 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
 |
| Daftar sejumlah wahyu
pribadi baik yang sudah diakui maupun belum diakui Gereja: |
| |
Cuenca,
Ecuador, 1990 |
| |
Cuapa,
Nicaragua, 1980 |
| |
Zeitun,
Mesir, 1968 |
| |
Dong
Lu, Cina, 1900 & 1995 |
| |
Guadalupe,
Meksiko, 1531 |
| |
Pilar,
Saragosa, Spanyol, 40 |
| |
Basilika
St.Maria Mayora, 352 |
 |
Santa Maria dari
Guadalupe
Kisah penampakan Maria dan tilma Guadalupe,
1531
Pada
dini hari tanggal 9 Desember 1531, sehari setelah pesta Maria Yang
Dikandung Tanpa Noda, di suatu tanah luas disebelah utara kota Meksiko,
seorang sedang berjalan sendirian menuju Misa pagi. Juan Diego adalah
seorang pria berumur 57 tahun dari suku Aztec yang telah dibaptis,
yang nama aslinya adalah Elang Bernyanyi.
Dia tinggal 8 kilometer diluar kota Meksiko, di kampung Tolpetlac.
Juan tinggal sendirian, tetapi dia sangat dekat dengan pamannya
yang sangat dikasihinya. Pamannya tersebut, Juan Bernardino, telah
menjadi figur ayah baginya selama ini, dan dia telah tua renta.
Sekarang giliran Juan Diego untuk menjaganya.
Setiap hari Juan Diego akan mengunjungi rumah pamannya untuk mengurusi
pamannya dan menengok tanaman di kebun pamannya. Tetapi pada hari
Sabtu yang dingin itu, Juan Bernardino tidak melihat keponakannya
datang. Juan Diego telah meninggalkan desanya pagi-pagi sekali untuk
menghadiri Misa pagi dalam memperingati Bunda Maria. Gerejanya terletak
di desa Tlaltelolco dan para romo disana selalu menekankan pentingnya
untuk datang ke Misa Kudus sebelum dimulai, dan memanggil satu-persatu
nama-nama orang yang sudah dibaptis sebelum Misa Kudus dimulai.
Ketika berlari-lari melewati perbukitan
seperti biasanya, Juan Diego menghentikan langkahnya tiba-tiba karena
mendengar suara yang diduganya adalah suara burung. Ini sangat membuatnya
terheran-heran karena pada bulan sekian, semestinya semua burung-burung
sudah bermigrasi ke wilayah yang lebih hangat. Agaknya suara kicauan
itu begitu tajam dan mengejutkan...sesuatu yang tidak dapat diabaikan.
Serentetan nada yang serasi datang dari bukit kecil yang tandus
yang disebut Tepeyac dimana dulunya disana berdiri suatu kuil bagi
Bunda Dewi yang dipuja oleh suku Aztec.
Sekonyong-konyong suara musik itu berhenti
diisi dengan keheningan, lantas terdengar suara seorang wanita yang
memanggil-manggil namanya:
"Juan! Juan Diego! Juanito!
Juan Dieguito!"
Siapapun orangnya, panggilan itu membuatnya
sangat terdorong untuk menemui orangnya. Dia berlari ke puncak bukit
dan baru setibanya dia disana dia melihat sesuatu. Seorang gadis
Meksiko muda yang berusia sekitar 14 tahun dengan kilauan keemasan
yang terpancar dari sekujur tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
Segala pancaindera Juan Diego terliputi seolah dunia telah menghilang
dan yang ada hanyalah penglihatan akan gadis muda yang sangat cantik
dan suaranya. Gadis itu berbicara kepadanya dalam bahasa asli Aztec:
"Nopiltzin, campa tiauh?"
Demikian gadis itu berkata "Juan,
anakku yang paling kecil mungil, hendak kemana engkau pergi?"
Juan menjawab, "Bunda dan puteri,
aku sedang bergegas ke Tlaltelolco untuk menghadiri Misa Kudus dan
mendengarkan Injil."
