera
berakhir ketimbang untuk berada disana. Aku tidak tahu penitensi
berat macam apa yang aku tidak jalani dengan senang hati selain
daripada mempraktekan berdoa." Dia juga sering terganggu perhatiannya:
"Intelektual ini begitu liar sehingga tampak tidak berbeda
seperti seorang gila yang mengamuk yang tidak bisa dikendalikan
oleh siapapun." Teresa bersimpati kepada mereka yang mendapat
kesulitan untuk berdoa. "Segala cobaan yang kita alami tidak
bisa dibandingkan dengan pertempuran batin ini."
Meski demikian pengalamannya memberikan
kita penjelasan yang indah tentang doa batin. "Bagiku doa batin
tidak lain adalah sharing yang akrab diantara teman-teman; artinya
sering menyediakan waktu untuk sendirian bersama-Nya yang kita tahu
mengasihi kita. Yang penting jangan banyak berpikir tetapi banyak
mengasihi dan demikian lakukan apa-apa yang membuat anda tergugah
untuk mengasihi. Kasih bukanlah rasa senang yang sangat, melainkan
keinginan untuk menyenangkan Allah dalam segala hal."
Setelah dia mulai kembali berdoa,
Allah memberinya kegembiraan spiritual: doa tenang dimana kehadiran
Allah memenuhi panca inderanya, dan mengangkatnya dimana Allah memenuhinya
dengan kemuliaan dalam kebodohan, kesatuan doa dimana dia merasa
matahari Allah melelehkan dirinya. Kadang seluruh tubuhnya terangkat
dari tanah. Jika dia merasa bahwa Allah akan mengambangkan tubuhnya,
dia meregangkan tubuhnya dan memanggil para biarawati untuk duduk
diatas tubuhnya untuk menjaganya supaya tetap diatas tanah. Bukannya
menjadi senang karena kejadian-kejadian ini, dia malahan "memohon
Allah dengan sangat untuk tidak memberiku karunia-karunia ini dihadapan
umum."
Dalam buku-bukunya, dia menganalisa
pengalaman-pengalaman mistis seperti layaknya seorang ilmuwan. Dia
tidak melihatnya sebagai karunia-karunia hadiah dari Allah tetapi
sebagai cara Allah "memurnikan" dirinya. Makin besar kasih
yang dirasakannya, makin sulit untuk menyakitkan Allah. Dia berkata,
"Kenangan akan karunia yang telah Allah berikan lebih membawa
seseorang kembali kepada Allah ketimbang segala hukuman abadi yang
dibayangkan."
Kesalahannya terbesar adalah persahabatannya
dengan orang-orang. Meskipun dia tidak berdosa karenanya, dia bergitu
terikat dengan kawan-kawannya sampai Allah mengatakan kepadanya
"Aku tidak lagi ingin engkau untuk berbicara dengan sesama
manusia melainkan dengan para malaikat." Dalam sekejam Dia
telah memberikannya kebebasan yang selama ini tidak didapatnya meski
dia berusaha selama bertahun-tahun. Setelah kejadian itu Allah selalu
yang pertama dalam hidupnya.
Akan tetapi beberapa kawannya
tidak menyukai apa yang terjadi dengannya dan berembuk bersama untuk
"menyembuhkan" dirinya. Mereka berkesimpulan bahwa dia
telah dipengaruhi iblis dan mengirimkan seorang imam Yesuit untuk
memeriksanya. Sang Yesuit meyakinkan Teresa bahwa pengalaman-pengalamannya
berasal dari Allah, akan tetapi segera semua orang mengetahui tentangnya
dan mengolok-olok Teresa.
Seorang pembimbing spiritual begitu
yakin penglihatan yang dialami Teresa berasal dari iblis sehingga
dia mengatakan kepada Teresa untuk melakukan gerakan menghina setiap
kali dia mendapat penglihatan Yesus. Dia menunduk takut tetapi melakukan
apa yang diperintahkan sang pembimbing spiritual, dan selama itu
selalu minta maaf kepada Yesus. Untungnya, Yesus tampaknya tidak
marah dan malahan mengatakan kepadanya bahwa memang dia seharusnya
patuh pada pembimbing spiritualnya. Dalam buku autobiografinya dia
mengatakan, "Aku lebih takut kepada orang-orang yang takut
kepada iblis, ketimbang terhadap sang iblis sendiri." Tidak
perlu takut kepada iblis tetapi lawanlah dengan lebih banyak berbicara
tentang Tuhan.