Wanita itu lantas berkata: "Puteraku
yang baik, aku mengasihimu. Aku ingin engkau tahu siapa aku. Aku
adalah Maria Perawan Abadi, Bunda Allah yang sejati yang memberi
hidup dan memeliharanya. Dia menciptakan segala hal. Dia ada di
segala tempat. Dia adalah Tuhan dari langit dan bumi. Aku menginginkan
sebuah teocali (=kuil atau gereja) di tempat ini dimana aku akan
menunjukkan belahkasihku kepada kaummu dan kepada semua orang yang
dengan tulus hati meminta pertolonganku dalam kerja dan kesulitan
mereka. Disini, aku akan melihat air mata mereka. Aku akan menghibur
mereka dan mereka akan merasakan kedamaian. Oleh karena itu sekarang
pergilah ke Tenochtitlan (=Kota Meksiko) dan katakan kepada Bapa
Uskup semua yang telah kamu lihat dan dengarkan."
Juan menjatuhkan diri berlutut keras-keras
diatas batu cadas ketika sang Perawan mengatakan kepadanya siapa
dirinya, akan tetapi meski demikian dia tidak merasakan sakit sedikitpun.
Dia menyungkurkan dirinya di kaki Bunda Maria dan menjawab:
"Bunda yang mulia, aku akan melakukan
apapun yang engkau titahkan kepadaku!" Maka berangkatlah dia.
Sembari berlari-lari menuruni bukit, terpikirkan olehnya bahwa apa
yang diminta oleh Bunda Maria bukanlah suatu perkara kecil. Pertama-tama
jarak yang ditempuh sekitar 8 kilometer cukup melelahkan bagi seorang
yang sudah berusia 57 tahun. Selain itu, terpikirkan juga apa yang
mungkin akan dilakukan oleh para tentara dan tukang pukul Spanyol
yang melihat dirinya orang miskin papa yang hina, yang berani datang
ke kota besar. Ditambah lagi masalah mencari tempat tinggal sang
Uskup, karena dia sama sekali tidak tahu dimana letaknya. Setelah
melalui berbagai kesulitan, akhirnya Juan Diego berhasil menemukan
tempat sang Uskup, dan setelah diperlakukan secara kasar oleh para
pelayan, dia akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemui
sang Uskup.
Uskup Don Fray Juan de Zumarraga sebetulnya
baru terpilih dan belum dikonsekrasikan sebagai Uskup. Tetapi dia
telah melakukan banyak hal terutama mengurangi perlakuan kasar para
Konquistador (penakluk) Spanyol, terhadap orang-orang suku Indian,
dan beliau sangat dihormati. Dia menemui Juan Diego setelah waktu
yang cukup lama, karena dia sendiri baru diberi tahu tentang kedatangan
Juan setelah tertunda waktu yang lama. Agaknya seseorang akhirnya
memutuskan untuk memberi tahu sang Uskup mengenai orang dusun yang
sedang menunggu-nunggu kehadirannya dengan sebuah pesan yang hanya
boleh disampaikan kepada bapa Uskup pribadi. Dengan sopan bapa Uskup
mendengarkan kisah yang dituturkan oleh Juan lewat seorang penterjemah,
dan beliau terkesan oleh ketulusan dan kerendah-hatian Juan Diego.
Dia menanyakan Juan sejumlah pertanyaan, dan puas akan kenyataan
bahwa Juan adalah seorang yang telah mendapat katekis yang baik.Tetapi
pesan yang dibawa oleh Juan menyangkut permintaan mendirikan sebuah
bangunan gereja di tengah-tengah tanah tandus sulit untuk diterima
akal sehat. Dia mengatakan kepada Juan bahwa dia akan memikirkannya
dan bahwa mereka akan melanjutkan percakapan nantinya.
Hari sudah malam ketika Juan mencapai
tanah tandus di bukit dimana dia melihat Bunda Maria menampakkan
dirinya, dan dia sangat lelah dan lapar, karena telah berpuasa sejak
matahari terbenam sehari sebelumnya. Bahkan mungkin dia juga sangat
sedih karena misinya gagal. Setelah mendaki bukit itu, dia terkejut
melihat Bunda Maria berada disana sedang menunggunya. Bunda Allah
telah menunggunya selama ini sendirian di atas bukit tandus itu!
Dia menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata:
"Bunda dan Ratu yang baik, aku melakukan
titahmu. Aku memberitahukan kepada Bapa Uskup tentang segala hal
yang telah kulihat dan kudengar disini. Dia mendengarkan, dan menanyakan
banyak pertanyaan, tetapi aku yakin bahwa beliau tidak percaya segala
hal yang kukatakan. Dia berpendapat bahwa aku telah salah sangka
tentang keinginanmu untuk sebuah bangunan gereja disini, dan bahkan
tentang siapa sebenarnya yang aku lihat dan bercakap-cakap disini.
Dia berbaik hati memberi ijin kepadaku untuk menemuinya kembali,
tetapi aku khawatir bahwa aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Aku
tidak layak menerima kepercayaanmu dengan pesan yang penting itu.
Mohon kirim orang lain yang lebih layak, karena aku bukan siapa-siapa.
Maafkan keterus-teranganku dalam menasihatimu."
Sang Perawan Maria berkata: "Dengarkan
putera mungilku. Ada banyak orang lain yang bisa aku kirim. Tetapi
engkaulah yang aku pilih untuk menjalankan tugas ini. Maka esok
pagi berangkatlah kembali menemui Bapa Uskup. Katakanlah kepadanya
bahwa Perawan Maria-lah yang mengirim engkau, dan ulangi permintaanku
untuk mendirikan sebuah gereja di tempat ini."
"Aku akan melakukannya dengan rela,"
Juan menjawab, "tetapi aku khawatir Bapa Uskup tidak akan senang
melihat aku kembali secepat ini. Dan kalaupun dia senang, dia mungkin
tetap saja tidak akan percaya bahwa engkaulah sungguh-sungguh yang
mengutus aku. Tetapi aku adalah pelayanmu dan akan menuruti segala
kehendakmu. Esok aku akan kembali ke sini untuk memberitahukan hasil
kunjunganku yang kedua kalinya. Bunda yang mulia, beristirahatlah
sampai nanti."
Pada pagi hari berikutnya Juan bangun
pagi-pagi sekali dan pergi ke Misa Kudus, dan setelah Misa selesai
dia melanjutkan perjalanan ke kota Meksiko. Agaknya setelah dimarahi
akibat sikap kasar mereka sehari sebelumnya, kali ini para pelayan
membolehkan dia langsung menemui Uskup. Sang Uskup sangat terkejut
melihat dia datang kembali begitu cepatnya, dan begitu pagi-pagi
sekali, tetapi dia mendengarkan dengan sabar dan baik hati, cerita
itu untuk kedua kalinya, dan betapa besar keinginan sang Perawan
agar sebuah gereja didirikan di atas bukit. Agaknya surga telah
memenuhi pikiran sang Uskup, sehingga dia mulai percaya bahwa Juan
tidak salah paham ataupun membuat-buat cerita ini. Dia membutuhkan
suatu bukti. Tetapi bukti apa?
Dengan agak ragu-ragu, karena tidak ingin
menimbulkan kesan bahwa dia mempertanyakan motivasi Bunda Surgawi,
dia meminta Juan untuk menyampaikan kepadanya bahwa dia dengan rendah
hati meminta suatu tanda yang akan menjadi bukti bahwa sungguh-sungguh
Bunda Maria sendirilah yang membuat permohonan ini. Juan merasa
lega hatinya karena setidaknya kali ini dia mendapat suatu kemajuan
karena dia tidak segera dikirim pulang kali ini, dan dia melanjutkan
kembali ke bukit seperti yang telah dia janjikan sebelumnya.
Setibanya disana, sekali lagi karena
melihat sang Perawan telah berada disana menunggunya, dia segera
berlutut dan mengatakan kepadanya bahwa bapa Uskup telah menemuinya
dan mendengarkan dengan lembut, tetapi bahwa dia meminta sebuah
tanda sebelum gereja bisa dibangun. Dengan kesabaran seorang ibu,
Maria mendengarkan, dan bukannya merasa tidak senang, malah beliau
agaknya senang. Dia berkata:
"Baiklah, putera kecilnya. Kembalilah
besok saat menjelang fajar. Aku akan memberimu suatu tanda baginya.
Engkau telah mendapat banyak kesulitan karena permintaanku, dan
aku akan memberimu upah oleh karenanya. Pergilah dalam damai dan
beristirahatlah."