Teresa merasa bahwa bukti terkuat
bahwa kesukacitannya berasal dari Allah adalah pengalaman-pengalaman
yang membawanya pada kedamaian, inspirasi, dan dorongan kekuatan.
"Kalau hal-hal ini tidak ada aku akan sangat meragukan bahwa
pengangkatan itu berasal dari Allah."
Akan tetapi, kadang dia tidak
dapat menahan dirinya untuk mengeluh kepada Kawan terdekatnya seputar
rasa permusuhan dan gosip yang mengelilingi dirinya. Ketika Yesus
mengatakan kepadanya, "Teresa, demikianlah Aku memperlakukan
teman-teman-Ku" Teresa menjawab, "Tidak herang Engkau
hanya memiliki segelintir teman." Tetapi karena Kristus hanya
memiliki sedikit teman, dia merasa teman-teman ini adalah orang-orang
yang baik. Dan itulah mengapa dia berkeputusan untuk mereformasi
tarekat Karmelit.
Pada usia 43 tahun, dia membulatkan
tekad untuk mendirikan biara yang baru yang kembali kepada dasar-dasar
dari tarekat yang kontemplatif: hidup sederhanya dalam kemiskinan
yang didedikasikan untuk doa. Ini rasanya bukan suatu hal yang besar
bukan?
Ketika rencana-rencananya tentang
biaranya yang pertama, St.Yusuf, bocor, diapun diserang dari atas
mimbar dan disuruh oleh para biarawati-biarawati lain supaya dia
mengumpulkan dana bagi biara di tempatnya sekarang, dan diancam
dengan inkuisisi. Kota itupun menempuh jalur hukum untuk melawannya.
Ini semua karena dia menginginkan hidup sederhana untuk doa. Di
tengah-tengah kancah pertentangan ini dia terus jalan dengan tenang
seolah-olah tidak ada masalah, mempercayakan segalanya pada Allah.
"Semoga Allah melindungiku
dari orang-orang kudus yang suram, " Teresa berkata, dan demikianlah
cara dia mengurus biaranya. Baginya, kehidupan spritual adalah sikap
kasih, bukan suatu aturan. Meskipun dia berkaul miskin, dia percaya
pada kerja, bukan mengemis. Dia percaya pada kepatuhan pada Allah
lebih daripada perbuatan silih. Jika engkau melakukan suatu kesalahan,
jangan menghukum dirimu sendiri, tetapi berubahlah. Ketika seseorang
merasa depresi, nasihatnya adalah supaya orang itu pergi ke suatu
tempat dimana dia bisa melihat langit dan berjalan. Ketika seseorang
terkejut melihat bahwa Teresa makan kenyang, dia menjawab, "Ada
saatnya untuk berpesta ada saatnya untuk berbuat silih." Ketika
kakaknya mengatakan dia akan bermeditasi tentang neraka, Teresa
menjawab, "Jangan."
Setelah dia mendapat biaranya
sendiri, dia masih belum terlepas dari kesulitan. Di St.Yusuf, dia
menghabiskan banyak waktunya menuliskan "Kehidupan"-nya.
Dia menulis buku ini bukan untuk main-main tetapi karena dia diperintahkan.
Banyak orang mempertanyakan pengalamannya dan buku ini entah akan
membersihkan namanya atau membuatnya dikecam. Karena inilah dia
menggunakan samaran dalam bukunya dan menyatakan pemikiran yang
menonjol dengan pernyataan ini, "Tetapi apakah yang aku ketahui.
Aku hanyalah seorang wanita yang malang." Pihak inkuisisi menyukai
apa yang mereka baca dan membersihkan namanya.