Bukannya pulang ke rumah, Juan langsung
pergi menemui pamannya. Dia terkejut setibanya disana, karena mendapatkan
pamannya telah terinfeksi penyakit demam yang menular dan mematikan
yang telah sering dilihat oleh Juan. Dia tidak beristirahat, malahan
melakukan segala hal yang bisa dilakukannya untuk mengurusi paman
yang sedang menderita sakit keras. Sepanjang malam itu, siang hari
berikutnya, dan malam hari berikutnya, Juan menunggui sang paman
disamping ranjangnya. Pada hari Selasa pagi, kondisi Juan Bernardino
membruk, dan dia tahu bahwa dia mungkin tidak dapat bertahan bahkan
sehari lagi. Dia meminta keponakannya untuk memanggil seorang imam
supaya dia dapat menerima Sakramen Pengurapan orang sakit. Juan
Diego akhirnya mengalah, dan meskipun dia sesungguhnya tidak ingin
meninggalkan pamannya sendirian meregang maut, dia menyadari bahwa
mungkin ini satu-satunya hal yang bisa dilakukan bagi pamannya.
Untuk memanggil seorang imam, Juan harus
pergi ke Tlaltelcolco. Untuk pergi ke Tlaltelcolco, dia harus pergi
memutari wilayah bukit Tepeyac. Karena dia telah melihat Bunda Maria
di sisi barat, maka kali ini dia akan pergi melintasi sisi timur
dengan harapan supaya Bunda Maria tidak melihatnya dan lantas membuatnya
tertunda, karena setiap saat adalah waktu yang berharga demi mendapatkan
Sakramen Pengurapan bagi pamannya. Begitu besar rasa kasihnya kepada
sang paman, sehingga dia lebih rela menunda bertemu dengan Bunda
Maria demi untuk mengurusi keperluan pamannya! Tetapi dia baru saja
akan melintasi sisi timur ketika dia melihat Bunda Maria menuruni
bukit.
Sewaktu berjalan menemui Bunda, pasti
rasa malunya luar biasa besarnya. Untuk menyembunyikan perasaannya,
seperti seorang anak kecil, Juan Diego mencoba untuk merubah topik
pembicaraan. Dengan Juan berlutut dihadapannya, Bunda Maria bertanya,
"Puteraku yang mungil,
ada masalah apa?" Juan ,emkawab
dengan sembarangan, "Bunda! Mengapa engkau bangun begitu pagi-pagi
sekali? Apakah engkau baik-baik saja?" Menyadari kebodohannya,
segera dia meminta maaf, "Maafkan aku. Pamanku menjelang ajal
karena demam cocolistle dan memintaku untuk memanggil seorang imam
untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepadanya. Bukan janji kosong
belaka yang kuucapkan bahwa aku akan menemuimu kemarin pagi dan
membawa tanda yang akan engkau berikan kepada bapa Uskup. Tetapi
pamanku sakit keras."
Dengan tersenyum, Maria menjawab, "Puteraku
yang mungil. Jangan khawatir dan terbeban. Bukankah aku ini adalah
ibumu? Tidakkah engkau berada dalam perlindunganku? Pamanmu tidak
akan meninggal saat ini. Pada saat ini juga kesehatannya telah pulih.
Tidak ada gunanya engkau melanjutkan perjalananmu, dan dengan hati
damai engkau bisa melakukan permintaanku. Pergilah ke puncak bukit;
potonglah bunga-bunga yang tumbuh disana dan bawalah kepadaku."
Bunga-bunga? Tidak mungkin ada bunga-bunga
yang tumbuh pada saat ini di akhir tahun di bukit yang dingin beku
itu! Akan tetapi tidak mungkin juga kesehatan pamannya bisa pulih
dalam sekejap. Oleh karena itu Juan Diego tidak lagi bertanya-tanya
dan langsung naik ke puncak bukit menuruti petunjuk Bunda Maria.
Di atas puncak bukit dilihatnya suatu pemandangan yang tidak dapat
dipercaya. Bunga-bunga mawar!!! Bunga Mawar Kastilian (dari Spanyol)
! Dia memotong tangkai bunga-bunga tersebut, lantas untuk melindungi
dari angin dingin, dia meletakkannya di dalam tilma yang dipakainya.
Tilma adalah semacam jubah khas Indian yang dipakai di bagian depan
dan seringkali digunakan untuk membawa benda-benda. Dengan berlari-lari
dia menuruni bukit dan menemui sang Perawan dan berlutut didepan
Bunda Surgawi.
Maria tidak puas dengan cara bunga-bunga
tersebut diletakkan di dalam tilma dan dengan cermat dia mengatur
setiap tangkai bunga dengan kedua tangannya, dan kemudian menyimpulkan
kedua ujung tilma supaya isinya tidak tertumpah.
Lalu dia berkata, "Engkau
lihat, putera kecil, ini adalah tanda yang aku kirim kepada Uskup.
Katakan kepadanya bahwa sekarang dia mendapatkan tanda yang dimintanya,
maka dia harus membangun gereja yang kuminta di atas tempat ini.
Jangan biarkan orang lain kecuali dirinya melihat apa yang engkau
bawa. Peganglah kedua sisinya sampai engkau tiba di hadapannya dan
selesai menceritakan tentang bagaimana aku mencegat engkau dalam
perjalananmu untuk memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen
Pengurapan kepada pamanmu, dan betapa aku meyakinkanmu bahwa dia
telah pulih sepenuhnya dan selanjutnya mengirimmu ke atas bukit
untuk memotong bunga-bunga mawar ini, dan aku sendiri yang mengaturnya
seperti ini. Ingatlah, puteraku yang mungil, bahwa engkau adalah
dutaku yang kupercaya, dan kali ini bapa Uskup akan percaya apa
yang engkau ceritakan kepadanya."
Saat itu adalah untuk terakhir kalinya
Juan Diego melihat atau mendengar Bunda Maria sepanjang sisa hidupnya
di dunia.
Dengan memegang erat-erat bawaannya yang
berharga, Juan tiba di tempat tinggal bapa Uskup. Meskipun dia berusaha
menyembunyikan apa yang dibawanya di balik tilmanya, akan tetapi
wangi mawar surgawi yang menyengat memenuhi udara disekitarnya.
Para pelayan membolehkan dia masuk, tetapi mereka menjadi sangat
ingin tahu akan apa yang dia bawa, tertama setelah mencium wangi
harum bunga mawar. Merekapun mulai mendesak-desak Juan untuk memberitahukan
apa yang ada di balik tilmanya, dan beberapa bunga menjadi tampak
kelihatan. Ketika para pelayan menyentuh mawar-mawar tersebut, mereka
berubah rupa dan lenyap. Keributan yang ditimbulkannya membuat sang
bapa Uskup datang bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
Melihat Juan untuk kesekian kalinya dan
kembali begitu cepatnya tentu membuat sang Uskup menjadi lelah berurusan
dengan orang dusun yang sederhana ini, dan dia segera menyuruh Juan
Diego untuk masuk ke ruangannya, bersama-sama beberapa pengurus
rumah tangga sang Uskup. Berdiri di hadapan Uskup, dia tidak berani
berlutut karena khawatir bunga-bunganya akan tertumpah keluar sebelum
dia selesai menceritakan kisahnya seperti yang telah diperintahkan
oleh Bunda Maria. Juan kembali menceritakan apa yang telah dilihatnya
dan didengarnya. Setelah dia selesai, Juan membuka simpul-simpul
pada tilmanya dan menumpahkan bunga-bunga yang telah diatur secara
hati-hati tersebut ke atas lantai. Hanya dalam waktu beberapa detik,
bapa Uskup bangkit dari kursinya dan berlutut di depan kaki Juan
Diego. Juan berpikir, "Apa-apaan ini?" Tetapi bukan dia
yang membuat bapa Uskup dan orang-orang itu berlutut, tetapi bahwa
Bunda Maria telah menyatakan rupanya dalam gambar yang muncul pada
tilma yang dikenakan oleh Juan Diego. Gambar yang muncul secara
mukjijat pada tilma Juan Diego adalah rupa Maria yang sama persis
ketika dia menampakan dirinya kepada Juan Diego. Sekarang rupa penampakannya
yang mulia bisa dilihat oleh semua orang!