Pada usia 51 tahun, dia merasa
sudah saatnya menyebarluaskan gerakan reformasinya. Diapun pergi
ke tempat-tempat dimana matahari bersinar terik, dipenuhi es dan
salju, para penyamun, dan penginapan yang penuh dengan tikus-tikus,
untuk mendirikan banyak biara-biara. Tetapi tantangan-tantangan
itu terhitung mudah jika dibandingkan dengan apa yang dihadapinya
dari para bruder dan biarawati. Dia dikatakan sebagai "tukang
keluyuran pemberontak yang tidak bisa diam yang pergi mengajar seolah-olah
dirinya adalah seorang profesor" oleh seorang nuncio (duta)
Sri Paus. Ketika biara dimana dia tinggal sebelumnya mengangkatnya
sebagai pemimpin biara, pemimpin tarekat Karmelit meng-ekskomunikasi
para biarawati tersebut. Seorang vikarius jendral menempatkan seorang
petugas hukum di luar pintu biara untuk mencegahnya masuk ke biara.
Sementara itu para pemimpin tarekat-tarekat religius lainnya juga
menentangnya kemanapun dia pergi. Tidak jarang dia harus memasuki
suatu kota secara rahasia di tengah malam untuk mencegah terjadinya
huru-hara.
Dan bantuan yang diterima Teresa
dan para biarawatinya kadang lebih buruk daripada permusuhan yang
dihadapi. Seorang puteri memerintahkan Teresa untuk mendirikan suatu
biara dan lalu muncul di depan pintu dengan sejumlah koper dan pembantu-pembantu.
Ketika Teresa menolak untuk menyuruh para biarawatinya untuk menunggu
sang puteri sambil berlutut, sang puteripun melaporkan Teresa ke
badan inkuisisi.
Di kota lainnnya, mereka tiba
di rumah mereka yang baru di tengah malam, dan ketika fajar menyingsing
mereka menemukan bahwa salah satu dinding rumahnya tidak ada.
Mengapa semua orang begitu marah?
Teresa berkata, "Sesungguhnya tampak bahwa sekarang tidak ada
lagi orang yang disebut gila karena menjadi pengasih Kristus yang
sejati." Tidak seorangpun diantara kaum religius mau mendengar
Teresa mengingatkan mereka cara seperti yang diminta Allah untuk
mereka jalankan dalam hidupnya.
Teresa melihat segala kesulitan
ini sebagai suatu publisitas. Segera dia mendapatkan sejumlah postulan
(calon biarawati) yang ingin masuk biara reformasi yang dipimpinnya.
Banyak orang memikirkan apa yang dikatakan oleh Teresa dan ingin
belajar berdoa dari dirinya. Tidak lama kemudian idenya tentang
doa menyebar tidak hanya ke seluruh wilayah Spanyol, tetapi seluruh
Eropa.
pada tahun 1582, dia diundang
untuk mendirikan suatu biara oleh seorang Uskup Agung tetapi ketika
dia tiba di tengah-tengah hujan lebat, sang Uskup memerintahkan
dia untuk pergi. "Dan cuacanya juga bagus, " begitulah
komentar Teresa. Meskipun sakit keras, dia diperintahkan untuk merawat
seorang wanita bangsawan yang akan melahirkan. Ketika mereka sampai
disana, sang bayi sudah lahir, maka Teresa berkata, "Akhirnya
toh orang kudus tidak diperlukan." Karena terlalu parah sakitnya,
dia wafat tanggal 4 Oktober pada usia 67 tahun.
Dia adalah pendiri tarekat OCD,
tarekat Karmelit yang sudah direformasi (OCD = Order of Carmelite
Discalced, Tarekat Karmelit Tanpa Alas Kaki). Pada tahun 1970 Sri
Paus memproklamasikan Teresa sebagai Pujangga Gereja karena tulisan-tulisannya
dan ajarannya tentang doa. Dia adalah satu diantara dua wanita yang
dihargai karena alasan ini.
Santa Teresa dari Avila adalah
pelindung orang-orang yang menderita sakit kepala. Lambangnya adalah
sebuah hati dan sebuah panah dan sebuah buku.
Santa Teresa dari Avila, doakanlah
kami...
|