Dengan penuh hormat, bapa Uskup membawa
gambar tersebut ke kapel pribadinya dan menggantung tilma tersebut
di dinding di dekat altar dimana banyak orang berdoa dan takjub
selama berjam-jam. Pada hari berikutnya gambar Bunda Maria tersebut
dibawa dalam suatu prosesi yang gegap gempita ke katedral dimana
banyak orang datang melihat dan berdoa di hadapannya. Berita tersebut
tersebar dengan cepat dan beribu-ribu orang menunggu berjam-jam
untuk mendapat kesempatan melihat secara sekilas mukjijat ini. Sementara
seisi kota merayakan hal itu, sang bapa Uskup, yang sekarang sudah
sepenuhnya percaya, menanyakan Juan Diego dimana Bunda Maria meminta
suatu gereja dibangun dan beliaupun berangkat kesana. Meskipun tempat
tersebut sama sekali tidak indah, dan tidak lagi ditemui mawar yang
sebelumnya tumbuh disana, segala hal ini tidak menjadi soal sekarang.
Semua keragu-raguan sudah lenyap. Bapa Uskup menyuruh Juan Diego
untuk menemui pamannya dan dia sendiri lantas memberkati tanah di
sana dan segera bergegas untuk membangun suatu gereja disana.
Sekembalinya Juan ke kampungnya, dia
melihat pamannya sedang menikmati sinar matahari di depan rumahnya,
sehat seperti sediakala, dan berlari-lari untuk menyongsongnya,
ingin segera menceritakan apa yang terjadi padanya. Akan tetapi
pamannya lebih dahulu bercerita bahwa ketika itu dia sangat lemah
sehingga untuk minumpun tidak mampu dan dia merasa kematian sudah
diambang pintu. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi oleh seberkas
cahaya, dan seorang gadis muda yang sangat cantik muncul dan mengatakan
bahwa dia akan sembuh, dan bahwa dia telah mencegat keponakannya,
Juan Diego, untuk mengutusnya mengirimkan gambar dirinya kepada
bapa Uskup. Dia lantas mengatakan kepada Juan Bernardino bahwa dia
berkeinginan supaya dirinya maupun gambar dirinya disebut dengan
sebutan "Santa Maria de Guadalupe." Setelah dia pergi,
sang paman merasakan bahwa dirinya sehat sediakala.
Guadalupe! Betapa Allah mengenal umat-Nya!
Pertama, kata ini memiliki makna yang mendalam bagi orang-orang
Spanyol. Guadalupe adalah nama yang diberikan bagi sebuah patung
kecil Santa Maria di kota Saracenic, Spanyol, dan adalah patung
dimana Columbus pernah berdoa dihadapannya, di dalam kapalnya yang
bernama Santa Maria, sebelum ia berangkat dalam perjalanannya yang
legendaris. Bagi orang Aztec, kata-kata ini juga punya makna yang
mendalam. Meskipun bahasa asli Aztec, Nahuatl, tidak memiliki huruf
"G", "D", atau "R", "Santa Malia"
- demikian mereka mengucapkan kata "Maria", sangat mereka
kenal. Bernardino kemungkinan besar mengulang kata-kata Bunda Maria
sebagai "de Quatlashupe" yang dengan mudah dimengerti
oleh orang-orang Spanyol sebagai Guadalupe. Akan tetapi bagi Bernardino
sendiri sebagai seorang suku Aztec, kata yang diucapkan oleh Bunda
Maria lebih terdengar sebagai "tetcoatlaxopeuh",
yang punya makna khusus karena artinya tidak lain adalah Ular Batu.
Maria menyatakan bahwa dirinya telah mengalahkan dewa jahat, seekor
ular, "Quetzalcoatl", yaitu dewa yang disembah
oleh orang-orang Aztec. Banyak orang telah dipersembahkan nyawanya
sebagai kurban bagi dewa ini. Tidak hanya namanya, bahkan dalam
gambar Bunda Maria tersebut, awan, matahari, bintang-bintang, bulan
hitam, salib hitam, semuanya ini memiliki makna khusus bagi orang-orang
Aztec. Tetapi mereka menyambut iman Katolik dengan sepenuh hati
dan percaya bahwa Bunda Maria telah menaklukkan sang ular. Meski
Gereja Katolik baru saja kehilangan sekitar 6 juta pengikutnya di
Eropa karena pecahnya reformasi Prostestan, tetapi di Amerika sekitar
8 juta orang menerima iman Katolik oleh satu saja penampakan Maria,
yaitu Guadalupe.
Gambar Bunda Maria dari Guadalupe yang
muncul secara mukjijat tersebut telah menjadi sasaran berbagai penelitian
ilmiah. Pertama-tama patut diketahui bahwa tilma itu terbuat dari
serat kasar kaktus yang tidak tahan lama dan semestinya sudah hancur
dalam kurun waktu sekitar 20 tahunan. Akan tetapi tilma yang bergambar
Bunda Maria tersebut umurnya sudah nyaris 500 tahun dan kondisinya
masih utuh. Meskipun sekarang dipamerkan dibalik kaca, akan tetapi
sepanjang ratusan tahun tilma tersebut dipamerkan secara terbuka,
bahkan ada saat-saat dimana tilma itu dipamerkan di dekat jendela.
Tidak seorangpun bisa menjelaskan bagaimana gambar yang begitu mendetail
bisa "dilukis" pada sehelai kain yang anyamannya kasar.
Bagian mata, khususnya pada pupil mata dan warnanya, sangat mendetail
sehingga seolah-olah merupakan sebuah foto. Tidak seorang ahlipun
bisa menyebutkan zat warna/cat apa yang dipakai untuk membuat gambar
tersebut. Bahan yang dipakai tidak diketahui asal-usulnya dan hasil
analisa kimia juga membingungkan para ahli.
Belum lama ini, riset fotografi NASA
(badan luar angkasa Amerika Serikat) menyatakan bahwa pada bagian
mata, tidak hanya warna dan pupil yang tampak nyata, tetapi bahkan
pantulan refleksi. Pada pantulan refleksi itu bisa dilihat gambar
orang-orang yang sedang berlutut, sebagian tampak adalah orang-orang
suku Indian, sementara sebagian lainnya berjubah imam. Lebih jauh
lagi pantulan refleksi ini muncul dengan cara sedemikian rupa sehingga
cocok sepenuhnya seperti layaknya pantulan yang ada pada mata manusia
sungguhan. Riset juga menunjukkan eksistensi saluran dan pembuluh
kapiler darah pada mata. Ini adalah suatu hal yang tidak mungkin
dilakukan oleh artis seniman manapun juga. Tidak mungkin orang bisa
melukis sedetail ini, pada bahan yang sekasar itu, dan dengan warna-warni
yang tak seorangpun tahu terbuat dari bahan apa. Kalau hal-hal diatas
belum cukup mengejutkan, para ahli astronomi Perancis telah menyatakan
bahwa letak bintang-bintang pada mantel Bunda Maria yang berwarna
hijau, cocok sepenuhnya dengan letak konstelasi bintang-bintang
di atas langit Meksiko pada bulan Desember 1531!!!
Diatas semua itu, mukjijat yang terbesar
dari penampakannya bukanlah penguatan dari ilmu pengetahuan. Mukjijat
yang terbesar adalah bahwa Maria begitu mengasihi Puteranya, dan
para anak-anak spiritualnya di dunia, sehingga dia memilih seorang
Indian yang sederhana untuk mewartakan kabar keselamatan kepada
satu benua, dan dengan demikian, membawa berjuta-juta rakyat asli
benua Amerika ke dalam iman Katolik. Kalaupun suatu waktu tilma
Bunda Maria dari Guadalupe lapuk dimakan jaman, mukjijat pertobatan
jutaan penduduk asli Amerika yang masuk Katolik akan selalu bersama-sama
dengan kita, sampai ke akhir jaman.
Pada tanggal 12 Desember, Gereja merayakan
pesta Santa Maria dari Guadalupe. Meskipun pesta ini bukan pesta
yang dirayakan secara universal seperti layaknya pesta Maria Yang
Dikandung Tanpa Noda setiap tanggal 8 Desember, tetapi di berbagai
negara pesta Our Lady of Guadalupe adalah suatu pesta yang dirayakan
secara besar-besaran. Gereja juga mengangkat Santa Maria dari Guadalupe
sebagai: Santa pelindung seluruh Amerika, Santa pelindung janin-janin
dalam kandungan dan sebagai Santa pelindung Filipina. Santa Maria
dari Guadalupe, doakanlah kami...
|